Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Entah apa yang harus dilakukannya.


__ADS_3

"Ini serius?" Nayla pun ikut panik melihat Rima menahan sakit.


"Bawa ke UGD saja," kata Devan memberikan saran. Dengan cepat Aditya mengangkat tubuh Rima, membawanya menuju UGD.


Rima pun terus memegangi tangan Aditya, sambil merasakan rasa sakit yang kian terasa.


"Anda mau apa?" Aditya menahan seorang Dokter yang ingin memeriksa keadaan istrinya.


Dokter tersebut pun bingung, bertanya-tanya penyebab Aditya menghentikan dirinya yang ingin memeriksa pasien yang ada di hadapannya.


"Aku tidak mau Dokter laki-laki, harus Dokter wanita!"


Rima mengusap wajahnya, saat seperti ini pun suaminya itu masih saja cemburu.


"Tapi ini sudah menjadi pekerjaan saya Bapak," kata Dokter tersebut berharap Aditya mengerti.


"Kamu pikir saya bodoh? Saya juga Dokter! Bedanya bukan Dokter kandungan!" Tegas Aditya.


"Dok, mohon maaf. Sebaiknya Dokter wanita saja," Devan pun ikut bersuara karena dirinya tahu Rima harus ditangani sesegera mungkin


"Baik," Dokter tersebut pun mengangguk, kemudian memanggil seorang Dokter wanita untuk memeriksa Rima.


"Sudah pembukaan empat Bu," jelas sang Dokter tersebut.


Dokter wanita yang memeriksa keadaan Rima.


"Pembukaan empat?" Aditya terkejut mendengarnya, mungkin saat berada diperjalanan menuju Bali Rima sedang mengalami pembukaan.


"Wah, apa tidak ada yang terasa?" Tanya Nayla juga terkejut mendengarnya.


"Dari tadi memang tidak nyaman, tapi puncaknya waktu lihat Reyna dan Nanda. Semakin melihat kemesraan mereka perut ku semakin sakit," kata Rima.


"Hehe," Nayla terkekeh geli mendengarnya.


"Bahkan anak yang di kandung mu saja kesal melihat mereka, apa lagi aku," kata Nayla sambil geleng-geleng kepala.


"He'um," Rima pun mengangguk setuju.


"Aku harus balik ya, soalnya Vanya masih kecil banget di tinggal sama Mama. Tapi setelah dia lahir, hubungi aku segera ya, lagian Mama sama Tante Arini yang mau ke sini. Jadi, gantian," pamit Nayla sambil mengelus perut Rima.


Rima pun mengangguk sebab Vanya juga masih terlalu kecil jika ditinggal pergi terlalu lama.


"Iya, nggak apa-apa kok. Kasihan Vanya."


"Nanti kalau sudah lahir, langsung hubungi aku. Aku akan langsung berangkat ke sini lagi."


"Pasti."


Nayla pun berpamitan untuk pulang, sebab Ana terus menerus menghubungi untuk segera pulang. Karena putrinya sedang rewel, membuat perasaan Nayla pun menjadi risau.

__ADS_1


Rima menutup matanya, menahan sakit yang kian semakin terasa.


"Rima, kamu baik-baik saja?" Aditya merasa kasihan pada Rima yang terus saja menahan sakit, Rima pun mengangguk, dirinya yang duduk di sisi brankar pun memeluk Aditya yang berdiri di hadapannya.


Rima memeluk dengan erat, meresapi rasa sakit yang terus saja menyerangnya. Aditya pun mengelus bagian belakang Rima, berharap ada sedikit rasa nyaman pada istrinya.


"Mas, sakit banget," rintih Rima sambil menangis, bukan kesal tapi rasa sakitnya begitu luar biasa hingga membuatnya tidak dapat menahan air mata.


Rima yang terbiasa keras kepala kini mendadak menjadi cengeng, setelah rasa sakit tersebut menghantamnya.


"Ya, sabar ya. Tidak akan lama," Aditya pun memberikan semangat pada Rima, dirinya dapat melihat betapa Rima menahan sakit yang luar biasa. Memeluk Rima, mengusap air mata istrinya. Dan mencium keningnya dengan penuh cinta. Setelah Rima dipindahkan ke ruang bersalin, Aditya pun terus menemani Rima.


"Mas, sayang beneran nggak sih sama aku?"


"Kenapa bertanya begitu?"


"Kenapa Mas nggak pernah panggil aku pakai sayang?"


"Kan nggak harus panggil sayang baru sayang kan?" Tanya Aditya kembali.


"Mas ish! Nggak ada romantis nya!" Kesal Rima, walaupun begitu masih memeluk perut Aditya, Rima yang duduk dengan posisi masih di sisi ranjang, dan Aditya berdiri sambil memeluknya.


"Kamu mau seperti Reyna dan Nanda?"


"Nggak gitu juga, tapi nggak kayak Mas juga," kata Rima, kesal melihat Aditya yang tidak terlalu piawai dalam keromantisan, jarang sekali Aditya berkata romantis. Aditya mencium kening Rima dan kembali memeluk istrinya dengan erat.


"Mas," rengek Rima saat rasa sakitnya mulai menghilang. Rasa sakitnya belum sepenuhnya datang karena masih proses pembukaan jadi masih datang dan menghilang lagi.


Melihat istrinya yang tiba-tiba aneh, merengek seperti anak kecil dengan permintaan konyolnya.


"Aku maunya dimainin," bisik Rima.


Aditya pun melihat sekitarnya, ada Dokter yang berdiri tidak jauh dari keduanya. Memantau keadaan Rima saat ini.


"Rima, jangan begitu," bisik Aditya pada istrinya berharap tidak didengar oleh Dokter dan perawat di sana.


"Bagaimana Ibu, apa sakitnya masih suka menghilang?" Tanya Dokter.


"Iya Dok," Rima pun mengangguk kemudian kembali merintih sakit saat rasa sakitnya kembali datang.


"Saya permisi dulu, masih pembukaan enam. Jadi, bersabar ya Ibu," Dokter tersebut tersenyum.


"Lima menit lagi saya akan kembali," kemudian keluar dari ruangan tersebut, hanya dua orang perawat yang di perintahkan untuk tetap berada disana melihat keadaan Rima.


"Mas, aku pengen. Serius," kata Rima tanpa sadar dengan suara pelan.


Wajah Aditya memerah seketika, sebab ada perawat mendengarnya. Seketika jiwa jomblo perawat itu pun meronta-ronta, ingin sekali memeluk sofa agar jiwa jomblo nya tidak terus meronta-ronta.


"Aku serius Mas," kata Rima lagi merengek, entah kenapa dirinya malah ingin disentuh sebelum melahirkan.

__ADS_1


Terdengar aneh namun Rima pun baru pertama kalinya meminta secara langsung seperti ini.


"Sini Mas pijitin," Aditya sebenarnya tidak menolak, hanya saja waktu dan tempat yang tidak memungkinkan.


Hal yang cukup langka, namun Rima pun tidak tahu mengapa bisa dirinya menginginkan itu.


"Nggak mau," tolak Rima dengan nada manjanya.


Aditya menahan napas sejenak, wajahnya memerah seketika itu juga. Seorang perawat langsung menarik temannya keluar, sampai di depan pintu keduanya berdiri dengan jantung yang berdebar.


"Mereka berdua romantis banget, aku bisa terkenal struk?" Ujar seorang perawat sambil memijat kepalanya.


"He'um, udah suaminya tampan, Dokter, gimana istrinya nggak nempel mulu?" kata seorang nya lagi.


Dokter pun kembali ke ruangan tersebut, langsung masuk bersama dengan Arini yang baru saja sampai bersama dengan Ana.


Tiba-tiba saja mereka melihat Rima dan Aditya sedang bercumbu mesra di dalam sana.


"Ehem!" Arini pun berdehem sebab Aditya dan Rima tidak menyadarinya.


Seketika itu keduanya pun menghentikan ciumannya dan melihat kearah pintu.


Wajah Rima pun memerah menahan malu.


"Aduh," Rima kembali merintih menahan rasa sakitnya yang kembali datang.


Arini pun mendekati Rima, melihat dari jarak lebih dekat.


Dokter pun memeriksa kembali


"Pembukaan tujuh, sabar ya Bu. Sedikit lagi sudah bisa mengejan." Sang Dokter memberikan semangat.


Rima pun mengangguk kemudian berjalan di sekeliling ruangan, agar pembukaan jauh lebih cepat.


Aditya memegangi istrinya, menuntun untuk berjalan.


"Mas," bisik Rima.


Wajah Aditya kembali memerah, kali ini permintaan istrinya terbilang begitu aneh. Tidak tahu apakah ada wanita di luar sana yang menginginkan itu saat akan melahirkan.


"Mas, pijat lagi ya," tawar Aditya.


Baru kali ini Aditya menolak, karena tempatnya yang tidak memungkinkan. Ditambah lagi ada Ana dan Arini di sana


"Aku serius, gimana kalau anaknya ileran?"


Huuuufff!


Aditya semakin galau saja.

__ADS_1


Entah apa yang harus dilakukannya.


__ADS_2