
Malam pun berlalu, pagi menyapa dengan sinar matahari pagi yang menyapa. Pagi ini tampak berbeda dari pagi sebelumnya, karena ada cinta yang terucap setelah semalam saling mengungkapkan rasa. Rasa yang begitu indah penuh suka cita, siapa yang menyangka ternyata rumah tangga yang awalnya karena keterpaksaan itu bisa terbina setelah banyaknya rintangan yang menghadang. Siapa sangka pula ternyata mereka yang dulunya hanya teman kini malah menjadi teman hidup yang sejati.
"Selamat pagi Mom," sapa Alex dengan tangan yang melingkar di perut Jessica.
Jessica hanya diam tanpa menjawab, tubuhnya terasa dingin tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?" Alex pun segera bangun dan melihat wajah Jessica dengan jelas.
Pucat dengan keringat dingin yang membanjiri, merintih menahan sakit yang kian terdengar.
"Jessica, ada apa? Apa yang terjadi?" Wajah Alex kian semakin panik, ketakutan tentunya melihat Jessica.
Ini bukan kali pertama, tetapi sudah berkali-kali. Entah bagaimana caranya meyakinkan Jessica untuk mau mengikuti setiap arahan dari Dokter untuk merelakan janin dan rahimnya.
"Aku nggak apa-apa, ini cuma sakit biasa nanti juga reda."
Jessica sudah terbiasa akan sakit itu, sakit mempertahankan anaknya bukan untuk pertama kalinya. Dengan keyakinan kuat Jessica percaya bahwa dirinya mampu melawan segala resiko ke depannya.
"Aku tak tau harus melakukan apa," Alex seperti seorang pria bodoh, kepanikan membuatnya menjadi bodoh.
Bukankah dirinya adalah seorang ahli kandungan?
Tidak!
Semua itu hilang seketika saat melihat wajah pucat istri tercintanya.
"Aku nggak apa-apa, ini tidak seberapa. Aku sudah pernah berada di titik ini. Jangan khawatirkan aku."
Disaat sakit yang kian melanda Jessica masih mampu meyakinkan Alex, padahal sudah jelas dirinya sendiri tampak begitu tersiksa.
Alex pun mengangkat Jessica, membawa menuju rumah sakit agar istrinya bisa mendapatkan penanganan dengan segera. Sayangnya keadaan Jessica kian semakin memburuk, Devan sudah mengatakan mengangkat janin tersebut.
Melihat sejak satu jam di bawa ke rumah sakit sampai saat ini pun pendarahan tidak juga berhenti, keadaan semakin menyulitkan dalam tindakan lanjutan mengingat Jessica yang masih keras untuk mempertahankan janinnya.
"Janin itu sudah berusia enam bulan lebih, kemungkinan hidupnya ada. Walaupun harus dengan bantuan medis. Kamu di sini diberikan pilihan, setuju dengan tindakan kami selanjutnya atau tidak. Ingat satu hal, ada Cahaya yang masih membutuhkan kedua orang tuanya. Bukankah awal alasan mu kembali pada Alex karena Cahaya?" Tanya Devan.
__ADS_1
Jessica tampak terdiam menimbang apa yang dikatakan oleh Devan, tubuhnya terbaring diatas brankar rumah sakit dengan lemahnya.
"Lalu apa gunanya dia memiliki Ayah jika tidak memiliki Ibu!" Imbuh Devan lagi.
Degh!
Hati Jessica benar-benar sakit mendengarnya, tapi dirinya juga tidak mungkin memilih di antara keduanya anaknya.
Jika bisa Jessica lebih memilih kedua anaknya yang tetap hidup, biarlah dirinya yang tiada.
Tapi sama hal nya dengan anaknya yang tidak akan mungkin bisa tanpa Ibu mereka.
"Jessica, aku tidak sanggup kehilangan mu," kata Alex penuh air mata pilu.
Sulit sekali meyakinkan Jessica tentang perasaan takut yang tiada terkira.
"Bagaimana kami tanpa kamu," kata Alex lagi.
Semuanya begitu menyulitkan, kenapa harus memilih. Bukankah bisa untuk memiliki semuanya. Mengapa segala yang menimpa tidak membiarkan dirinya hidup bahagia bersama orang-orang tercintanya.
"Mommy!" Seru Cahaya memeluk lengan Jessica, anak itu tampaknya ketakutan melihat wajah pucat Jessica.
Ketakutan melihat Jessica menahan rasa sakit yang tiada terkira. Meskipun tidak mengerti sepenuhnya entah apa penyebabnya.
"Jessica aku mohon," pinta Alex dengan segala kesedihan nya.
Jessica terdiam sambil melihat wajah Cahaya yang penuh dengan air mata.
"Mommy nggak akan tinggalin Aya kan? Tanya Cahaya.
Jessica pun tersenyum, dengan tangannya yang lemah mengelus kepala Cahaya.
Sssstttt......
Jessica meresapi rasa sakit yang kembali terasa, sesaat kemudian ada cairan yang keluar.
__ADS_1
"Siapkan ruang operasi!" Titah Devan pada perawat yang sedari tadi hanya menunggu perintah darinya.
"Devan, tolong selamatkan anak ku!" Pinta Jessica.
"Berdoalah untuk yang terbaik!" Devan pun segera keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Alex dan Cahaya di sana.
Alex tiada hentinya menangis ketakutan, semalam keduanya masih begitu berbahagia. Siapa sangka pagi ini ternyata begitu menakutkan. Andai saja malam tidak berganti dengan siang, Alex pasti akan terus merasa bahagia disaat ini. Walaupun gelapnya malam terus menyelimuti.
"Alex, aku tidak apa-apa," bibir Jessica terus saja meyakinkan sekitarnya, tidak akan ada yang terjadi.
Lantas bagaimana dengan orang-orang sekitarnya yang sudah jelas tahu seperti apa keadaannya.
Rara pun tiba setelah mengetahui keadaan adiknya, sesampainya di rumah sakit seketika menghambur memeluk Jessica. Menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa takut yang kian terasa semakin mencekam.
"Jessica, kenapa semua kembali lagi pada titik ini? Kenapa kamu selalu tega membuat aku ketakutan setengah mati, jika kamu tiada aku tinggal sendiri, tidak ada keluarga tempat ku untuk bersandar lagi," kata Rara dengan air mata yang terus bercucuran tanpa hentinya.
Jessica baru tahu ternyata begitu banyak orang-orang yang menyayanginya menginginkan nya tetap ada.
Sungguh Jessica merasa di cintai dan tidak ingin berpisah dari yang lainnya.
"Ruangan operasi sudah di persiapkan Dok, Ibu Jessica harus segera kami bawa," kata seorang perawat dan ada beberapa perawat lainnya yang di perintahkan untuk membawa Jessica menuju ruang operasi.
Alex pun mengangguk, mengijinkan istrinya untuk segera di bawa ke ruang operasi walaupun hati terasa begitu sesak. Ada kemungkinan buruk yang jauh lebih besar saat berada diruang operasi nanti. Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi tangan Alex tampak erat menggenggam tangan Jessica. Semua rasa tercampur menjadi satu, takut, sakit, menyesal.
"Aya ikut Oma ya, Mom tidak akan kenapa-kenapa," Puput segera membawa Cahaya pergi bermain, tidak ingin bocah malang itu terus kebingungan dan malah trauma melihat apa yang sedang terjadi.
"Mom, gimana Oma?"
"Mom, nggak apa-apa, cuma demam aja, ada Daddy yang menemani," bohong Puput agar Cahaya segera menurut dan pergi bersamanya. Walaupun Puput juga takut jika ternyata operasi gagal dan Jessica nantinya harus tiada, entah penjelasan seperti apa yang diberikan pada Cahaya selanjutnya.
"Ya Oma, tapi nanti kita balik ke sini lagi kan?" Cahaya tampak berat hati meninggalkan Jessica, menatap brankar sang Mommy yang terus melaju menuju ruangan yang membuat Cahaya bertanya-tanya dan belum mengerti sepenuhnya. Yang diketahuinya saat ini Jessica tengah kesakitan, dan ikut menangis saat melihat Alex yang juga menangis. Membuat takut tentu saja, bagaimana pun Cahaya takut kehilangan kedua orang tuanya.
"Iya, nanti kita balik lagi ke sini. Sekarang Aya, harus nurut sama Oma, soalnya tadi Mom bilang begitu."
"Iya Oma, Aya nurut kok."
__ADS_1