Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mas Adnan!


__ADS_3

"Bagaimana skripsi mu?"


"Puyeng, bantuin ya," Rena pun menangkup kedua tangannya, berharap Adnan mau membantunya.


Adnan pun mengangguk setuju, apa saja jika untuk Rena pasti akan di lakukan olehnya.


Apa lagi tujuannya menjadi dosen adalah Rena, andai saja tahu mungkin dirinya sudah di ejek habis-habisan oleh Rena karena begitu bersemangat ingin mendekati.


"Kamu ikut aku ke kantor, ya."


"Tapi aku harus balik ke kampus."


"Ngapain? Dosen kamu di sini!"


"Oh, iya," Rena memang aneh, apa lagi sejak kemarin di nikahi oleh Adnan.


Mungkin situasi yang baru ini masih membutuhkan waktu untuk bisa menempatkan diri.


Namun, entah sampai kapan. Tetapi, semua memang sangat mendadak. Hingga benar-benar membutuhkan waktu untuk melakukan banyak pendekatan. Saling mengenal layaknya seorang suami istri pada umunya, bukan hanya sekedar sahabat saja seperti dulunya. Canggung yang kini menjadi musuh terberat bagi keduanya.


"Kamu ini ada-ada saja."


Adnan pun mengulurkan tangannya pada Rena, dengan ragu Rena pun menerimanya. Hingga bangkit dari duduknya dan berjalan di samping Adnan.


Keduanya menuju kantor, Adnan masih memiliki beberapa pekerjaan di sana.


Semuanya sempat terhenti saat mendapatkan panggilan telepon dari Nanda mengenai Rena yang mendadak jadi pelayan di kantin.


Apa lagi membawa istri bekerja untuk pertama kalinya sungguh membuatnya merasa lebih baik, pekerjaan yang berat pun akan terasa ringan dengan sendirinya.


Setiap hari juga tidak masalah sepertinya, apa lagi saat masih menyandang pengantin baru.


Rena pun memasuki ruang kerja Adnan, mengedarkan pandangannya memperhatikan ruangan yang dimasukinya untuk pertama kalinya.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, ruangan ini sangat tidak berwarna. Seperti pemiliknya." Celetuk Rena.


"Kan ada kamu yang mewarnainya," papar Adnan.


Rena pun menggigit bibir bawahnya menahan senyuman, sedangkan hati semakin tidak karuan. Belum lagi denyut jantung yang semakin kencang.


"Merah sekali," Adnan menunjukkan pipi Rena yang merah merona.

__ADS_1


Mungkin saja akibat sedikit godaan kecilnya, tetapi jika pun iya tentunya akan sangat membahagiakan. Bahagia ingin terbang kesana sini, dengan awan yang begitu indahnya.


"Apaan sih!" Rena pun duduk di sofa, kemudian mengambil ponselnya


"Bantuin skripsi aku dong"


Adnan memilih duduk di kursi kebesarannya tanpa memperdulikan Rena.


Rena menyadari kesalahannya, apa lagi yang diharapkan oleh suaminya itu selain panggilan yang membuat jantung berdebar.


"Mas Adnan," panggil Rena dengan ragu.


Namun terdengar manis di telinga Adnan dan membuatnya senyum-senyum. Perlahan bangkit dari duduknya seketika menghampiri Rena.


Duduk manis di samping istrinya itu, tapi sesaat kemudian merebahkan tubuhnya pada sofa dan menjadikan paha Rena sebagai bantal.


"Kau itu akan sangat manis bila ada maunya."


Glek!


Apa ini?


Apa yang dilakukan oleh Adnan sungguh sangat menantang, bahkan lebih horor dari film horor yang selama ini begitu dihindarinya karena dirinya akan sangat ketakutan.


Sedangkan Rena memilih diam, takut Adnan tidak mau membantu skripsi nya. Sedangkan dia sangat membutuhkan Adnan, dirinya ingin semuanya segera selesai dan secepatnya wisuda.


Tak perlu lagi memikirkan kuliah yang membuatnya begitu pusing.


"Kamu tidak nyaman?" Adnan pun bangkit dari tidurnya, memilih duduk di samping Rena.


"Jangan liatin aku begitu!" Rena mendadak salah tingkah karena tatapan Adnan yang begitu meneduhkan hatinya.


Meneduhkan sekaligus membuat panas dingin, sekalipun AC menyala dengan baik.


"Memandangi wajah istri itu adalah keharusan, karena yang dilarang itu memandangi istri orang!"


"Kamu apa sih! Udah, ah kapan skripsi aku kelar kalau begini!" Rena tak ingin terus merasa tegang, sehingga memilih untuk membicarakan skripsi.


"Ada bayarannya tidak?"


"Bayaran?"


"Iya, kiss mungkin sekali," kata Adnan.

__ADS_1


"Ish! Adnan!" Rena memukul lengan bagian atas suaminya itu dengan refleks, karena benar-benar tidak kuat dengan godaan itu.


"Hehe," Adnan tersenyum melihat wajah istrinya yang merasa malu.


Bahkan mungkin terkejut mendengar apa yang dikatakan olehnya.


"Kamu mesum banget sih!"


"Sedikit, tidak banyak!" Mengkedipkan sebelah matanya tersenyum menggoda Rena.


"Dasar genit!"


Adnan pun mencolek Rena.


"Apaan sih!"


"Kamu makin marah makin cantik!"


"Adnan!"


"Aku tidak akan membuat skripsi mu!"


"Hehe," Rena pun tersenyum kecil pada Adnan.


"Mas Adnan!!"


"Ahahhaha," Adnan semakin gemas melihat tingkah Rena saat sedang merayu dirinya, rasa canggung dan juga cinta berpadu menjadi satu.


Tetapi Adnan memahaminya, sebentar lagi pasti Rena akan terbiasa.


Seperti saat ini posisi Rena sangat tidak nyaman.


"Kalau begitu buatkan aku kopi."


"Kok kopi sih?"


Adnan diam dengan menarik napas panjang membuat Rena pun segera berdiri.


"Ya, sudah. Tunggu di sini, setelah itu bantuin aku ya," Rena tersenyum manis berharap kali ini Adnan tak lagi menggodanya.


"Iya, sayang!"


"Bunda!" Rena pun berlari keluar dari ruangan Adnan, kesal pada lelaki yang sayangnya adalah dicintainya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2