Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Bodo amat..


__ADS_3

Dua hari pun berlalu, seakan semuanya begitu lambat berjalan. Vanya merasa ada yang berbeda, semenjak dua hari tak bertemu dengan Riki rasanya ada yang kurang. Tak ada lagi orang yang membuatnya kesal, hingga ingin sekali untuk bertemu kembali. Entah apa yang terjadi pada bocah itu, hingga hari-harinya juga seakan tak lagi berwarna semenjak itu.


Vanya pun menatap layar ponselnya, apa yang di harapkan oleh Vanya?


Riki menghubungi dirinya, tapi tidak.


Dan membuatnya semakin lesu, hingga akhirnya pucuk di cinta ulan pun tiba.


Ponsel Vanya pun bergetar dan tertulis nama Riki di sana.


Vanya pun menggosok kedua matanya, memastikan tidak salah dalam membaca. Setelah itu barulah menjawab panggilan tersebut.


"Halo Om," jawab Vanya dengan senyum yang berbinar, tetapi sungguh dirinya sangat merindukan Riki.


Duda lapuk yang biasanya membuatnya terus saja kesal. Riki hanya diam saja, mendengar suara Vanya sungguh membuatnya lebih baik.


Namun bagaimana dengan Vanya? Kesal.


Tentu, sebab Riki hanya diam saja tanpa bicara sama sekali. Atau mungkin karena terlalu merindukan Riki membuatnya sedikit sensitif.


"Halo Om duda lapuk!" Seru Vanya lagi melalui sambungan telepon seluler.


Riki pun tertawa mendengarnya sesuatu yang sederhana namun siapa sangka semuanya begitu penuh makna.


"Lah, ketawa. Nggak waras!" Pekik Vanya, masih pada sambungan telepon seluler.


"Apa kabar?" Tanya Riki yang tampak sibuk dengan pekerjaannya, tetapi sejenak meluangkan waktu untuk menghubungi Vanya.


Hanya untuk mendengar suara seorang bocah yang cukup membuatnya bergetar dan menghidupkan perasaan yang pernah mati karena kecewa.


"Baik, Om kapan pulang? aku kangen tau Om," kata Vanya tanpa sadar.


"Kangen?" Tanya Riki terkejut.


Tentu saja Riki terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Vanya, sesuatu yang sepertinya cukup mustahil untuk di ucapkan oleh Vanya.


Tetapi, jika memang benar demikian tentulah lebih membuat Riki semakin bahagia lagi tentunya.


"Ups!" Vanya menutup mulutnya, tetapi sesaat kemudian kembali lagi tersenyum.


"Dikit Om soalnya nggak ada yang nemenin aku shopping di Mall," kata Vanya lagi.


Sedikitnya urusan berbelanja, sedangkan yang lainnya adalah karena kerinduan akibat sudah biasa bersama.


Biasanya yang selalu bertengkar, mengerjai dan membuat onar. Namun, saat berjauhan terasa ada yang kurang.


"Kenapa tidak gunakan black card nya, bukannya masih di kamu?" Tanya Riki bingung.

__ADS_1


"Tapikan nggak ada yang bawain belanjaan aku Om," sejujurnya bukan belanja yang paling di inginkan Vanya melainkan bertemu dan bertengkar yang tidak terasa semakin mengikat keduanya pada sebuah perasaan yang kian takut saling melepaskan.


Meskipun Vanya belum menyadarinya dengan pasti tentang perasaan yang sudah ada di hati.


Hingga tiba-tiba jantung Vanya berdetak kencang saat mendengar suara seorang wanita.


Bersamaan dengan itu sambungan telepon pun terputus membuat Vanya terdiam sambil menatap layar ponselnya dengan nanar. Tetapi tidak mengerti dengan perasaannya yang mendadak kacau, bahkan ingin menangis dengan keras.


"Ya ampun aku kenapa? Lagian Om Riki juga ngeselin banget deh!" Vanya pun akhirnya masuk ke dalam kamar kembali. Ninda pun menyadari ada yang berbeda dari Vanya.


Membuatnya bertanya-tanya dan memutuskan untuk menyusul masuk pula.


Seketika itu Ninda pun bertanya, lagi pula sudah dua hari ini hati Vanya seakan begitu kacau.


"Kamu kenapa sih? Kok wajahnya masam banget, betah banget di kamar. Tumben ada masalah?" Cerca Ninda dengan berbagai rentetan pertanyaan.


Vanya pun melirik Ninda dengan suasana hati yang begitu kacau dan begitu membingungkan. Bahkan ingin sekali mencekik leher Riki setelah mendengar suara wanita barusan.


Bukankah sebelum pergi Riki mengatakan Cinta?


Lantas apa?


Apakah semua itu hanyalah kebohongan semata?


Jika iya untuk apa?


Bahkan Vanya kesal pada dirinya sendiri yang terus saja memikirkan Riki tanpa hentinya.


"Vanya? Kamu yakin nggak mau bercerita ke aku? Atau sekarang ini kamu sedang menganggap aku hanya pembantu saja?" Tebak Ninda.


Sebab sejak kemarin Vanya hanya diam, sesekali marah jika Ninda bertanya tanpa jelas alasan pasti.


Namun, tak ada sama sekali dihatinya menganggap Ninda hanyalah pembantunya, semua itu terjadi dengan begitu saja.


"Nggak gitu Ninda, aku nggak ngerti kenapa bisa mikirin Om Riki terus menerus. Aku merasa ada yang hilang saat ini dan dia juga sempat mengatakan cinta sebelum berangkat ke luar Negeri. Tapi apa? Barusan aku dengar ada suara seorang wanita, aku harus gimana?" Tanya Vanya agar Ninda tahu tentang dirinya yang sedang kacau.


Sungguh semua tidak seperti yang di pikirkan oleh Ninda.


"Apa jangan-jangan kamu juga suka sama Om Riki?" Tebak Ninda yang kini duduk di samping Vanya.


Vanya pun beralih menatap wajah Ninda dengan penuh tanya, menimbang apa yang di katakannya barusan.


"Suka?" Vanya kembali bertanya, sebab dirinya juga bingung


"Ya, soalnya selama kamu nggak ketemu sama Om Riki aku melihat kamu itu kayaknya gimana gitu."


"Apa iya, Nin?"

__ADS_1


"Ya tergantung kamu!"


"Taulah Ninda, aku tidur dulu ya. Pusing aku mikirin itu," Vanya pun masuk ke bawah selimut, menutup mata agar terlelap sehingga tidak terus tersiksa karena rindu yang semakin menyiksa terhadap Riki.


Vanya benar-benar terlelap, tak mendengar suara ponselnya yang terus saja berbunyi dan tertulis nama Riki di sana.


Sore harinya Vanya pun terbangun melihat ada banyak panggilan dari Riki.


Dirinya bukannya bahagia malah kesal karena mengingat suara seorang wanita saat lalu dan meyakini sepertinya Riki tidak sendirian.


Vanya kembali mengingat seorang Riki yang sangat menyukai dunia malam, bersenang-senang dengan banyak wanita di luar sana.


Pupus sudah harapan Vanya untuk bisa menjadi wanita satu-satunya di hidup Riki setelah meyakini rasa cinta yang bersarang di dada.


Hingga ponsel Vanya pun kembali berdering, Vanya melihat nama Riki lagi-lagi muncul.


Tetapi, memilih untuk mendiamkan saja tanpa ingin menerimanya.


Hati Vanya tidak bisa tenang memikirkan segala pikiran buruk tentang Riki yang pastinya sedang bersenang-senang bersama wanitanya.


Malam harinya Vanya melihat bulan yang bersinar dengan terangnya di langit yang gelap, dirinya yang berdiri di depan jendela kamar lagi-lagi hanya memikirkan Riki.


Entah kenapa bisa begini, padahal selama berpacaran dengan mantan kekasihnya semua tidak begitu menyiksa seperti saat ini.


Mengapa saat berjauhan dari Riki malah begitu menyiksa, bukankah selama ini tak pernah ada sesuatu yang baik hingga pantas untuk membuatnya menjadi seperti ini.


Ya ampun, apa yang bisa di lakukan oleh seorang Vanya.


"Vanya!" Ninda pun masuk ke dalam kamar, melihat Vanya yang hanya diam saja. Padahal ponselnya terus saja berdering.


"Ya?"


"Tuh, Om Riki. Nggak di jawab dulu?"


"Males ah, dia PHP. Padahal, aku udah berpikir buat menerima cintanya setelah kembali nantinya. Tapi, semua rusak. Udahlah mendingan nggak usah mikirin dia!"


"Siapa yang mikirin dia? Kamu yang mikirin dia terus-menerus, uring-uringan nggak jelas padahal intinya cuma pengen ketemu sama Om duda itu!"


Vanya pun menggaruk kepalanya, merasa apa yang di katakan oleh Ninda memang benar adanya.


Tapi bagaimana lagi, rindu ini sungguh sangat menyiksaku.


Bukan hanya rindu, tapi juga kekesalan yang berkecamuk setelah Vanya mendengar suara seorang wanita dari balik sambungan telepon saat siang tadi.


Dirinya juga merasa di tipu atas cinta yang di ucapkan oleh Riki dan membenci dirinya yang sadar sudah jatuh hati pada Riki.


Hingga akhirnya Vanya pun melempar ponselnya yang terus saja berdering itu, hingga berserakan di lantai dan tak bisa lagi di gunakan.

__ADS_1


"Bodo amat!" Umpat Vanya penuh kekesalan.


__ADS_2