Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Membongkar rahasia.


__ADS_3

"Semangat Kakandaku," Vanya terus saja memberikan semangat pada Riki.


Meskipun sebenarnya Riki sudah sangat kelelahan, jangankan untuk setengahnya terkuras. Untuk seperempat dari isi kolam juga belum ada.


Padahal hari sudah malam, perasaan Riki benar-benar kacau karena memikirkan Vanya yang mungkin nantinya sulit untuk bersatu.


"Riki, ayo makan malam," Nayla pun menghampiri Riki, merasa kasihan pada calon menantunya tersebut.


"Iya, Bunda. Tapi, bajunya basah. Biarkan aku di sini saja," kata Riki.


Nayla pun melihat pakaian Riki yang basah, kemudian memikirkan sesuatu.


Hingga akhirnya Nayla pun pergi kemudian kembali dengan handuk dan juga pakaian bersih milik Felix yang sengaja di minta oleh Nayla.


"Riki, ganti baju mu. Setelah itu kita makan malam bersama. Bunda, tunggu di meja makan," setelah mengatakan itu Nayla pun pergi.


Tidak lupa untuk mengajak Vanya juga ikut bersama dengan dirinya terlebih dahulu menuju meja makan.


Riki pun melihat handuk dan pakaian bersih di tangannya, pikirannya malah melayang jauh.


Dirinya tidak bisa jika harus menunggu Vanya selesai kuliah, lantas bagaimana juga kolam renangnya tidak terkuras habis.


Malah yang ada pikiran Riki terkuras habis memikirkan nasib percintaannya dengan Vanya kedepannya seperti apa.


Riki pun memilih untuk menuju toilet, kemudian mengganti pakaiannya.


Menyusul yang lainnya yang berada di meja makan, apapun yang terjadi nantinya Riki siap untuk menghadapi.


Meskipun di samping itu Riki tetap saja memikirkan cara untuk bisa menikahi Vanya dalam waktu yang cepat.


"Riki, ayo duduk," Nayla tersenyum dan langsung menyapa Riki dengan ramah.


Tidak perlu marah pikir Nayla, sebab percuma saja hanya membuat keadaan menjadi buruk.


Lagi pula dirinya sudah tahu seperti apa cerita percintaan Riki yang begitu mengenaskan, benar-benar membuatnya merasa iba.


Masalah status Riki yang sudah pernah menikah rasanya bukan masalah besar, mengingat Devan belum juga menjadi duda sudah menikahinya diam-diam.


Meskipun karena terpaksa, tetapi tetap saja namanya pernikahan mereka terjadi juga.


Apakah Devan selamanya dianggap bersalah? Tidak, sebab membuatnya bahagia dan juga menjadi idola tersendiri bagi anak-anak yang mengagumi kecerdasan Ayahnya itu.


"Kakanda, duduk," kata Vanya. Sebab, Riki masih saja berdiri di tempatnya.


"Huuueekkk," Rena langsung saja bangkit dari duduknya, sungguh sudah tak dapat menahan rasa mual yang sangat luar biasa.

__ADS_1


"Rena," Adnan juga ikut bangkit dan menyusul Rena yang sudah berlari menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


Huuueekkk.


Rena terus saja muntah tanpa hentinya membuatnya benar-benar merasa kelelahan setelahnya.


"Sudah lebih baik?" Tanya Adnan yang tampak begitu khawatir akan keadaan istrinya.


"Kepala ku pusing Mas," Rena pun memijat kepalanya yang sangat pusing, sedangkan satu tangannya memegang perutnya yang tidak nyaman.


"Ya sudah, kita ke kamar saja. Nanti makannya di kamar aja," Adnan langsung mengangkat tubuh Rena, membawanya menuju kamar.


Dirinya tahu Rena begitu lelah hingga tidak tega membiarkan untuk berjalan menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar Adnan pun merebahkan tubuh Rena secara perlahan, memberikan mineral agar bisa membuat istrinya jauh lebih baik.


"Makasih ya Mas, maaf kalau aku ngerepotin," kata Rena dengan perasaan tidak enak.


Adnan pun duduk di samping Rena, kemudian memegang perut rata istrinya tersebut.


"Seharusnya Mas yang minta maaf, karena Mas kamu jadi begini. Anak Papa. jangan nakal ya, kasihan Mama," kata Adnan yang seakan berbicara pada janin yang ada dalam rahim Rena.


"Wajarlah anaknya nakal, orang Bapaknya juga nakal!" Kata Vanya yang langsung saja menyambar pembicaraan.


Padahal dirinya baru saja masuk ke dalam kamar, karena diperintahkan oleh Nayla untuk mengantarkan makanan untuk Rena.


Sebab keadaan Kakak iparnya sedang tidak baik-baik saja.


"Kau itu sangat suka sekali menyambar omongan orang!"


"CK!" Vanya pun meletakkan nampan di tangannya pada meja nakas, kemudian beralih menatap Rena.


"Rena, kamu mau anak mu jadi anak baik? Lihat dulu siapa Tante dan Mamanya yang pergi ke tempat hiburan malam diam-diam, belum lagi yang nyuri pakaian private tetangga demi menghilangkan jerawat!" Ujar Vanya.


Wajah Rena pun langsung memerah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vanya, bahkan Adnan seakan menatapnya penuh dengan tanya.


"Rena? Kamu mencuri pakaian tetangga?" Tanya Adnan.


"Hehe," Rena pun cengengesan.


"Tapi, waktu itu gagal Mas, soalnya nyangkut pas di colok pakai kayu. Jadi, ya, nggak jadi deh," Rena pun tersenyum kecut, merasa malu.


Hingga akhirnya dirinya beralih menatap Vanya yang mengesalkan itu.


"Itu juga ide mu, kamu yang ngasih ide aneh buat ngilangin jerawat. Untung aja nggak dapet!" Kesal Rena.

__ADS_1


"Ahahahhaha, kamu juga mau!" Vanya pun tertawa kemudian memilih untuk pergi dengan segera.


Sementara Rena masih saja merasa malu pada Adnan.


Kurang ajar memang adik iparnya itu, mempermalukan dirinya dengan nyata.


Adnan hanya menahan tawa sambil geleng-geleng kepala melihat wajah istrinya tersebut.


"Kamu ternyata tidak kalah aneh dari Vanya ya, kalian itu sepertinya beda tipis gitu," kata Adnan yang di selingi tawa kecil.


"Hehe," Rena lagi-lagi hanya bisa tersenyum kecut menahan malu.


Meratapi kebodohan yang malah mengikuti ide Vanya yang gila itu.


"Tapi, mulai sekarang kalau kamu mau tidak perlu mencuri pakaian tetangga. Pakaian Mas juga ada soalnya," goda Adnan.


Wajah Rena pun memucat seketika, kemudian menangis karena menahan malu yang tidak terkira.


Sementara Adnan semakin suka melihat wajah istrinya, memikirkan sesuatu yang mungkin lebih aneh lagi.


Mungkin saja banyak yang nyeleneh dari masa lalu istrinya, mengingat sahabat Rena adalah Vanya, adiknya yang sangat aneh.


"Mas!"


"Iya, tapi kalau mau tinggal ambil."


"Apaan sih!" Rena pun memilih untuk pergi masuk ke dalam toilet, dirinya sangat malu sekali karena Vanya membocorkan rahasia mereka berdua.


Lihat saja jika nanti Vanya sudah menikah, Rena juga akan mengatakan pada Riki seperti apa Vanya dulunya.


"Sayang, istri ku!" Adnan pun mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, berharap Rena segera membukanya, meskipun dirinya masih saja tersenyum-senyum sendiri karena mengingat apa yang dikatakan oleh Vanya barusan.


Sementara Rena masih kesal tetapi akhirnya memutuskan untuk membuka pintu juga.


"Istri Mas yang cantik cemberut, senyum dong."


"Nggak mau!"


"Ya, udah nggak apa-apa. Nggak senyum aja kamu tetap manis," Adnan tersenyum melihat istrinya.


Rena pun tersipu malu mendengar godaan Adnan yang sederhana itu.


"Ya, ampun. Makin lama senyumnya makin manis saja," tambah Adnan lagi.


"Dasar gombal!" Rena pun memilih untuk berjalan menuju ranjang, kemudian duduk diatasnya dengan wajah yang merona.

__ADS_1


Jatuh cinta itu memang sangat indah, bahkan keduanya berpacaran setelah menikah itu adalah yang begitu luar biasa dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


__ADS_2