
"Om, Adnan bohong," Rena pun menggelengkan kepalanya berharap Devan tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Adnan.
"Adnan, kamu jangan bohong dong."
"Bohong dari mana?" Tanya Adnan seakan tanpa dosa.
"Bukannya kamu sudah pengen banget nikah?" Kali ini Reyna yang menimpanya.
Reyna tahu kalau putrinya tersebut menyukai Adnan, saat itu tanpa sengaja Reyna membaca buku harian Rena.
Hingga mengetahui bahwa putrinya itu sudah tahu apa itu jatuh cinta.
"Nikah aja yuk," Adnan menyenggol lengan Rena.
"Tidak masalah sih, kan seharusnya yang menikah hari ini Felix dan Rena. Ya, sudah biar keduanya benar-benar menikah hari ini, walaupun dengan pasangan mereka masing-masing." kata Nayla memberi usul.
"Ya, aku setuju saja," jawab Reyna.
Nayla pun melirik Nanda yang dari tadi hanya diam saja.
"Aku mengikut saja," jawab Nanda.
"Rena, kamu mau menikah dengan Adnan atau Adnan, Bunda jodohkan dengan wanita lain?" Nayla pun menatap Rena dengan serius, seakan tidak main-main dengan apa yang di katakan olehnya.
"Jangan Bunda!" Seru Rena dengan refleks.
Sesaat kemudian Rena pun menutup mulutnya menyadari sikap berlebihan nya barusan.
"Ehem... Ehem," Kata Reyna yang membuat yang lainnya menahan tawa.
Sedangkan Rena kini merasa malu.
"Nikah?" Tanya Adnan lagi.
Rena hanya diam tanpa menjawab apapun, matanya mengedar menatap wajah-wajah di sekitarnya yang begitu menantikan jawabannya.
"Sudahlah nikahkan saja, dari pada ada yang galau-galau lagi sampai pulang ke kampung halaman," ujar Nayla menyinggung Adnan.
"Setuju, dari pada ada yang makan juga nggak enak. Tidur nggak nyenyak, pengennya di kamar mulu," Reyna pun menimpalinya.
"Umi," Rena mencubit lengan Reyna, kesal saat aib nya malah di buka.
"Begitu?" Adnan tersenyum mengejek Rena.
Selama ini Adnan berpikir jika Rena tidak menyukainya, bahkan sudah memiliki laki-laki lain yang lebih baik darinya. Hingga membuatnya menghilang setelah hari itu, Adnan merasa malu saat Rena tahu perasaannya.
__ADS_1
Namun ternyata malah keputusan untuk menghilang adalah kesalahan, sebab cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Melainkan Rena juga memiliki perasaan padanya, rasa rindu tak bertemu beberapa hari ini benar-benar tak bisa lagi di bendung.
Akhirnya setelah Cahaya dan Felix menikah kini Rena dan Adnan yang menikah di hari itu juga.
Rena memakai gaun pengantin milik Cahaya yang seharusnya memakai dua gaun di hari itu, namun kini gaun itu akhirnya di pakai oleh Rena.
Tidak masalah, Cahaya sangat senang saat ini. Sebab, dirinya tak merasa bersalah karena merasa menjadi wanita jahat yang menghancurkan pernikahan Rena.
Wajah bahagia kedua orang tua mereka pun tak kalah bersinar.
Nayla dan Reyna tampak bahagia, sebab persahabatan mereka yang kini menjadi keluarga.
"Ya ampun, besan," seloroh Reyna.
"Ya besan," seru Nayla tak kalah bahagia.
"Ya ampun Nayla, aku tidak menyesal sudah begitu dekat dengan mu. Ternyata kita calon besan saat itu," celetuk Nanda mengingat dirinya dan juga Nayla sudah bersahabat sejak masih sekolah.
"Iya, betul," Nayla pun tersenyum dan membenarkan apa yang di katakan oleh Nanda.
Suasana semakin meriah, para tamu undangan pun seakan ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan dua pengantin yang tengah berbahagia.
Sedangkan Vanya duduk di pojokan, wajahnya begitu murung sekali hingga membuat Cahaya dan Rena bingung.
Keduanya pun menghampiri Vanya dan bertanya.
"Waaaaaaa!" Vanya pun menangis kencang dan memeluk Devan.
"Anak Ayah kenapa?" Devan akan sangat panik jika anak perempuannya itu menangis bahkan ketakutannya akan sangat berlebihan.
"Vanya, ada apa?" Nayla pun ikut penasaran.
"Aku sama siapa? Rena sama Aya udah punya suami! Kak Adnan dan Kak Felix juga udah punya istri, aku jomblo sendirian....." Seru Vanya dengan air matanya yang menetes.
"Anak Ayah mau menikah juga?" Tanya Devan.
"Emang boleh?" Vanya bertanya kepada Devan dengan serius.
"Boleh," jawab Devan.
"Beneran?" Wajah Vanya begitu sumringah karena Devan mengijinkan nya untuk menikah.
"Tapi calon suami mu mana?"
"AYAH!" Teriak Vanya yang membuat semua orang menutup telinga. Vanya adalah wanita jomblo jadi bagaimana caranya untuk menikah.
__ADS_1
"Ahahahha," semua anggota keluarga tertawa melihat kepolosan Vanya. Bahkan, para tamu undangan pun ikut tertawa mendengarnya.
Suasana hari ini benar-benar begitu meriah, semuanya begitu bahagia.
"Ayah, gendong," Vanya pun meminta Devan untuk menggendongnya.
Sekalipun usia sudah tak lagi muda tapi kekuatannya tak perlu di ragukan.
Bahkan Nayla pun masih mengakui kekuatan suaminya tersebut.
"Dasar bocil, gimana mau menikah?" Ejek Felix sambil mengetuk kepala adik bungsunya itu.
"Ayah! Kak Felix jahat!" Vanya pun mengadu pada Devan.
"Felix, dia anak ku!" Tegur Devan.
"Dasar anak kecil!" Ejek Felix.
"Aku anak Ayah! Dari pada kamu?" Vanya pun tidak mau mengalah.
"Aku anak siapa?" Tanya Felix dengan senyuman miring layaknya anak kecil.
"Anak Devan!" Jawab Vanya.
"Ahahahha," semuanya kembali tertawa, sebab anak-anak itu sudah dewasa tetapi masih bersikap seperti anak kecil saja.
"Aku yang anak Bunda," Adnan pun memeluk Nayla.
"Kamu anak terbuang!" Celetuk Vanya dengan tawa yang menggelegar.
Adnan pun menatap Felix.
Hingga keduanya mendekati Vanya dengan cepat keduanya menarik Vanya dari punggung Devan kemudian mengayunkan hingga beberapa kali.
"Kak Felix, Kak Adnan!" Seru Vanya.
"Satu......Dua..... Tiga!"
Byur!
Vanya pun di lemparkan ke dalam kolam renang.
"Dasar anak Devan!" Seru Vanya penuh kemarahan.
"Kenapa Ayah?" Tanya Devan sambil menatap Vanya dengan tawa.
__ADS_1
"Ahahahha......"