Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Aku mencintainya.


__ADS_3

"Om, aku mencintai Vanya," satu kalimat yang akhirnya keluar dari bibir Riki.


Pria itu dari tadi tampak diam saja, kali ini tidak. Bibirnya yang berbicara sendiri. Meskipun perasaannya saat ini sangat tidak bisa mengerti keadaan yang mengejutkan ini.


Vanya adalah anak Devan?


Lagi-lagi Riki hanya bisa mengusap wajahnya sendiri mengetahui kenyataan ini. Dari awal hanya menepis, tapi apa? Ternyata semuanya adalah kebenaran.


"Vanya, katakan apakah kamu sudah pernah tidur bersama dengan Riki, seperti apa yang dikatakan oleh Kakak mu?" Kali ini Devan sendiri yang bertanya kepada putrinya meskipun kini dirinya berdiri tepat di depan Riki.


Ingin mendengar bukti bahwa apa yang dikatakan oleh putra sulungnya benar atau tidak.


Vanya tentunya tidak berani untuk berucap untuk pertama kalinya Vanya melihat wajah Devan yang penuh dengan kemarahan yang begitu mengerikan.


Kepalanya hanya tertunduk tanpa berani membalas tatapan mata Ayahnya.


"Vanya, Ayah masih menunggu jawaban mu!" Kata Devan lagi sebab putrinya terlihat takut untuk berbicara.


Dimana Vanya yang cerewet dan selalu membantah bukankah selama ini ada sejuta alasan setiap kali mencoba menentang apapun yang dikatakan oleh dirinya?


Kenapa kali ini hanya diam saja? Apakah yang dikatakan oleh Felix benar adanya.


"Jawab!" Bentak Devan hingga Vanya tersentak kaget.


"Ayah, aku bisa jelasin. Nggak gitu juga..." Vanya pun terdiam saat tatapan mata Devan tertuju pada dirinya. Bahkan tanpa bicara sama sekali Vanya sudah tahu kemarahan yang terpancar dari wajah Devan.


"Jawab iya atau tidak?" Tegas Devan.


Devan mengepalkan tangannya. Jika saja jawabannya iya, maka saat ini Riki hanya akan tinggal nama saja.


Hingga akhirnya Vanya pun mengangguk, Devan pun menganggap itulah jawabannya.


Seketika itu tidak ada lagi yang dikatakannya, karena kali ini yang berbicara adalah tangannya.


Tangan Devan menarik kerah kemeja Riki, buku-buku jarinya terlihat bermuncalan seiring dengan kekecewaan.


"Om, aku mencintainya," kata Riki dengan yakin.


Apakah Devan perduli dengan kata itu? Tidak!


Bahkan saat ini Devan langsung menghajar Riki tanpa hentinya.


Saat itu Riki hanya diam saja menerima apapun yang ingin dilakukan oleh Devan, tapi tidak dengan Vanya.


Hingga tiba-tiba saja Vanya melindungi Riki, beruntung Devan masih bisa menahan tangannya. Jika tidak maka punggung putrinya itu mungkin sudah patah.

__ADS_1


"Mas!" Teriak Nayla yang ketakutan, dirinya takut tangan Devan yang begitu kasar mengenai putrinya.


Karena apapun yang saat ini terjadi tentunya Nayla adalah seorang ibu yang ingin anaknya baik-baik saja.


Devan pun terpaksa harus menahannya karena tidak ingin anaknya yang menjadi korban hantaman kasarnya.


"Om, nggak apa-apa kan?" Tanya Vanya panik melihat wajah Riki yang kini sudah babak belur.


Riki hanya tersenyum melihat wajah Vanya yang begitu panik, untuk apa Riki takut sementara kekhawatiran seorang wanita bocah yang dicintainya itu terlihat jelas.


Sebab dengan demikian artinya Vanya juga menyayangi nya, tidak ingin dirinya tersakiti.


"Vanya!" Terdengar suara Devan yang memanggil putrinya yang masih saja begitu dekat dengan Riki.


Jika biasanya suaranya tampak lembut dengan sejuta kasih sayang, maka tidak dengan kali ini.


Hingga akhirnya tangan Devan sendiri yang menarik Vanya agar menjauh dari Riki.


"Ayah, sakit," untuk pertama kalinya pula Devan memegang tangan putrinya dengan kasar. Membuat Riki merasa kasihan dengan segera bangkit kembali.


"Om, jangan salahkan dia. Karena, aku yang bersalah," kata Riki.


"Jelas! Bahkan, kau sudah kurang ajar pada putriku! Apa kau pikir dia bisa kau jadikan pemuas mu?" Tanya Devan.


"Aku mencintainya, Om."


"Bukankah kau yang mengatakan bocah yang sedang dekat dengan mu hanyalah mainanmu saja?"


"Iya, awalnya memang begitu. Tapi, sampai akhirnya aku yakin mencintanya dan ingin menikahinya!" Jelas Riki.


"Jangan pernah bermimpi!"


"Felix, aku tulus mencintainya. Aku tidak main-main untuk kali ini!"


"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"


"Ayah, kenapa aku nggak boleh menikah dengan Om Riki?" Kali ini Vanya yang kesal sebab Devan tampak menentang keras hubungannya dan Riki.


"Vanya, kenapa kamu murahan sekali? Kenapa kamu tega melukai hati Bunda? Kenapa karena uang kamu mau tidur dengan Riki?" Tanya Nayla sambil mengusap dadanya.


Semua penjelasan Felix sangat mencengangkan, bahkan kata itu begitu terngiang-ngiang di kepalanya. Sebab selama ini mereka selalu hidup dalam keadaan tidak pernah kekurangan. Bahkan tidak menyangka anaknya bisa melakukan hal serendah itu.


"Bunda, aku sama Om Riki nggak ngelakuin apa-apa. Tapi, kalau tidur bareng memang iya, tapi nggak lebih," Vanya pun mendekati Nayla, berusaha untuk menenangkan hati Nayla yang tampak begitu terluka dengan apa yang dilakukannya selama ini.


Vanya benar-benar tidak pernah menyangka semuanya akan serumit ini, semuanya akan sesulit ini.

__ADS_1


Karena apa?


Karena tidak ada niat dari awal untuk menjual dirinya, semuanya terjadi dengan begitu saja. Bahkan perlahan cinta pun bertahta hingga ingin memutuskan untuk bersama.


Namun siapa sangka justru apa yang terjadi kini menjadi boomerang, menjadi pemisah yang siap untuk membuat keduanya memiliki pembatas.


"Bunda kecewa sama kamu," air mata Nayla terus saja tumpah ruah, bahkan Cahaya sampai memberikan mineral agar membuat keadaan Nayla menjadi lebih baik.


"Bunda, maaf....." mata Vanya pun berkaca-kaca, dirinya benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi.


"Aku nggak pernah ngelakuin hubungan suami istri sama Om Riki, beneran," tambah Vanya ingin meyakinkan bahwa apa yang dipikirkan semua orang tentang dirinya dan Riki tidak benar.


"Tidak mungkin, mana ada orang yang tidur seranjang tidak melakukan apapun!" Kata Felix menepis semuanya.


"Vanya, tidak berbohong Felix. Kami tidak melakukannya, aku mencintainya. Aku tidak akan merusaknya sebelum menikahinya," kata Riki.


"Ya, Kak. Aku memang pernah tidur bareng tapi nggak ada yang kayak Kakak lakuin sama Kak Aya sebelum menikah itu," kata Vanya dengan polosnya.


Tidak ada berniat menyindir sama sekali, semuanya terucapkan begitu saja. Karena posisinya saat itu Felix sudah tidur dulu dengan Cahaya barulah menikah. Tanpa disadarinya apa yang dikatakan oleh bibirnya malah semakin membuat amarah Felix membuncah. Karena saat itu kejadiannya memang ada kesalahpahaman, tepatnya Felix berpikir Riki dan juga Cahaya sudah berkhianat terhadap dirinya.


Bukan dari awal sudah berbuat kotor baru menikah. Wajah Felix pun memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya.


Tapi bukankah seharusnya dirinya merasa lebih baik? Justru dengan begitu Vanya masih suci tanpa terkotori sama sekali.


Namun, tidak kenyataannya semua malah semakin memanas.


"Kurang ajar!" Lagi-lagi Felix menghajar Riki tanpa hentinya.


"Kurang ajar!"


Lagi-lagi Riki yang menjadi sasaran amukan Felix, sebab saat dirinya menodai Cahaya berawal karena Riki pula. Kepala Felix benar-benar tidak bisa lagi berpikir jernih karena kebencian terhadap Riki yang kian membuncah, bibir Riki sendiri yang mengatakan semuanya, apapun yang terjadi dengan Vanya, SEMUANYA.


"Kak!" Seru Vanya panik.


"Masuk kamar!"


Vanya pun akhirnya pergi ke dalam kamarnya, membawa rasa kecewa yang begitu luar biasa.


Meskipun sebenarnya dirinya tidak ingin meninggalkan Riki di sana.


Tapi wajah Felix dan Devan pun tidak kalah mengerikan.


Lantas bagaimana dengan Riki setelah itu? Apakah masih bisa pria itu bernapas dengan baik setelah semua ini? Semuanya memang sulit untuk dimengerti dan di di cerna oleh akal sehat.


Tapi di satu sisi Felix tahu siapa Riki, seperti apa kurang ajar nya seorang Riki.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lainnya Riki sudah sangat mencintai Vanya, wanita itu benar-benar mengalihkan dunianya.


Tidak ada lagi yang bersinar di matanya selain Vanya, bahkan sekalipun itu cahaya matahari yang bersinar terang.


__ADS_2