Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Akal licik yang sudah tersusun rapi.


__ADS_3

Dengan anggunnya Cahaya turun dari mobilnya, mobil baru di belikan oleh Alex sebagai hadiah karena Cahaya adalah lulusan terbaik. Dengan langkah kaki perlahan mulai berjalan masuk. Ruangan sudah tersedia untuknya walaupun Alex sudah berhenti bekerja dan memutuskan untuk mengurus perusahaan keluarga tetapi tetap saja Cahaya di kenal sebagai putri Dokter Alex. Mantan presiden di rektur rumah sakit Stay Healthy.


"Anaknya Dokter Alex cantik ya." Beberapa Dokter berbisik-bisik seakan memuji kecantikan seorang Cahaya. Padahal dirinya tidak sedang tebar pesona, tapi entah mengapa masih banyak lelaki yang meliriknya.


Cahaya pun mulai memasuki ruangan nya hingga akhirnya memeriksa pasien. Hari ini benar-benar bersemangat, apa lagi anak-anak itu sangat menggemaskan. Sampai akhirnya sampai pada pasien terakhir.


"Silahkan duduk Ibu, Adek nya sakit apa?" Cahaya belum melihat ke depan karena berusaha mengambil bolpoin yang terjatuh di lantai.


Sampai akhirnya berhasil dan betapa terkejutnya Cahaya melihat pasien di hadapannya.


"Saya demam Bu Dokter," kata Felix sambil berpura-pura menggigil.


Cahaya pun terlihat bingung, ekspresi wajahnya mendadak berubah karena pasiennya adalah Felix. Dirinya adalah Dokter anak sedangkan Felix sudah dewasa.


"Aku ini Dokter anak!" Cahaya pun melepas kaca matanya sambil memperingati Felix apa profesi nya.


"Aku juga anak, anak Nayla dan Devan," ujar Felix.


"Dasar gila!" Cahaya pun memilih berdiri dan ingin pergi. Tapi dengan cepat Felix melompati meja kerja Cahaya dan menarik tangan Cahaya.


Sedangkan Felix merebahkan dirinya di atas brankar yang biasa di gunakan untuk memeriksa pasien anak.


"Coba periksa dulu, Uhuk..... Uhuk," Felix pun terbatuk-batuk dan itu hanya acting semata.


Lalu bagaimana dengan Cahaya.


Apakah Cahaya tahu?


Tentu saja!


"Aku mau pulang, aku mau istirahat!" Cahaya pun bersiap siap untuk pergi.


Tetapi dengan cepat Felix memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Felix!" Cahaya menatap kesal, dirinya kesal sekali pada Felix yang terus saja muncul di mana pun dirinya berada.


"Ayolah Cahaya."


"Apanya?" Cahaya tahu Felix sehat-sehat saja, tentunya tidak ada yang perlu di periksa.


"Kiss!" Felix pun menunjukkan bibir nya.


"Apaan sih!"


"Nggak, bercanda. Maksudnya periksa aku! Aku demam, meriang, menggigil, dll"


"DLL, apa?" Cahaya pun menunjukkan wajah masamnya kesal pada Felix.


"Dan love love!" Jelas Felix.


Brak!


Cahaya pun memukul Felix dengan sebuah buku, semakin lama, Felix semakin bertambah gila.


"Cepat periksa atau aku yang memeriksa mu?" Tawar Felix.


"Siapa anda?" Ketus Cahaya.


"Felix Bima Putra," Felix pun meloncat dari atas brankar tepat di hadapan Cahaya.


Tiba tiba tubuh Cahaya terbawa seiringan dengan tarikan pada tangannya hingga berakhir di atas ranjang.


"Felix jangan gila!"


"Kau tidak mau memeriksa ku?" Felix pun tersenyum penuh misteri hingga membuat Cahaya merasa ngeri.


"Baiklah, aku akan memeriksa mu!"

__ADS_1


Akhirnya Cahaya terpaksa menyetujui untuk memeriksa Felix walaupun sebenarnya ini terdengar konyol. Sebab, Felix tidak sedang sakit sama sekali.


"Bagus, baiklah Bu Dokter," Felix pun kembali berbaring di atas ranjang.


Sedangkan Cahaya pun mulai memasang stetoskop dan mengarahkan pada dada Felix, tidak ada yang perlu di periksa.


"Aku sakit apa?" Tanya Felix.


"Sakit jiwa!"


Cahaya pun melemparkan stetoskop hingga mengenai dahi Felix dengan cepat dirinya menyambar tas tangan miliknya. Lalu berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari Felix.


"Ya ampun, sakit sekali," Felix pun menggosok-gosok kepalanya. Kemudian mengambil stetoskop milik Cahaya dan menciumnya.


"Baunya saja aku sudah sangat suka," Felix pun tersenyum tanpa kemarahan sama sekali.


Seketika itu ponselnya berdering, tertulis nama Devan di sana. Dengan cepat dirinya turun dari atas brankar dan menjawab panggilan tersebut. Melupakan kekonyolannya, Felix kembali menjadi dirinya yang irit bicara dan memiliki wibawa tinggi.


"Halo."


"Kamu di mana? rapat lima menit lagi! Ingat, kau harus bisa mengurus perusahaan!" Devan memberikan peringatan dan memutuskan panggilan sepihak.


Felix pun meremas ponselnya.


"Dasar Devan, coba saja kau ada di hadapan ku saat ini!" Felix seakan marah pada Devan, padahal sebenarnya dirinya tidak memiliki keberanian untuk melawan Ayahnya yang paling di sayanginya tersebut.


Felix pun memilih keluar dari ruangan itu. Sampai akhirnya dirinya berada di parkiran, melihat Cahaya sedang kesal karena ban mobilnya kempes.


"Hay," Felix pun menyandarkan tubuhnya pada mobil, kedua tangannya berada di dalam saku celananya.


Cahaya mendesus kesal, tahu siapa pria gila itu. Tetapi Cahaya memilih tidak perduli sama sekali.


"Taxi!" Cahaya segera masuk ke dalam taksi, kemudian pergi dengan taksi yang membawanya.

__ADS_1


Felix pun mengambil ponselnya, kemudian mengirimkan nomer plat taksi yang di tumpangi Cahaya pada orang suruhannya.


"Kenapa dia itu sangat cantik? Ingin rasanya aku masukkan ke bawah selimut ku dan ku peluk sampai pagi," kata Felix dengan akal licik yang sudah tersusun rapi.


__ADS_2