
"Om, tolongin!"
Akhirnya Riki pun mengulurkan tangannya pada Vanya, namun sesaat Vanya menerima uluran tangan Riki.
Dengan sengaja Riki melepasnya kembali, hingga Vanya pun kembali kehilangan keseimbangan.
Namun, kali ini Vanya mencengkram erat jas Riki. Sehingga Vanya tidak terjatuh malah berayun.
Dengan refleks tangan Riki melingkar pada pinggang Vanya, membuatnya condong pada wanita tersebut.
Riki pun sejenak terdiam menatap wajah Vanya dari jarak yang begitu dekat.
Lagi-lagi wajah Vanya mampu membius dirinya, tarapan mata Vanya benar-benar memancarkan cahaya yang meneduhkan hati.
Tanpa sadar Riki pun memajukan wajahnya dan mencium bibir Vanya.
"Om!" Pekik Vanya.
Membuat Riki tersadar dari apa yang barusan dilakukannya.
Kurang ajar!
Riki menyadari sebuah kesalahan yang terjadi dengan begitu saja.
Tidak!
Riki tidak mau jatuh hati pada seorang bocah bau kencur. Harus bisa mempertahankan apa yang sudah menjadi ketetapan yang selama ini sudah berjalan lama.
Tetapi, Riki pun tahu Vanya hanyalah sebuah mainan saja.
Jika Vanya bukan mainan di mata Riki kenapa harus memikirkan hal yang tidak-tidak?
Bukankah Riki bebas melakukan apa saja pada mainan miliknya?
Termasuk menciumnya.
Ya.
Yakin itulah alasan tepatnya, rasa aneh pada dirinya pun seketika hilang begitu saja.
Karena lagi-lagi mainan adalah alasannya.
"Dasar jahat!" Kesal Vanya.
"Apanya? Pergi sana! Kau hanya memperlambat pekerjaan ku saja!"
"Om, udah cium aku barusan! Seumur hidup baru ini aku di cium sama cowok! Mana cowoknya Om-om!" Gerutu Vanya.
Tidak pernah terpikirkan oleh otaknya, ada seorang duda lapuk yang menciumnya.
"Baru?" Riki pun kembali bertanya kepada Vanya, rasanya tidak mungkin itu adalah ciuman yang pertama kalinya.
Karena semalam saja Riki sempat menyentuh bibir Vanya, kemudian Riki mencium bibir itu.
Bibir merah merekah membuatnya merasa tertantang.
Jika bukan karena Vanya bergerak mungkin sudah **********, sayangnya Vanya bergerak dan Riki pun tersadar atas apa yang sudah dilakukannya.
Meskipun Vanya tidak tahu.
Sedangkan Vanya masih menganggap untuk yang pertama kalinya.
Membuat Riki ingin tertawa dengan lepas saat ini juga.
"Dasar gila!" Vanya pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Hampir satu jam lebih Vanya berada di dalam karnar mandi.
Untuk apa?
Tentu untuk membersihkan bibirnya, tepatnya menghilangkan bekas bibir Riki yang sempat menciumnya.
Namun saat Vanya keluar dari kamar mandi malah melihat Sela bersama dengan Andika yang berada di ruangan Riki.
Entah kapan Sela datang, mungkin Vanya yang terlalu lama di dalam kamar mandi sampai tidak tahu kapan Sela datang.
"Tante," sapa Vanya sambil memegang bibirnya yang sudah bengkak karena terlalu kuat menggosoknya.
Tapi apa yang di pikirkan oleh Sela saat melihat Vanya?
Bingung, bahkan kini beralih menatap Riki dengan penuh tanya.
Tapi sedetik kemudian kembali melihat Vanya masih dengan sejuta pertanyaan yang terus berputar di otaknya
"Riki?" Tanya Sela.
"Katanya mau cucu?"
"Iya, Tap..."
"Ya udah nyicil aja dari sekarang," jawab Riki dengan entengnya.
"Hah?" Sela benar-benar di buat hampir gila oleh Riki.
Entah kesalahan apa yang di lakukan oleh dirinya hingga bisa memiliki anak seperti Riki.
Bagaimana bisa Riki mengatakan sesuatu yang begitu besar resikonya dengan sangat gampang.
Sedangkan Riki terlihat biasa saja, lagi pula Riki mendadak usil pada Sela. Mungkin karena terlalu sering bersama Vanya, wanita aneh dan sangat lucu itu.
Dirinya memang diam saat tahu Riki terus berada dalam dunia malam bersama wanita-wanita liarnya.
Namun Sela menolak jika wanita yang kini adalah Vanya, karena dirinya merasa Vanya tidak sama dengan wanita penjual diri di luar sana.
Vanya masih terlalu kecil bahkan terlalu polos untuk masuk ke dalam dunia yang tidak ada tujuannya tersebut.
Lagi-lagi Sela meyakini jika Vanya adalah wanita baik-baik, tidak seperti apa yang di pikirkan oleh Riki.
Meskipun Riki adalah anaknya, tetapi ada rasa tidak rela Vanya tersakiti.
"Kata Mama mau cucu," jawab Riki lagi dengan entengnya, kemudian beralih menatap Vanya.
"Kemarin Mama ngomong pengen cucu benarkan?" Tanya Riki pada Vanya agar lebih jelas.
Vanya yang polos pun mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh Riki. Sebab memang itulah yang di katakan oleh Sela saat itu.
"Apa?" Semakin shock saat mengetahui Vanya menyetujui apa yang di katakan oleh Riki.
Meskipun pada kenyataannya Vanya hanya menjawab dengan apa adanya, tidak tahu ada maksud terselubung lainnya.
"Riki, jangan gila kamu! Menikah saja belum! Jangan main main kalau begitu nikahi Vanya sekarang!" Tegas Sela.
Dengan wajah paniknya Vanya pun menggelengkan kepalanya, menolak keras untuk di nikahkan dengan Riki.
Vanya masih belum memikirkan tentang pernikahan, apa lagi dengan Riki seorang duda yang selalu membuat tekanan darahnya naik.
Bagaimana jika mereka menikah, mungkin saja Vanya bisa stroke karena terlalu sering mengalami tekanan darah tinggi.
Lagi pula Vanya masih kuliah, masih ingin menikmati kebebasan yang hakiki.
Tidak ada masalah dengan Riki dan tidak lagi ada bodyguard yang di perintahkan Devan untuk mengikuti dirinya selama dua puluh empat jam.
__ADS_1
Dan untuk apa Sela meminta Riki untuk menikahi dirinya?
Dalam hati Vanya keluarga Riki sangat aneh dan juga membingungkan, tanpa jelas permasalahan pun mendadak memintanya untuk menikah dengan Riki.
"Maaf Tante, aku nggak mau!" Tolak Vanya dengan suara tegas.
"Ma, jangan aneh-aneh!" Riki pun tidak akan mau menikah dengan Vanya.
Cukup sudah trauma di masa lalu, Riki tak ingin terulang kembali dalam luka yang begitu menyakitkan hati.
Lagi pula Vanya hanya sekedar mainan baginya, setelah bosan Riki sendiri yang akan membuangnya jauh dari hidupnya.
Jadi bagaimana bisa Sela memintanya menikah dengan Vanya.
Tentu tidak!
"Kalau kalian tidak menikah kenapa malah membuat cucu untuk Mama?"
"Buat cucu?" sampai disini Vanya semakin kebingungan, bahkan terkesan tidak mengerti apa yang di maksud oleh Sela.
"Kalian pasti sudah tidur bersama!" Tebak Sela.
"Tidur bersama?" Vanya kembali bertanya, tetapi dirinya tidak berani membenarkan karena merasa malu.
Tidur bersama memang benar adanya, tapi tidak lebih.
Vanya masih diam berdebat dengan pikirannya, antara mengatakan benar atau berkilah.
"Mama pusing kalau begini!" Sela pun memilih untuk pergi dari pada terus berada dalam ruangan tersebut dan berdebat dengan dua orang anak yang sama-sama keras kepala.
"Tante," dengan cepat Vanya pun menghentikan Sela yang ingin keluar.
"Tante, aku sama Om Riki nggak ngelakuin apapun."
"Kenapa dengan bibir kamu?"
"Om Riki cium aku pas nolong aku yang hampir jatuh, ciuman itu terjadi karena nggak sengaja. Abis itu aku menggosoknya di kamar mandi, mau bersihin bibir dari bekas Om Riki. Tapi kenapa malah bengkak," Vanya pun menceritakan tentang bibirnya yang bengkak, berikut dengan penyebabnya.
Emosi Sela pun mulai meredam perlahan setelah mendengar penjelasan Vanya, andai saja tidak di jelaskan mungkin pikirannya sudah sangat buruk sekali.
"Gitu, kalau gitu Tante minta maaf. Mulal besok kamu temani Tante ke sekolah ya, sama suami Tante," pinta Sela.
"Siap Tante," Vanya pun menunjuk ibu jarinya sebagai tanda bahwa dirinya sangat siap jika di ajak ke sekolah.
"Sampai jumpa besok," pamit Sela kemudian pergi bersama dengan suaminya yang mendorong kursi roda.
"Ya Tante, hati-hati ya," Vanya terus saja tersenyum bahagia, karena Sela kini mengajaknya kembali ke sekolah.
Apa lagi jika untuk menjadi guru di sana, maka dengan senang hati Vanya menerimanya.
"Om, aku pulang dulu ya."
Tanpa mendengarkan jawaban Riki, langsung saja Vanya pergi.
Dirinya ingin pergi karena bosan terus berada di ruangan tersebut tanpa melakukan apapun, bahkan berdebat dengan Riki pun mendadak membosankan.
Vanya juga butuh sedikit angin segar untuk membuat dirinya tetap bahagia.
Jangan sampai Vanya stres karena terlalu lama berdekatan dengan Riki, duda lapuk yang selalu tersenyum aneh saat Vanya mengomel.
Riki memang hanya diam, tetapi sesaat kemudian tangannya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk terus memantau Vanya selama tidak sedang berada dalam pengawasannya.
Aneh?
Sedikit!
__ADS_1