Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Coba pegang dan perhatikan!


__ADS_3

"Adnan!"


"Apa?"


"Aku bisa melaporkan mu, pada polisi!"


"Benarkah?"


Adnan terkekeh geli mendengar apa yang di katakan oleh istrinya tersebut.


Bagaimana bisa istrinya itu melupakan status mereka saat ini.


Lagi pula bukankah itu adalah hal yang wajib terjadi jika sudah menikah?


"Adnan, geli!" Rena menyingkirkan tangan Adnan yang semakin menjadi-jadi.


"Tapi, geli-geli nikmat itulah yang di cari," ujar Adnan dengan santainya.


"Maksudnya?"


"Ya begitulah," Adnan terus tersenyum melihat kekonyolan Rena.


"Kamu mau tidak aku bantu soal yang tadi?"


"Iya, mau!" Jawab Rena cepat.


Siapa yang tidak mau menyelesaikan pendidikannya, Rena pun sudah bosan terus-menerus harus memikirkan tugas-tugas menumpuk.


"Ya sudah, kalau begitu. Mas, butuh suntikan semangat dari kamu," goda Adnan sambil menindih Rena.


"Adnan! Kamu mau apa?" Peluh pun mulai bercucuran, udara terasa begitu sulit untuk di dapatkannya.


Tak pernah sedekat ini membuatnya benar-benar tidak nyaman, tanpa jarak sama sekali.


"Adnan?" Rena semakin panik saja saat Adnan melihatnya dengan senyuman penuh misteri.


Sesaat kemudian bibir Adnan pun mencium kecil bibirnya.


Rena benar-benar shock dengan apa yang dilakukan oleh Adnan.


Hingga mendorong dada Adnan dengan semua tenaga yang dimilikinya, namun gagal dan sama sekali tak berarti apa-apa untuk pria itu.


Hingga akhirnya Rena pun menendang bagian utamanya.


Benar saja, Adnan langsung bangkit dari atas tubuh Rena. Kemudian memegang miliknya dengan rasa sakit yang begitu luar biasa.


"Rena, sakit sekali," rintih Adnan.


Sedangkan Rena pun segera meloncat dari atas ranjang, menatap Adnan penuh kemarahan.


"Mampus! Kamu pikir aku wanita murahan? Aku ini punya harga diri!" Tegas Rena.


Tetapi bagaimana dengan Adnan saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rena barusan.


Shock.


Tentu, bagaimana bisa istrinya itu berbicara soal harga diri.

__ADS_1


Harga diri seperti apa lagi yang dimaksud oleh Rena saat ini mereka sudah menikah.


"Rena, aku ini suami mu! Bukankah aku sudah menikahi mu!" Kata Adnan agar Rena mengingat status mereka.


Rena pun terdiam sejenak, kemudian menatap wajah Adnan dengan bingung. Tetapi sesat kemudian dia tersadar dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Aduh," Rena mendesus.


Begitu dekat dengan Adnan membuatnya kehilangan akal sehat, sehingga tak dapat berpikir jernih. Contohnya, melupakan Adnan adalah suaminya.


"Adnan, maaf. Aku lupa, aku benar benar minta maaf," Rena pun merasa bersalah, kemudian mencoba untuk mendekati Adnan. Berharap mendapatkan maaf dari suaminya tersebut, bagaimana jika orang tuanya tahu apa yang sudah dilakukannya saat ini.


"Sudahlah!" Adnan yang kesakitan pun merasa kesal akan apa yang dilakukan oleh Rena padanya.


Tetapi percayalah itu hanya sebuah strategi seorang Adnan, lagi pula tendangan Rena barusan tak benar-benar mengenai senjata keramatnya. Tetapi kesempatan harus dimanfaatkan, bukankah dirinya juga sudah ingin merasakan menjadi seorang pria beristri yang sesungguhnya? Kini sudah saatnya melepaskan keperjakaan yang sudah dijaganya sejak lama itu.


"Adnan, maksudnya. Mas Adnan, aku minta maaf ya. Tolong maafkan aku," Rena mencoba untuk menggapai tangan Adnan. Tetapi Adnan menepisnya dengan cepat, seakan benar-benar tidak dapat mentolerir apa yang dilakukan oleh Rena barusan.


'Ayolah Adnan, ini kesempatan. Kamu tidak bisa menunggu lebih lama lagi,' Adnan pun membatin, menyemangati diri sendiri untuk bisa mendapatkan tujuannya.


Sedangkan Rena semakin ketakutan, merasa bersalah sudah melakukan kekerasan terhadap suaminya sendiri. Hingga tidak ingin putus asa, Rena pun mencoba untuk memberanikan diri bergelayut manja pada lengan Adnan.


"Mas Adnan, maaf ya. Janji deh, nggak ngulangin lagi," Rena berbicara dengan nada suara yang lembut, berusaha untuk mendapatkan maaf dari Adnan.


"Aku sangat kecewa, kau sebagai istri tidak tahu kewajiban mu. Bagaimana kalau Umi tahu," kata Adnan.


"Mas," Rena semakin pusing, jika sudah menyebutkan Reyna tentunya akan menyeretnya pada sebuah hukuman, Reyna tak akan diam saja jika tahu dirinya tak menurut pada Adnan.


"Mas, aku belum terbiasa aja. Lagian tadi aku lupa, karena terlalu tegang. Maaf ya, jangan bilang ke Umi. Aku bisa di cekik, kalau aku mati Mas mau jadi duda?" Tanya Rena dengan senyum kecut.


'Ya ampun, ternyata hanya usianya yang tua pikirannya hampir sama dengan Vanya, bocah-bocah,' batin Adnan.


'Apa lagi ini?' Adnan semakin membatin, akibat apa yang dikatakan oleh Rena.


"Mas," Rena menggerakkan tangan Adnan, memohon maaf pada suaminya itu. Tapi sudah terlanjur, Adnan harus memanfaatkan keadaan ini.


Yang pastinya untuk saat ini Rena tak bisa lagi lolos darinya.


Adnan sudah tak lagi sanggup, apa lagi saat Rena kini bergelayutan manja di lengannya.


Tidakkah istrinya itu menyadari ada dua benda kenyal yang menempel sempurna pada lengannya. Sedangkan kedua tangannya sudah gatal ingin memegang kedua benda tersebut.


"Tapi ini sakit sekali," Adnan pun duduk di sisi ranjang.


Tetapi, Rena pun ikut duduk di samping suaminya tersebut.


"Maaf Mas."


"Atau kamu tidak sayang pada Mas?"


"Sayang," jawab Rena dengan cepat.


"Tadi aku lupa."


"Buktinya kamu lupa aku ini suami mu."


"Bukan gitu juga, aku cuma tegang aja. Kitakan nggak pernah sedekat ini."

__ADS_1


"Lalu kamu maunya seperti apa? Kita tinggal di rumah masing-masingkah, kemudian kamu dengan sesuka mu. Mas, juga demikian?"


"Mas, nggak gitu. Maaf."


"Ini sakit sekali, coba lihat!" Adnan pun membuka kancing celana menunjukan pada Rena.


Rena yang tidak mengerti ikut melihat, hingga sesaat kemudian menyadari apa yang dia lihat.


Glek!


Rena meneguk saliva, kemudian mengalihkan pandangannya dengan cepat.


Untuk pertama kalinya Rena melihat benda tersebut, bahkan secara langsung tanpa ada penghalang.


Membuat sekujur tubuhnya gemetaran, diiringi keringat dingin yang kian bercucuran.


"Kenapa?" Tanya Adnan menyadari perubahan sikap Rena.


"Aku barusan liat apa?"


"Itu benda yang kau tendang barusan, rasanya sakit sekali."


"Adnan," Rena benar-benar shock saat ini bahkan untuk berbicara saja tak bisa, bibirnya terasa sulit untuk digerakkan.


"Sakit sekali, ada benjolan pada ujungnya. Coba lihat!"


"Lihat?" Rena masih menjadi robot, sebab seluruh tubuhnya terasa kaku.


"Iya, kita sudah menikah. Itu adalah hal yang biasa bukan?"


"Adnan..."


Tatapan mata Adnan membuat nyali Rena menciut, tetapi apakah mungkin harus melihat benda tersebut lagi.


"Ayo lihat! Atau mungkin aku akan mengatakan bahwa kau tidak mau melayani aku layaknya suami pada Umi!"


"Jangan!"


"Ayo lihat!"


"Adnan!"


"Adnan?"


"Maaf, maksudnya Mas."


"Lihat!"


"I... iya," Rena pun kembali mencoba untuk melihat benda aneh tersebut, sebab benda itu mendadak mengeras.


Glek!


Lagi-lagi Rena melihatnya membuat Adnan menahan tawa melihat ekspresi wajah aneh Rena.


"Lihat ada benjolan? Kau sungguh sangat keterlaluan!"


"Mana ada?"

__ADS_1


"Coba pegang dan perhatikan!"


"Pegang? Perhatikan?" Rena bisa mati berdiri saat ini, dirinya semakin dibuat jantungan oleh ulah Adnan.


__ADS_2