
Adnan masih terdiam dan merasa bingung hingga akhirnya menyusul Rena yang kini sudah menuju kamar.
Adnan mengetuk pintu terlebih dahulu, setelahnya masuk dengan perlahan. Matanya melihat Rena yang kini menangis tersedu-sedu sambil duduk di sisi ranjang.
Adnan tahu kini Rena tengah menyimpan luka yang cukup dalam, tapi entah luka yang seperti apa, tidak di ketahui sama sekali.
Adnan pun tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih jauh, dirinya memutuskan untuk pergi. Memberikan waktu kepada Rena menyendiri, mungkin setelah itu bisa menjadi lebih baik.
"Adnan."
Namun tiba-tiba Rena bersuara, hingga membuat langkah kaki Adnan pun terhenti seketika itu juga.
"Maaf, aku masuk ke kamar ini. Aku bukan berniat tidak sopan atau pun bagaimana," jelas Adnan.
Rena pun mengusap air matanya, kemudian berusaha untuk tidak lagi menangis.
"Adnan, maaf ya. Sepertinya aku terlalu cengeng, akhir-akhir ini aku merasa sendiri, kedua orang tua ku pun sedang menghukum ku. Aku rindu mereka," air mata Rena kembali tumpah, masalah yang di buatnya benar-benar membuat Nanda murka hingga harus mendapatkan hukuman seperti ini.
"Iya, aku mengerti. Aku harap ada pelajaran dibalik semua ini," Adnan pun mencoba untuk mengerti.
Semua orang memiliki kesalahan, begitu pun dengan Rena yang juga ingin merasakan suatu hal baru dalam hidupnya.
Walaupun akhirnya berakhir pada petaka yang merugikan dirinya sendiri.
"Kamu belum minum obat," Adnan tidak ingin membuat suasana menjadi bersedih, sehingga memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Lagi pula kesehatan Rena jauh lebih penting dari pada segalanya.
__ADS_1
"Makasih, udah mengingatkan."
"Tidak masalah, setelah itu kamu bisa istirahat."
Ting!
Ponsel Rena pun berbunyi, seketika membukanya.
Rena terkejut melihat kelinci kesayangannya telah mati. Hingga akhirnya ponselnya terlepas dari tangannya.
Rena menangis kencang, hingga membuat Adnan penasaran dan melihat gambar pada layar ponsel Rena.
"Adnan, itu kelinci aku, kenapa ada yang tega membunuhnya," kata Rena dengan terus saja menangis tanpa hentinya.
Adnan mendadak diam sambil berpikir keras, bingung mengapa bisa ada yang meneror dengan begitu kejamnya.
( Kamu pun akan bernasib sama, jika terus menyimpan kebohongan )
"Kebohongan?" Adnan menjadi penasaran, kebohongan seperti apa yang di maksud oleh peneror tersebut.
Mungkin kah Rena membuat satu masalah yang malah menjebak diri sendiri, hingga terjadi hal tersebut.
Adnan ingin bertanya, tetapi melihat wajah Rena yang ketakutan membuatnya menjadi tidak tega.
"Adnan, aku capek banget. Aku nggak tahu kenapa ada yang meneror aku seperti ini. Sampai membunuh kelinci kesayangan aku," Rena terus saja menangis tanpa henti dengan memeluk lututnya.
Adnan pun memilih menyimpan ponsel Rena pada saku celananya, mungkin bisa menyelidiki kasus yang kini tengah terjadi.
__ADS_1
"Tidak usah takut, aku akan menjaga mu. Kamu butuh istirahat, sekarang kamu istirahat dulu," pinta Adnan.
Rena menggelengkan kepalanya, hidupnya kini menjadi tidak tenang.
Adnan hanya bisa menarik napas dengan berat, menyaksikan Rena yang kini sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya ingin menawarkan punggung nya, tapi apa daya Adnan sadar Rena adalah calon istri Felix.
"Aku keluar dulu," pamit Adnan.
Rena hanya mengangguk lemah, berpikir jika saja di tempat ini tidak akan mendapat teror. Nyatanya sama saja. Kemana pun kakinya melangkah teror tersebut tetap saja mengikuti.
Sedangkan di tempat lainnya, dua orang pria sedang duduk bersantai, memikirkan misi yang harus mereka lakukan beberapa hari ke depan nya.
"Kau yakin jika rencana ini akan berhasil?" Tanya Felix.
"Tentu, sebentar lagi dia akan membatalkan pernikahan kalian dengan cepat. Dan kamu bisa menikahi gadis pujaan mu itu," jelas Riki dengan yakin.
Felix pun mengangguk, tidak ada yang lebih baik dari Cahaya. Tenaga dan pikiran hanya milik Cahaya tanpa ada lagi yang bisa menggantikannya.
"Cukup! Aku tahu apa yang kau bayangkan! Jangan sampai ada botol yang lainnya yang aku masukan ke dalam mulut mu!" Riki sedang tidak ingin menjadi korban keanehan Felix jika sedang memikirkan tentang Cahaya, sehingga dirinya segera mengingatkan.
"Kau memang tidak tahu rasanya jatuh cinta seperti apa, apa lagi saat dia tersenyum," Felix pun tersenyum-senyum sendiri, membayangkan wajah Cahaya.
Riki menunjukan wajah masamnya.
"Untuk apa mencintai jika hanya mendapatkan satu wanita, lagi pula aku laku keras di pasaran. Besok aku ada janji dengan Manager Hotel, janda bohay yang bikin aku panas dingin. Mana tahu langsung bisa check in," kata Riki dengan bibir tersenyum bahagia membayangkan wajah wanita yang kini menjadi targetnya.
Sedangkan Felix tidak tertarik sama sekali, Felix bukan lelaki yang mudah tertarik pada wanita. Dirinya harus mencintai dulu, baru bisa berpikir hal yang lebih jauh. Bahkan Felix hanya mencintai satu wanita, tanpa ingin berpindah lagi.
__ADS_1