Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Hujan-hujanan.


__ADS_3

Vanya juga melihat dari kamarnya jika Riki berada di luar, hingga hujan pun turun dengan derasnya.


"Kamu yakin nggak mau menemui Riki di luar sana?" Tanya Felix yang menemui Vanya ke kamarnya.


Felix yang kasihan pada Riki pun berinisiatif untuk menolong Riki.


Vanya hanya mengerucut bibirnya, berusaha untuk tidak perduli sama sekali pada Riki.


Hingga hujan pun semakin deras, suara petir pun saling bersahutan-sahutan.


Riki makin kedinginan di sana.


"Dia menggigil, lagi pula Sandra itu hanya orang lain. Riki, menolongnya hanya karena dulu Sandra pernah menolong Mamanya," kata Felix yang langsung menjelaskan tanpa meminta ijin sekalipun.


Membuat Vanya pun langsung menatap Felix penuh kebingungan.


Tetapi Felix pun tidak mungkin berbohong, karena tahu seperti apa Kakaknya itu jika sudah menyangkut akan dirinya.


"Cepat temui dia, nanti dia sakit dan mati bagaimana?" Tanya Felix lagi.


Membuat Vanya pun shock mendengarnya, dengan segera Vanya pun keluar dari kamarnya.


Namun sampai di depan pintu kamar malah bertemu dengan Devan.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau temuin Mas Riki, Yah. Kasihan dia kehujanan," jelas Vanya.

__ADS_1


"Kasihan?" Devan tampak terkejut mendengarnya, bukankah pagi menjelang siang tadi Vanya sudah setuju untuk membatalkan pernikahannya?


Lantas mengapa kini malah mendadak kasihan pada pria duda itu.


"Vanya, tapi dia sudah menyakitimu. Ingat itu, dia jahat!" Kata Devan berusaha untuk membuat Vanya kembali pada kemarahannya.


Tanpa sengaja Nayla pun mendengar apa yang dikatakan oleh Devan barusan, segera dirinya mendengarkan lebih jauh tanpa bersuara di tempatnya.


"Sudahlah, dia jahat. Lelaki jahat itu tidak perlu diberikan maaf. Batalkan saja pernikahannya!" Tambah Devan lagi.


"Tapi, aku sayang sama Mas Riki, Yah."


"Sayang, kamu mau di sakiti?"


Vanya pun menggelengkan kepalanya, rasanya begitu membingungkan.


Felix yang memintanya untuk memaafkan Riki sementara Devan yang lebih memilih untuk memintanya berpisah saja.


"Oh, ternyata ada kompor di sini, ya?" Kata Nayla sambil berjalan mendekati Devan.


"Kamu di sini?" Tanya Devan panik.


"Kenapa?" Nayla pun melebarkan matanya menatap Devan dengan penuh kemarahan.


Glek!


Devan pun meneguk saliva.

__ADS_1


Sementara Vanya masih kebingungan melihat Devan dan Nayla.


Dan Felix yang juga menjadi penonton, Devan akan lemah bila sudah ada pawangnya.


"Mas, lupa dulu pernah seperti Riki?" Tanya Nayla.


"Ayah pernah jahat Bunda?" Tanya Vanya penasaran.


"Mas, lupa dulu pernah di luar hujan-hujanan demi minta baikan sama aku?" Tanya Nayla lagi pada Devan tanpa menjawab pertanyaan Vanya.


"Wah, Ayah juga pernah begitu?" Vanya benar-benar terkejut mendengarnya.


"Sayang, jangan buka kartu dong," kata Devan dengan suara pelannya.


"Memang begitu adanya, mereka masih muda. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya, jangan ikut-ikutan!" Nayla pun menarik telinga Devan, kemudian membawanya pergi.


Sementara Felix tersenyum melihat Ayahnya yang begitu takut pada istrinya itu.


Sementara Vanya hanya menatap kedua orang tuanya dengan bingung, sambil memikirkan yang dikatakan oleh Nayla barusan.


Bahkan Vanya juga kasihan pada Ayahnya.


"Bunda, pelan-pelan saja!" Seru Vanya, karena kasihan melihat Devan kesakitan.


Bahkan sambil berjalan saja Nayla masih menarik telinga Devan.


"Bunda mau membuat telinga Ayah mu ini putus, kenapa?" Tanya Nayla penuh emosi dari kejauhan.

__ADS_1


"Jangan Bunda," seru Vanya lagi.


Sementara itu Nayla dan Devan sudah masuk ke dalam kamar, hingga Vanya pun tidak dapat melihatnya lagi.


__ADS_2