Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Semuanya tidak akan semudah itu.


__ADS_3

Perasaan Vanya saat ini benar-benar campur aduk, dirinya sendiri bingung apakah benar Riki mencintanya atau tidak sebab dirinya yang menunggu diperjuangkan ternyata hanya diabaikan saja.


"Mas, serius sayang sama aku?"


"Kenapa kamu tidak percaya?"


Vanya menarik napas, rasanya tidak ingin berbicara lebih panjang lagi. Perasaannya kini hanya sedang ingin diyakinkan bukan dijawab dengan sejuta pertanyaan kembali.


"Mas, sayang sama kamu. Mas, hanya sedang ingin membuktikan bahwa kamu benar-benar siap untuk hidup bersama Mas atau hanya sekedar bermain-main saja," tangan Riki menggenggam erat jemari tangan Vanya, rasanya tidak ingin melepaskan sama sekali.


Menggenggam dengan semakin erat membuat dirinya menjadi lebih tenang dan juga lebih baik, segala rasa gundah sirna dengan begitu mudahnya.


Cinta memang bertahta dengan segala kebenarannya, sehingga tidak bisa untuk di singkirkan dari relung hati yang sudah nyaman dengan posisinya.


Namun, bagaimana jika cinta tetap saja tidak dapat menyatukan keduanya?


Apakah harus juga rela saling melepaskan meskipun saling menyakiti hati masing-masingnya.


"Mas, sayang. Tapi, Mas, nggak memperjuangkan aku," jawab Vanya diiringi isak tangis penuh kerinduan yang mendalam.


Rasa sakit ini sungguh sangat membuatnya berubah menjadi wanita cengeng, sebab tidak tahu harus melakukan apa untuk memperjuangkan cintanya yang begitu besar.


Membuat Riki semakin merasa bersalah, apakah begitu besar keinginan Vanya untuk hidup bersama hingga nekat pergi diam-diam dari rumah dan mencari dirinya.


Bahkan tempat yang didatangi oleh Vanya cukuplah beresiko tinggi, mengingat Vanya masih terlalu polos untuk memasuki dunia hiburan malam tersebut.


Hingga rasanya tidak perlu lagi dipertanyakan sebab sudah jelas apa yang dikatakan oleh Felix tidak benar buktinya Vanya begitu besar mencintai dirinya.


Apakah ada yang jauh lebih baik lagi dari ini? Rasanya tidak, sebab Vanya sudah cukup menjadi yang terbaik.


Riki pun tidak kuasa menahan rasa yang berkecamuk di dada, hingga kembali menarik Vanya ke dalam pelukannya agar perasaan wanitanya tersebut jauh lebih baik.


Begitu pun sebaliknya Vanya yang membalas pelukan hangat Riki dengan tidak kalah eratnya.


"Mas, antar pulang ya?"


Vanya pun mengangguk setuju, meskipun sebenarnya dirinya belum ingin berpisah dengan Riki begitu cepatnya.


Tetapi, bagaimana lagi. Tidak mungkin pula Vanya ikut bersama dengan Riki karena itu mencari masalah namanya sebelum masalah yang ada selesai.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Riki terus saja memeluk Vanya, meskipun sebenarnya dirinya sendiri sedang mengemudikan mobilnya.


Begitu berat untuk melepaskan Vanya, begitu singkat pula waktu mereka bertemu.


Vanya pun yang hanya diam bersama di dada Riki.

__ADS_1


Hingga akhirnya semua semakin bertambah berat saja, saat Riki menepikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah mewah milik kedua orang tua Vanya.


Rasa berat untuk saling melepas pun begitu terasa.


"Kamu langsung masuk dan tidur, ya?" Riki pun mencium dahi Vanya, hingga Vanya pun mengangguk menurut pada apa yang dikatakan oleh Riki.


Sesaat kemudian Vanya pun memilih untuk membuka pintu mobil, namun mendadak tangan Riki memegang lengannya.


Membuat Vanya pun sejenak mengurungkan niatnya untuk turun, kemudian menoleh pada Riki.


"Mas, mencintaimu," kata Riki.


Vanya terdiam sejenak, tidak mengerti harus bagaimana lagi.


Semuanya masih begitu rumit dan mengharuskan untuk berjuang demi bisa hidup bersama.


"Kenapa diam?" Tanya Riki.


Percayalah kini dan kemarin serasa berbeda. Vanya yang biasanya penuh dengan keributan mendadak menjadi pendiam. Apakah hati wanita ini terlalu rapuh hingga membuatnya berubah menjadi demikian.


Sungguh Riki sangat bertanya-tanya apakah yang terjadi pada Vanya.


"Kalau kata orang titik akhirnya mencintai adalah melepaskan, tapi bagi aku, titik akhir mencintai adalah memperjuangkan."


Ingin sekali Riki membenturkan kepalanya sendiri agar otaknya kembali pada posisinya semula, sehingga tidak ada lagi kebodohan yang tersisa setelah ini.


Bagaimana bisa Riki berpikir untuk diam tanpa memperjuangkan sama sekali? Sementara pada kenyataan dirinya sangat mencintai.


Bahkan orang yang dicintainya sedang menunggu untuk diperjuangkan, apa yang dilakukan olehnya benar-benar sebuah kesalahan yang sangat besar.


"Aku, permisi ya Mas," Vanya pun mencoba untuk membuka pintu.


Namun lagi-lagi Riki menariknya membuat Vanya kembali menoleh.


Sesaat kemudian Riki pun memeluknya erat tanpa kata, tanpa bicara.


Vanya juga membalas pelukan hangat itu, pelukan seakan tidak ingin saling melepaskan lagi.


Hingga pelukan pun merenggang, namun Riki menarik tengkuk Vanya.


Mencium bibir Vanya dengan perlahan, Vanya pun masih dengan membalasnya. Meskipun tidak terlalu lihai tetapi selama ini Riki sudah mengajarkannya membuat Vanya sedikit bisa mengimbanginya.


Sesaat kemudian Riki pun melepaskan tautan mereka, mengusap bibir Vanya yang basah karena saliva.


"Kamu turun, ya."

__ADS_1


Vanya pun mengangguk kemudian segera turun, kali ini benar-benar turun dari mobil.


Riki pun menurunkan jendela mobilnya, melihat Vanya yang kini berdiri di luar sana.


"Cepat masuk."


Vanya hanya mengangguk tanpa berbicara sama sekali, jika saja bisa mungkin Vanya lebih memilih untuk ikut bersama dengan Riki.


Namun apa daya dirinya sendiri tidak mengerti mengapa Riki tidak pernah mengajaknya untuk pergi saja, melupakan restu orang tuanya yang lagi-lagi menjadi penghalang.


Hati Vanya benar-benar bertanya tanya apakah Riki tidak tulus mencintainya, apakah hanya dirinya saja yang mencintai dengan sedalam ini.


Perlahan Vanya pun membuka pintu gerbang rumah, pikirannya benar-benar bercabang menjadi dua.


Sesaat kemudian Vanya benar-benar masuk ke dalam rumah, kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa kata sama sekali.


Sementara Devan melihat dari balkon kamarnya saat Vanya turun dari mobil Riki.


Hanya saja Devan memilih diam sebab dirinya tidak ingin Vanya melihat kemarahan yang sedang menguasai dirinya.


Hingga saat Vanya sudah masuk Devan pun memerintahkan kepada para pengawalnya untuk menahan Riki agar tidak pergi.


Riki sudah menebak, dirinya yakin semuanya tidak akan semudah itu.


Lihat saja saat ini sudah banyak pengawal dengan tubuh kekarnya mengelilingi mobilnya.


Hingga Riki pun akhirnya keluar dari mobilnya.


Jika Vanya saja bisa berjuang untuk bisa hidup bersamanya, lantas mengapa dirinya tidak.


Semangat yang awalnya terpendam kini kembali membara.


Beberapa saat kemudian Devan pun muncul, menatap Riki dengan dinginnya.


Sebenarnya disini Riki bingung harus bagaimana, di satu sisi dirinya mencintai anak dari pria itu jadi tidak mungkin melawan. Tetapi, di sisi lainnya dirinya juga butuh perlawanan untuk menyelamatkan dirinya dari segala kemungkinan terburuknya sehingga bisa hidup bersama dengan wanita pujaan hatinya.


"Kenapa kau membawa putriku?" Tanya Devan dengan wajah datarnya.


"Maaf Om, tapi sepertinya anda salah dalam bertanya," jawab Riki dengan tidak kalah tegasnya.


"Maksudmu?" Devan mengepalkan tangannya, merasa Riki menantangnya.


"Sepertinya anda salah dalam menilai, coba anda selidiki terlebih dahulu. Karena, sepertinya aku yang mengantarkan dia kembali ke rumah ini. Padahal sebenarnya aku bisa membawanya pergi."


"Kau menantang ku?"

__ADS_1


__ADS_2