Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Pasien!


__ADS_3

"Alex, berhenti di depan situ."


Alex pun kembali menghentikan laju mobilnya, padahal belum juga setengah perjalanan menuju rumah.


"Apa?"


"Aku mau beli buah, aku ke ATM sebentar" segera Jessica turun, lalu kembali setelah mengambil beberapa lembar rupiah dari ATM.


Alex terdiam saat tangan Jessica menghitung beberapa lembar uang setelah mengambil dari mesin ATM.


"Katanya kamu nggak bawa dompet?" Akhirnya Alex bertanya juga, sebab dirinya sendiri sedang kebingungan.


"Aku emang nggak bawa dompet," jawab Jessica santai, sambil menatap ke depan.


"Tapi bisa narik uang di ATM?"


"Aku bawa ATM doang, aku selalu taruh di belakang ponsel," Jessica memperlihatkan pada Alex, kemudian menyimpan kembali ke dalam sakunya.


Huuuufff.


Alex menarik napas dengan berat, jika ternyata istrinya membawa ATM mengapa dirinya harus repot-repot mencuci piring?


"Kenapa nggak bilang!"


"Bilang apa?"


Mendadak Jessica meneguk saliva, merasa gemetaran saat wajah Alex berjarak beberapa senti darinya.


Glek.


Terasa berat sekali untuk bisa menenangkan diri, peluh pun mulai bercucuran seiringan irama jantung yang kian mendebarkan.


"Aku kenapa?" Tanya Jessica tiba-tiba.


Alex pun merasa bingung hingga menatap Jessica penuh intimidasi.


Seketika Jessica tersadar dan menutup mulutnya secepat mungkin.


Entahlah, jika dulu Jessica biasa saja tapi kini rasanya mulai sedikit berbeda.


Jika dulu membutuhkan dengan sejuta alasan, kini membutuhkan tanpa alasan dan tak ingin berjauhan.


Ditambah lagi ada debaran aneh saat sedang bersama.


Padahal ini sudah yang kesekian kalinya, bahkan sudah mengandung anak kedua.


"Kamu kenapa?"


"Alex, tolong menjauh," Jessica pun mendorong dada Alex, tidak ingin lebih lama dalam posisi tersebut yang membuat peluh kian bercucuran.


Alex tahu Jessica sedang tidak nyaman, tapi tetap memilih untuk tidak bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


"Alex!"


Alex menaikkan sebelah alisnya, melihat Jessica penuh intimidasi.


"Alex!" Seru Jessica semakin tidak sanggup.


"Biasanya juga lebih dari sedekat ini," papar Alex.


"Jauh-jauh," pinta Jessica dengan nada memohon.


Tok... tok... tok...


Terdengar ada suara dari luar sana, Alex pun membenarkan posisi duduknya kemudian membuka kaca mobilnya.


Tampak seorang pria di sana, kini berusaha melihat ke dalam mobil.


"Mas, kalau mau mesum jangan di sini! Lagian jadi kali modal tampang doang. Ceweknya juga kok mau," omel pria asing tersebut.


"Saya suaminya!" Tegas Alex.


"Dari awal Mas parkir, terus Mbaknya ke ATM balik lagi, dan diam di dalam mobil nggak bergerak Saya sudah memperhatikan, lagian kalau suami istri nongkrong nya di rumah! Mana ada di mobil, Mbak jangan mau sama Mas nya paling mobil bagus ini juga minjam!" Kata pria itu lagi meyakinkan Jessica.


Jessica berusaha menahan tawa melihat wajah Alex yang terbakar api kemarahan.


"Hey! Jangan kurang ajar!" Alex pun turun dari mobilnya.


"Dasar laki-laki nggak ada modal!" Ejek pria tersebut dengan terus menerus. Jessica pun menyusul turun dari mobil, kemudian berdiri di samping Alex.


Berusaha untuk meredam kemarahan Alex, tidak meladeni pria asing tersebut.


Bagaimana dengan Alex?


Kesal, marah, ingin melayangkan bogem.


"Jaman sekarang, laki-laki pinjam mobil. Bawa cewek cakep, terus nongkrong di tempat wah. Bayar-bayar sana sini. Menghamburkan uang, padahal hasil pinjaman online!" Masih saja pria asing itu berujar dengan bangganya.


Alex pun sudah tidak sanggup untuk berdebat, ingin sekali memukul wajah pria tersebut.


"Alex, udah. Nggak usah diladeni. Kita balik aja," Jessica berusaha membawa Alex pergi.


Tetapi, Alex tidak mau. Sebab, masih ingin memberikan sedikit lebam di wajah pria tersebut, agar menjadi tanda dan tidak mengulangi hal serupa pada siapa saja. Terutama pada dirinya jika bertemu sewaktu-waktu.


"Kau!" Alex mengeratkan giginya.


"Alex sudah!"


"Mohon maaf Ibu, Bapak, dia pasien yang melarikan diri," dua orang perawat yang datang tiba-tiba langsung saja memegangi pria yang hampir saja mendapatkan bogem dari Alex.


"Pasien?" Tanya Jessica terkejut.


"Iya Ibu, pasien ini meresahkan masyarakat sekitar. Dia sudah berulangkali melarikan diri, sekali lagi mohon maaf, kami akan lebih meningkatkan keamanan rumah sakit jiwa," jelas perawat tersebut, kemudian ikut membawa pasiennya.

__ADS_1


Jessica dan Alex masih mematung, sesaat kemudian Jessica pun melihat Alex. Keduanya hanya diam tanpa kata, terutama Alex.


Sepanjang perjalanan menuju rumah dua-duanya hanya diam saja, sampai akhirnya mendengar tawa Jessica sambil menuruni mobil.


"Ternyata kamu debat sama orang gila!" Jessica mencolek Alex yang ikut turun dari mobil.


Alex hanya diam dengan wajah kesalnya, menghabiskan energi berdebat dengan orang gila sangat tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Dan malam ini terjadi.


Seketika Alex kembali melihat wajah Jessica.


"Ahahahhaha," Jessica semakin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Alex.


Alex pun duduk di kursi teras, menikmati malam yang dingin.


Jessica pun ikut duduk disampingnya, bibirnya tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah Alex yang masih saja belum bisa mengerti setelah berdebat hebat dengan pasien rumah sakit jiwa.


"Gimana perasaan Bapak Alex, setelah perdebatan panjang melawan pria hebat barusan?" Seloroh Jessica.


"Kamu itu senang sekali melihat aku kesal?" Kata Alex dengan wajah datarnya.


"Ahahahhaha, aku yakin itu tadi orang gila. Tapi aku nggak ada kesempatan buat ngomong! Kamu udah emosi duluan!" Ujar Jessica diselingi tawa.


"Kamu tahu dia gila tapi diam saja?" Alex kesal melihat Jessica.


"Kamu yang nggak ngebolehin aku ngomong! Dan kamu dikatain gila sama orang gila!" Jessica pun masih mengejek dengan tawa yang terus menggelegar.


Alex pun menggaruk kepalanya, kesal tentu saja.


Seumur hidup ini adalah pengalaman paling menyedihkan.


"Padahal itu bagian Aditya." Alex pun akhirnya bisa tersenyum lucu, mengingat kebodohannya barusan.


"Kalau kamu hajar dia tadi, aku yakin dua perawat tadi mengira kamu juga gila."


"Aku emang gila, tapi cuma sama kamu!"


"Ish! Kamu apaan sih!"


Jessica pun bangun dari duduknya, memilih masuk dari pada mendengarkan gombalan Alex yang sepertinya kembali dimulai lagi.


Bibirnya terus tersenyum sambil berjalan menuju kamar, dalam hati terasa berbunga-bunga karena setiap ucapan manis Alex mampu membuatnya melayang seketika dengan mudahnya.


Ada apa?


Entahlah tapi debaran jantung saat bersama seakan begitu menyulitkan, rasa nyaman itu kini mulai muncul. Bukan sekedar teman, ataupun sahabat yang selama ini mereka jalani.


Ada rasa takut kehilangan, rasa cemburu saat melihatnya bersama wanita yang lain.


Sadar atau tidak kini perhatian Alex mampu meluluhkan hari seorang Jessica, perlahan menutup luka lama.

__ADS_1


Berharap bisa menemukan cinta sejati tanpa terkecuali.


Tidak ada lagi kesedihan, tangisan selain dari sebuah kebahagiaan dan membina biduk rumah tangga ini.


__ADS_2