Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kesalahan yang sama!


__ADS_3

"Door!" Vanya muncul dengan tiba-tiba membuat Riki terkejut.


Padahal dirinya sedang fokus pada mobilnya, tetapi bocah tengil itu malah membuatnya hampir saja jantungan.


Begitupun dengan Vanya yang menyadari saat Riki terkejut.


"Hehe, maaf Om. Tadi, aku pikir Om nggak akan segitu terkejutnya. Lupa Om kan lansia ya, hehe," Vanya pun cengengesan karena menertawakan Riki.


Sedangkan Sela malah senyum-senyum melihat kekonyolan Vanya. Hingga akhirnya Riki pun melayangkan tatapan tajam pada Vanya.


"Riki!" Sela pun menegur anaknya tersebut, sebab dirinya merasa Vanya adalah salah satu orang yang berani melakukan hal konyol pada pada anaknya.


Hingga Riki pun mengurungkan niatnya berbicara kasar pada Vanya.


"Om, santai. Biar kaya di pantai, jangan tegang mulu," celetuk Vanya.


Kemudian Vanya pun membantu Sela untuk naik ke dalam mobil, sesaat kemudian dirinya juga ikut naik


Sedangkan Riki menjadi supir dadakan, sebab harus menemani Mamanya untuk berkunjung ke sekolah.


Riki tidak berani membiarkan Mamanya pergi dengan orang asing, terutama Vanya orang yang baru ditemuinya.


Riki sangat takut terjadi hal buruk saat sedang bepergian. Mengingat keadaan Sela sedang dalam proses pengobatan karena kanker payudara yang dideritanya. Apa lagi Papanya sedang berada di luar kota, menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.


Sesampainya di tempat tujuan Vanya langsung menyapa murid-muridnya.


Senyum bahagia tak pernah luntur dari bibirnya, hari ini adalah hari pertamanya menjadi guru di sekolah taman kanak-kanak milik Sela.


Tentunya hal yang sangat membanggakan tidak terkira.


Vanya pun memperkenalkan dirinya, kemudian meminta muridnya untuk menyebutkan nama mereka masing-masing sebagai ajang pendekatan awal antara murid dan guru.


"Nama Miss siapa?" Tanya Vanya dengan berseru.


"Vanya!" Seru para murid dengan antusias.


"Miss Vanya imut. Coba ulangi?"


"Miss Vanya imut!" Jawab murid tersebut.


"Pintar, semuanya anak Miss pintar sekali. Tepuk tangan."


Semua murid pun bertepuk tangan, wajah ceria Vanya begitu mudahnya membius para murid-murid tersebut.


"Ayo semuanya, kita bernyanyi. Miss, mau semua berdiri," pinta Vanya dengan nada suara keras agar semua muridnya mendengar.


Lagi pula bukan Vanya namanya jika tidak bisa membahagiakan orang lain. Sesaat kemudian murid pun menuruti keinginannya, bernyanyi bersama.

__ADS_1


"Terima kasih," Vanya tersenyum setelah selesai bernyanyi bersama-sama.


Waktu istirahat pun tiba, Vanya pun keluar dari kelas dan melihat Sela yang dari tadi menunggunya di depan kelas.


"Kamu sangat ceria sekali, Tante akui kamu hebat."


"Hehe. Kan jurusan aku memang guru Tante." Keduanya memasuki kantor, ruangan milik Sela yang adalah kepala sekolah sekaligus pemiliknya.


"Ini adalah ruangan Tante, ruangan bersejarah yang tak terlupakan," Sela terus saja tersenyum bahagia, saat kehadiran Vanya mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna.


"Andai saja, Tante punya anak perempuan. Sayangnya hanya satu, itupun laki-laki," wajah Sela kembali tidak bersemangat karena mengingat wajah Riki.


"Kan, sama aja Tante. Mau laki-laki atau perempuan," Vanya belum mengerti dengan maksud dari Sela sehingga dirinya menjawab dengan apa yang ada dipikirannya.


"Ya, tapi tidak untuk Riki. Masa lalunya yang menyakitkan merubahnya menjadi seorang lelaki yang menutup hatinya pada wanita mana pun."


"Udahlah Tante, biar aku aja yang jadi anak perempuan Tante," tak ingin membuat Sela larut dalam kesedihan, membuat Vanya berbicara dengan asal. Asalkan tidak selalu murung, karena Vanya sangat senang melihat orang lain bahagia.


"Benarkah?" Sela tersenyum bahagia saat mendengar tawaran Vanya.


"Iya, kalau Tante mau."


"Mau dong." Sela begitu antusias saat menganggap Vanya seperti anaknya, baru dua hari sudah mampu membuatnya terkesan hingga merasa sudah kenal lama.


Dalam hati Sela berdoa semoga saja Riki berjodoh dengan Vanya, melihat Vanya sungguh meneduhkan hatinya.


Sedangkan Vanya terdiam sambil menimbang pertanyaannya Sela.


"Vanya," Sela pun menepuk pundak Vanya hingga menyadarkan wanita tersebut dari lamunannya.


"Punya Tante."


"Mereka bekerja?"


Vanya terdiam saat mendengar pertanyaan itu, lagi pula rasanya tidak sopan untuk bertanya tentang hal berbau materi.


"Bukan, Tante tidak bermaksud apa-apa. Tante hanya ingin lebih kenal, mungkin saja orang tua kamu adalah orang yang Tante kenal," Sela pun berusaha untuk membuat Vanya merasa nyaman. Sebab tujuannya hanya satu, Vanya berasal dari keluarga berada. Karena Riki tak mau lagi berteman apa lagi mendapatkan pasangan dari keluarga sederhana. Seperti mantan istrinya dulu yang hanya memanfaatkan Riki saja.


"Mereka cuma orang biasa, Tante."


Sela pun mendesus, tetapi tidak masalah juga sebenarnya. Hanya saja tentunya sedikit lebih sulit untuk bisa dijodohkan dengan Riki.


"Iya, tidak apa. Lagi pula semua manusia sebenarnya sama saja."


"Tante, pulang yuk. Udah jam pulang sekolah ini."


"Iya."

__ADS_1


Keduanya pun segera menuju mobil, tetapi tak tampak Riki di sana. Membuat Vanya pun memutuskan untuk mencari keberadaan pria tersebut.


"Tante, tunggu di sini ya. Aku, mau cari Om Riki dulu."


Setelah Sela mengangguk setuju, segera Vanya pun mencari keberadaan Riki.


"Dimana Om Riki aneh itu, wajah kayak robot mulu nggak ada manis-manisnya," gerutu Vanya sambil terus berjalan melihat sekitarnya yang mungkin saja ada Riki.


Sampai akhirnya Vanya pun menghentikan langkah kakinya, kemudian mundur beberapa langkah. Dan benar saja Riki berada di belakang sekolah, tapi tunggu. Vanya melihat Riki sedang merapikan rok seorang murid perempuan.


"Apa jangan-jangan," Vanya pun membuka mulutnya dengan lebar. Memikirkan jika Riki sudah melecehkan murid tersebut, apa lagi murid itu menangis kencang.


Vanya yakin jika murid tersebut sedang kesakitan, dengan segera Vanya pun mengambil sebuah kayu. Kemudian memukul bagian belakang Riki.


Bruk!


Akh!


Riki pun ambruk di tanah, tetapi masih dengan keadaan sadar. Sesaat kemudian Vanya pun melempar kayu ditangannya. Dan memeluk muridnya.


"Kamu sudah diapain sama dia?" Tanya Vanya dengan panik.


"Di bantuin Miss, Om Riki bantuin aku tadi jatuh di situ," murid tersebut bernama Sisi dan menunjuk dimana dirinya terjatuh barusan.


"Jatuh?" Vanya pun meneguk saliva mendengar penjelasan murid tersebut.


Dengan perlahan Vanya pun memutar lehernya dan melihat Riki yang sedang berusaha untuk berdiri.


"Jadi Sisi nggak di apa-apain?" Vanya pun kembali bertanya.


Namun murid tersebut menggeleng.


"Di peluk?"


Lagi-lagi murid itu menggelengkan kepalanya.


"Di pegang-pegang?"


"Om, Riki bantuin aku waktu jatuh Miss."


"Mampus," Vanya pun menutup mata, menyadari bahwa dirinya yang sedang melakukan kesalahan. Dan ini untuk yang kedua kalinya Vanya berbuat kasar. Belum juga selesai masalah satunya kini sudah menambah masalah yang lainnya.


"Sisi, boleh pergi. Pasti Mama udah nungguin di pintu gerbang."


Setelah memastikan Sisi pergi, barulah Vanya melihat Riki kembali.


Dengan tatapan matanya yang tajam Riki pun terus menatap Vanya.

__ADS_1


"Om..."


__ADS_2