Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Merasa heran.


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Felix yang melihat wajah Riki yang tampak begitu murung.


Riki yang duduk di teras pun melihat Felix yang menghampiri dirinya.


Kemudian kembali mengusap wajahnya hingga beberapa kali.


Felix pun memilih untuk duduk di samping Riki, di siang hari yang begitu terik ini malah melihat wajah kusut calon suami adiknya itu yang duduk di teras rumahnya.


Bukankah seharusnya bahagia karena pernikahan sudah di depan mata.


"Kau kenapa? Apa telinga mu rusak, aku bertanya!" Kesal Felix karena Riki hanya diam saja.


"Kau ingat Sandra?" Tanya Riki tiba-tiba pada Felix.


"Sandra?" Tanya Felix yang berusaha untuk mengingat nama tersebut.


Tetapi sepertinya tidak ada yang bisa diingat oleh Felix selain Cahaya.


"Tidak, kecuali Cahaya. Itu, baru aku ingat," kata Felix sambil melihat wajah Riki yang kesal.


Riki pun kesal dan menatap Felix dengan masamnya.


"Aku lupa, benar-benar lupa," kata Felix sambil terkekeh kecil melihat wajah kesal Riki.

__ADS_1


"Kalau Faiz?"


"Faiz Angga Pratama?" Tanya Felix.


"Iya, tanpa sengaja Vanya dan adiknya Faiz bertabrakan di Mall. Kaki Sandra terkilir, bahkan sepatunya rusak," kata Riki tampak semakin tidak bersemangat saja.


"Lalu?" Tanya Felix kembali, sebab Riki bercerita tampak hanya setengah-setengah saja.


Sementara di sana di sebutkan nama adikbkesayangannya, hingga membuatnya begitu penasaran ingin mendengarkan kelanjutannya.


"Sebagai seorang manusia yang baik, aku menolong Sandra. Mengantarkan sampai di rumahnya, karena aku tahu dia bertabrakan dengan Vanya," jelas Riki lagi.


"Kemudian?" Felix masih menunggu kelanjutan dari apa yang diceritakan oleh Riki.


Memikirkan Vanya yang sedang begitu kesal pada dirinya.


"Kalau tidak salah, kau pernah mengatakan bahwa Mamanya pernah menjodohkan kalian bukan?" Felix pun mengingat kembali saat-saat Riki mengatakan itu padamu beberapa bulan yang lalu.


"Ya, waktu itu. Waktu dia pernah nolong Mama aku yang tiba-tiba jatuh pingsan di jalanan raya, Sandra yang menolong. Sebenarnya aku menolong Sandra juga karena ingat dia pernah menolong Mama"


Riki mengacak rambutnya, memikirkan nasib percintaannya dengan Vanya yang saat ini sedang menghadapi goncangan karena sebuah ujian.


"Iya, aku tahu kalau yang itu pun," saat itu bahkan Felix sendiri yang menemani Riki menuju rumah sakit, saat diberitahukan tentang Sela yang tiba-tiba jatuh pingsan.

__ADS_1


Sejak saat itu pula Riki tidak pernah membiarkan Mamanya pergi sendiri, jika dirinya tidak bisa menemani Sela maka Papanya yang menemani. Dan begitu seterusnya, Papa dan anak itu terus bekerja sama untuk menjaga Sela.


"Felix, aku harus bagaimana? Aku sangat takut Vanya marah."


Felix malah merasa kasihan pada Riki, tampak jelas dari wajah sahabatnya itu begitu bersedih.


"Kau pulang saja dulu."


"Aku di sini saja, kalau perlu aku tidur di teras ini. Aku sangat takut dia marah."


"Kau mau tidur di sini?" Tanya Felix sambil menahan tawa.


"Kau tidak percaya?"


"Ya, buktikan, ya," Felix pun segera masuk ke dalam rumah.


Sementara Riki hanya di luar saja, Felix yakin Riki tidak akan melakukan hal tersebut.


Namun, saat malam harinya Riki pun masih saja berada di teras.


Menunggu sampai Vanya mau menemuinya, dan Riki pun berjanji tidak akan melakukannya lagi.


Bahkan Felix pun merasa heran ternyata apa yang dikatakan oleh Riki benar terjadi.

__ADS_1


__ADS_2