
"Cepat sana temui calon suami mu, keburu mati kedinginan dia itu," kata Felix sambil berlalu pergi melewati Vanya yang masih memikirkan nasib Ayahnya.
Tetapi sesaat kemudian Vanya pun tersadar, kemudian melihat Felix.
"Apaan sih, ngomongnya gitu banget!" Gerutu Vanya.
Dengan segera menemui Riki yang masih berada di luar sana, benar saja ternyata Riki menggigil kedinginan.
Melihat Vanya yang menemuinya membuat Riki pun tersenyum.
"Sayang, Mas, minta maaf ya. Mas, salah. Janji nggak akan ulangi lagi," kata Riki dengan wajah penuh penyesalan.
Bahkan terlihat memohon pada Vanya agar tak lagi marah padanya.
Namun Vanya hanya diam saja menatap wajah Riki.
"Sayang," panggil Riki dengan suara pelannya berharap mendapatkan maaf.
"Masuk!"
Setelah mengatakan itu Vanya pun langsung masuk.
Sementara Riki mengangguk dengan cepat, bahkan hatinya begitu bahagia. Paling tidak saat ini Vanya sudah mau bicara padanya.
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi Riki langsung mengikut di belakang tubuh Vanya.
"Duduk, aku buatin teh hangat dulu."
__ADS_1
Vanya pun menunjuk sofa yang tertata rapi pada ruang tamu.
Lagi-lagi Riki seperti seorang anak kecil yang begitu menurut pada apapun yang diperintahkan oleh sang ibu.
Duduk manis, diam menunggu Vanya yang sedang membuatkan secangkir teh hangat.
Hingga sesaat kemudian Vanya pun kembali dan meletakkan secangkir teh hangat pada meja.
"Minum," sekalipun Vanya begitu ketus, tetapi tetap saja perhatian pada Riki.
Riki pun menurut hingga meneguk teh buatan Vanya, bahkan tanpa meniupnya sama sekali karena terlalu bahagia.
Sampai akhirnya Riki pun merasa panas dan mengipas bibirnya dengan tangan.
"Ya ampun Mas, di tiup dulu kek," kata Vanya yang merasa aneh dengan Riki.
"Terus kalau aku bilang, siram ke wajah Mas gimana? Mau disiram juga?"
"Iya, asalkan kamu nggak marah lagi sama Mas. Mas, kangen banget sama kamu," jelas Riki.
Vanya pun menunjukan wajah masamnya, rasanya masih kesal karena Riki menggendong wanita lain dihadapannya.
"Lebay!"
"Sayang," Riki pun berpindah duduk di samping Vanya, menggenggam erat tangan Vanya untuk meyakini bahwa dirinya benar-benar serius meminta maaf.
Apa yang terjadi saat ini benar-benar membuat Riki takut kehilangan Vanya.
__ADS_1
"Mas, janji nggak akan lakuin itu lagi," kata Riki lagi berharap Vanya percaya padanya.
"Aku nggak butuh janji, buktiin aja!"
"Iya, janji. Tapi, maafin Mas, ya," kata Riki lagi.
Vanya pun tersenyum kemudian mengangguk, membuat perasaan Riki pun menjadi lebih lega.
"Sayang, makasih ya. Hehe," Riki pun tersenyum puas, malam ini dirinya akan tidur nyenyak karena permasalahan dengan Vanya sudah terselesaikan.
"Tapi, janji nggak akan ulangi lagi."
"Janji."
Keduanya pun tersenyum persis seperti anak kecil yang tengah bahagia, Vanya yang meremas bajunya dan Riki yang meremas kedua tangannya.
Kemudian Riki pun menyenggol lengan bagian atas Vanya.
Perduli apa dengan keanehan, yang terpenting adalah kebahagiaan ini tidak bisa diukur dengan berlian sekalipun.
Bahagia itu sederhana, itulah kata tepatnya.
"Sayang, Mas kangen, boleh peluk nggak sih?" pinta Riki dengan suara pelannya sambil matanya melirik sekitarnya berharap tidak ada orang lain di sana.
Tetapi, tampaknya memang tidak ada, lagi pula mereka akan segera menikah dalam waktu empat hari lagi.
Hanya sekedar pelukan rasanya tidak masalah, itupun hanya karena ingin memastikan bahwa Vanya tidak lagi marah pada dirinya.
__ADS_1