
"Kok diem aja? Cuma liatin doang?" Lama Rena menunggu Adnan untuk berbicara tetapi sampai saat ini pun belum ada tanda-tanda suaminya itu akan bersuara.
Menatapnya terus-menerus malah semakin membuatnya menjadi tidak karuan, ini sungguh mencekam.
Mengapa setelah saling terbuka akan cinta yang ada malah menciptakan ketegangan yang luar biasa.
"Memangnya mau apa selain di lihat?" Tanya Adnan dengan senyuman.
Ya ampun Rena benar-benar kehilangan udara segar, apa ini?
Adnan benar-benar semakin membuatnya ingin mendadak terkena serangan jantung.
"Kamu ngomong apa sih!" Rena melihat ke arah luar, memilih menghindar dari tatapan mata Adnan yang membuatnya tidak menentu.
"Kamu tidak mau cium tangan begitu sebelum keluar dari mobil suami mu?" Tanya Adnan dengan suara pelan.
Adnan tak ingin ada kecanggungan berlarut-larut, hingga ingin membuat mereka lebih nyaman karena belum terbiasa dengan status baru yang mereka miliki.
Suami istri.
Namun, Rena malah ingin menangis karena malu akan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Suami?
Adnan mengatakan kata 'Suami' seakan begitu sulit untuk dilupakan, namun begitu geli untuk terus didengarkan.
"Kenapa?" Adnan menyadari raut wajah Rena, membuatnya bertanya-tanya.
"Adnan, aku turun dulu ya."
Rena pun membuka pintu mobil dan berniat ingin segera pergi. Tidak baik terlalu lama berada di dekat Adnan.
Sebab, Rena juga membutuhkan udara segar untuk bisa bernapas dengan baik. Jika tidak mungkin dia akan mati berdiri.
"Sampai jumpa nanti, Mas ke kantor dulu ya," kata Adnan.
"Mas?" Mendadak Rena mematung, mendengar apa yang diucapkan oleh Adnan.
Sedetik kemudian melirik Adnan dan tersenyum padanya.
Huuuufff!
Rena pun cepat-cepat menutup pintu mobil, kemudian pergi secepat mungkin.
Adnan tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu, semakin ke sini semakin Adnan merasa banyak yang lebih lucu dari pada saat mereka belum menikah dulu.
"Ya ampun, kenapa dia jadi begini," Rena terus berjalan sambil menetralkan detak jantungnya, berbicara sendiri seperti orang tidak waras.
__ADS_1
"Caelah, manten baru," goda Ririn, seorang temannya yang tidak kalah antusias untuk menggodanya terus-menerus.
"Berapa ronde, Na?" Iska pun ikut menimpali.
"Selamat ya, kok nikah dadakan banget? Tapi bodo amat sih, yang penting kalian bahagia. Tapi, ajakin Pak Adnan teraktir kita boleh dong," celetuk Ika di iringi tawa.
Ya ampun.
Hari ini benar-benar membuatnya hampir mati, memilih menghindar dari kedua temannya. Rena pun ke luar dari kelas.
Menuju taman kampus yang mungkin kali ini bisa memberikan udara segar dan ketenangan untuknya.
Rena pun duduk bersila di atas rerumput, menikmati keindahan sekitarnya.
Bernapas dengan segar tanpa ada godaan dari teman-teman dan yang terpenting tidak bertemu dengan Vanya. Adik iparnya yang super cerewet dan aneh, paling iseng itu.
Lama Rena terdiam sendiri, kini Rena pun mengambil ponselnya.
Rena yang tak memiliki uang mencoba meminjam pada Cahaya, sebab semua kartu ATM dan kartu kredit nya masih di sita oleh Nanda.
Seharusnya Rena masih menjalani hukumannya seperti Vanya, tetapi kini bedanya dia sudah menikah.
Sedangkan untuk meminta uang pada Adnan belum terpikirkan sama sekali di otaknya.
"Tapi, gimana ya? Entar, bayarnya gimana?" Rena mengusap wajahnya merasa galau dengan segala pikirannya.
Setelah berdebat dengan panjang, akhirnya Rena memberanikan diri untuk meminjam uang pada Cahaya.
Ting!
( Duit? ) Cahaya.
( ATM aku masih di sita, aku juga nggak berani minta di balikin sama bokap ) Rena.
( Sama suami mu minta duit Rena, ngapain minjam. Dasar aneh ) Cahaya.
"Minta sama suami?" Rena pun terkejut membaca pesan yang dikirimkan oleh Cahaya.
Rena mengakui apa yang dikatakan oleh Cahaya adalah benar, tetapi rasanya dirinya tidak memiliki keberanian untuk itu.
"Rena, kamu di sini?"
"Iska? Jangan terus-terusan menggoda aku dong, aku lagi pusing banget nih," Rena pun menunjukkan raut wajah memohon, berharap kali ini Iska berbaik hati padanya tanpa menggoda.
"Galau amat, aku ke kantin dulu deh. Mau bantuin Ibu.
"Bantuin?" Rena pun merasa memiliki ide.
__ADS_1
"Iska, aku ikut bantuin dong. Tapi semangkuk bakso ya," pinta Rena.
Iska merasa aneh saat Rena meminta semangkuk bakso, tetapi dia rasa itu hanya kekonyolan Rena saja.
Sebab selama ini Rena terbilang cukup berada, bahkan pakaian yang digunakannya terlihat bermerek.
Walaupun Iska tidak tahu pasti tentang keluarga Rena. Tapi di pastikan bukan anak orang biasa seperti dirinya.
"Iska?" Rena masih menunggu persetujuan Iska, benar-benar menunggu.
"Ya, gampang itu!" Iska merangkul pundak Rena, hingga keduanya berjalan beriringan menuju kantin milik kampus yang di kelola Ibu Iska.
Sesampainya di kantin dengan penuh semangat Rena pun bekerja, sedangkan Adnan yang sedang berada di kantor mendapatkan panggilan telepon dari mertuanya Nanda.
Adnan pun segera menjawabnya, biasanya memanggil Om kini sudah berganti menjadi Abi.
Rasanya geli sekali, tetapi begitulah adanya.
Anehnya lagi belum juga Adnan berbicara Nanda sudah menyemburnya dengan kata-kata pedas dari sebrang sana.
Membuat Adnan bingung dengan apa yang dimaksud oleh Nanda.
"Kalau kamu tidak sanggup memberikan anak saya makan kenapa kemarin menikahinya," Cerca Nanda dengan emosi yang membara mengetahui Rena bekerja di kantin untuk mendapatkan semangkuk bakso.
"Maksudnya gimana Abi?" Adnan pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Nanda, mungkin saja sedang salah menghubungi orang pikir Adnan.
Tetapi sepertinya tidak mungkin, sebab Nanda tampaknya membicarakan tentang Rena.
"Rena, sedang bekerja di kantin! Untuk pertama kalinya dia menjadi pelayan, padahal semua tanggung jawab saya sekarang sudah berpindah ke kamu. Kembalikan anak saya sekarang, kalau kamu tidak mampu memenuhi kebutuhannya!" Papar Nanda dan memutuskan panggilan sepihak, tanpa mendegar penjelasan ataupun hal yang ingin di tanyakan oleh Adnan.
"Rena bekerja di kantin?" Adnan pun segera menyambar kunci mobilnya, kemudian dia segera menuju kampus.
Memastikan apakah yang dikatakan oleh Nanda benar adanya.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Nanda benar, terlihat Rena sedang mengantarkan beberapa mangkuk bakso pada beberapa meja.
Adnan pun segera menghampiri dan ingin Rena menghentikan aktivitasnya.
"Letakkan!" Titah Adnan dengan wajah datarnya.
"Tapi, aku........" Rena mencari keberadaan Iska, tapi tampaknya masih berada di dapur kantin mempersiapkan beberapa pesanan.
Adnan pun meletakkan mangkuk di tangan Rena, kemudian membawanya pergi.
Rena persis seperti anak kecil yang melakukan sebuah kesalahan, dirinya duduk di mobil Adnan, bersebelahan tanpa berani melihat Adnan dengan kepala menunduk, sedangkan kedua tangannya saling meremas.
"Kenapa kamu bekerja?" Tanya Adnan.
__ADS_1
"Aku..." Rena mencoba untuk melihat wajah Adnan, hingga membuatnya menjadi bingung apakah menjawab atau tidak.
Malu sekali mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki uang dan juga sangat lapar.