Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Gangguan!


__ADS_3

Sampai di rumah pun Reyna merasa kacau, penyebabnya adalah saat bertemu dengan wanita yang bernama Aliya barusan.


Mengapa Nayla harus mengatakan hal itu, demi apa? Agar membuatnya kesal?


Napas Reyna terus saja memburu bersamaan dengan dada yang naik turun.


Segera menuju dapur dan meminum mineral yang mungkin bisa membuat perasaan sedikit membaik.


"Adek manis," Nanda pun baru saja sampai di rumah, seketika mencari keberadaan Reyna.


Hingga melihat istrinya berada di dapur, tetapi juga ada yang berbeda.


Wajah Reyna terlihat tidak baik-baik saja, matanya menatap begitu tajam.


Bahkan, seperti ingin menelan Nanda hidup-hidup.


"Sini!" Reyna pun menarik tangan Nanda menuju wastafel, kemudian mencuci bibir Nanda dengan tangannya sendiri.


"Reyna," Nanda pun berusaha untuk menjauh, bingung dengan sikap Reyna yang mendadak aneh.


"Kamu kenapa sih?


"Tadi aku ketemu sama Aliya! Tau Aliya?" Nada suara Reyna meninggi kesal pada Nanda semakin besar, apa lagi saat menyebutkan nama wanita yang pernah mendapatkan ciuman dari Nanda tersebut.


"Aliya?" Nanda terdiam dan menggaruk kepalanya, sama sekali belum mengerti.


"Nggak usah pura-pura, dia itu mantan gebetan kamu. Kamu pernah cium dia kan? Nayla saksinya!" Papar Reyna


Nanda pun mulai mengingat wanita tersebut, tapi kenapa malah Reyna membahas wanita itu? Padahal dirinya juga sudah lupa, namun bisa mengingat jika memang di ingatkan. Tapi untuk apa? Dan Nayla! Untuk apa Nayla mengatakan pada Reyna tentang itu semua. Apa sahabatnya tersebut sedang mencari masalah. Belum lagi Reyna yang sekarang jauh lebih sensitif.


"Kenapa diam? Sedang mengenang masa lalu yang indah itu!" Tebak Reyna penuh amarah.


"Reyna, dengarkan aku dulu..."


"Nahkan! Panggilnya aja udah nama! Kamu udah berubah!"


Reyna pun segera melengos pergi, kesal Nanda yang pastinya sedang memikirkan Aliya lagi.


"Apa ini?" Nanda pun melihat Reyna yang sudah memasuki kamar, tidak lupa dengan membanting pintu dengan kerasnya.


Nanda sampai tersentak seketika itu mengelus dada dengan cepat.


Nanda yang biasa memegang senjata api malah bisa shock dengan bantingan pintu.


Aneh bukan?


"Ini harus di selesaikan," Nanda pun segera menghubungi Nayla, bertanya mengapa bisa ada pembahasan tentang masa lalunya bersama Aliya.


"Apa!" Jawab Nayla dari seberang sana dengan suara kesal.


"Maksudnya apa?" Tanya Nanda tanpa basa-basi.


Nayla sudah bisa menebak, pasti Reyna dan Nanda sedang bertengkar.


Dirinya tersenyum puas.


"Mampus! Kita impas!" Segera Nayla memutuskan panggilan sepihak.


Bahkan mematikan ponselnya sekaligus, agar Nanda tidak bisa menghubungi dirinya lagi.


"Biar saja, kamu ribut sama istri mu. Aku juga sedang di cuekin sama suami ku," kata Nayla berbicara sendiri.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba melihat Devan yang melewati ruang keluarga.


Nayla yang masih berdiri di sana pun mulai memutar otak agar bisa berdamai dengan Devan.


Dengan sengaja berjalan dan menyenggol vas bunga, kemudian berpura-pura terjatuh di lantai.


"Aduh, sakit," Keluh Nayla sambil memegangi lututnya.


Devan berhenti melangkah, kemudian beralih menatap Nayla.


"Kayaknya kaki aku keseleo, sakit banget, aduh," Nayla pun terus menjerit merintih seakan kesakitan.


Devan pun menarik napas, kemudian mendekati Nayla. Lalu setengah berjongkok.


Nayla tersenyum bahagia, merasa idenya berhasil. Seketika itu juga mengulurkan tangannya, seperti biasanya.


Pasti Devan mengangkat dirinya, kemudian sedikit merayu dan selesaikan di atas ranjang.


Yakin!


Sudah pasti akan berdamai kembali tanpa terkecuali.


Ah!


Nayla merasa wanita yang paling pintar di dunia ini, bahkan dirinya bersyukur bisa diberikan otak selancar ini. Bisa membuat Devan berdamai dari kecemburuan hanya dalam hitungan menit. Namun, sayangnya Devan malah mengetuk kepala Nayla.


"Aduh!" Nayla pun meringis kesakitan, walaupun sebenarnya tidak terlalu. Akan tetapi hanya sedang terkejut saja sebab apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Kamu pikir Mas tidak tahu kamu sedang berbohong?"


"Hehe, Mas tau ya?" Nayla cengengesan sambil menunjukkan dua baris gigi rapinya.


"Dasar!" Devan pun kembali menyentil kepala Nayla untuk kedua kalinya.


Devan pun berdiri tegak, kemudian pergi begitu saja tanpa membantu Nayla.


"Mas!" Seru Nayla.


Mengapa Devan malah pergi begitu saja tanpa membantunya sama sekali.


"Hem?" Jawab Devan dari kejauhan beberapa meter.


Dengan kesal Nayla pun bangkit, kemudian berjalan ke arah Devan.


"Dasar aneh! Bantuin kek!" Omel Nayla.


Devan tersenyum miring, kemudian berjalan menuju dapur.


"Mas, damai yuk," Nayla tidak bisa berjauhan dengan Devan. Entah mengapa saat sedang mengandung pasti dirinya sangat membutuhkan Devan.


Sehingga tidak kuat jika tidak di hiraukan sedikit pun oleh suami arrogant nya tersebut.


Devan membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng, meneguknya dan pergi menuju ruang televisi.


Nayla pun menyusul, duduk di samping Devan. Tidak lupa sambil membawa minuman juga di tangannya.


Nayla duduk dengan mengikuti gaya Devan, apapun yang dilakukan oleh Devan ikut dilakukan oleh Nayla juga.


Termasuk saat Devan menatap aneh padanya, karena bingung ada apa dengan istrinya itu.


"Kumat?" Tanya Devan dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Katanya kalau suami istri itu harus saling mengikuti, mendukung satu sama lainya. Nah, ini aku mengikut saja," ujar Nayla.


Devan pun merasa lucu, kemudian menarik Nayla dan menjepit kepala istrinya tersebut ke dalam ketiak nya,


"Mas, bau!" Seru Nayla kesal.


"Ahahahhaha," Devan pun tertawa melihat kekesalan Nayla.


"Mas, Jahat!"


"Ih, sayang istri Mas," Devan pun menarik pipi Nayla dengan gemas.


"Mas, ish!"


"Kenapa?"


"Malu!"


Ingin sekali Devan membawa Nayla terbang ke bulan, agar bisa berdua saja tanpa ada pekerjaan yang membuat pikirannya bercabang dua.


Bila saja bisa Devan hanya akan memikirkan Nayla seorang saja.


"Mas, ngeliatnya gitu banget sih!"


"Kenapa? Mas kan sayang kamu"


"Mas, jangan liat gitu! Nggal kuat!"


"Kok nggak kuat? Lanjut di kamar yuk!"


"Yuk," Nayla pun mengangguk setuju,"


"Gendong," Rengek Nayla.


"Iya," Devan tentunya setuju saja, namun tiba-tiba Felix dan Adnan datang.


"Ayah ngapain?" Tanya Adnan.


"Kaki Bunda sakit?" Felix bertanya.


"Ah," Devan mendesus dan menggaruk kepalanya.


"Iya," jawab Nayla, agar Devan tidak kebingungan mencari jawaban.


"Oh, gendong aja Bunda. Nanti jatuh kalau jalan," usul Adnan.


"Setuju," dengan cepat Devan mengangkat Nayla dan membawanya ke kamar. Agar misi pun bisa segera dijalankan di atas ranjang dengan cucuran keringat tentunya.


Sayangnya semuanya rusak karena Felix dan Adnan pun menyusul masuk ke dalam kamar.


"Kalian ngapain?" Devan ingin sekali mengunyah kedua anaknya.


"Ini es batu Yah, buat ngompres kaki Bunda."


"Ayah juga butuh kayaknya," kata Nayla sambil menahan tawa. Mengejek suaminya.


"Ayah kepanasan?" Tanya Felix dengan polosnya.


"Sedikit!" Lagi-lagi Nayla yang menjawab karena Devan masih diam dengan wajah penuh kemarahan.


"Dimana panasnya Yah?"

__ADS_1


Devan tidak menjawab sama sekali, diam duduk di sudut ruangan sambil menunggu Nayla yang sedang di kompres kakinya oleh Adnan dan Felix.


__ADS_2