Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Ujian untuk orang yang akan menikah.


__ADS_3

Di tempat lainnya tepatnya Vanya sedang disibukkan dengan memilih cincin yang begitu indah, pramuniaga toko terlihat begitu ramah. Bahkan mengeluarkan semua koleksi terbaik mereka.


Sehingga, Vanya sampai kebingungan untuk menentukan pilihannya. Bukan masalah harga, sebab sejak kapan Vanya perduli akan harga.


Namun, karena desain cincinnya yang memang sangat indah.


"Kamu bingung ya?" Tanya Riki saat melihat Vanya yang terlihat kesulitan memilih cincinnya.


"Iya, Mas. Nggak tahu mau pilih yang mana," sampai akhirnya Vanya pun melihat sepasang cincin dengan desain sederhana namun begitu indah.


"Yang ini aja gimana, Mas?" Tanya Vanya, Riki pun melihatnya kemudian mengangguk, sambil dalam hatinya berkata bahwa tumben sekali Vanya waras.


Karena panggilan Mas, artinya bocil itu sedang memakai otaknya dengan baik. Berbeda saat panggilannya berubah menjadi Kakanda ku, artinya otaknya sedang miring.


Tapi mau miring atau tidak pun Riki tetap cinta dan tidak bisa tanpa Vanya.


"Ya sudah, kalau kamu suka yang itu saja.


"Ya."


Setelah selesai memilih cincin kini keduanya berniat untuk langsung pulang seperti apa yang dikatakan oleh Nayla. Namun, tiba-tiba saja ada yang menabrak Vanya.


"Aduh," Vanya pun terjatuh.


Begitu juga dengan wanita yang menabrak dirinya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Riki panik sambil membantu Vanya untuk berdiri.


"Iya," Vanya pun berdiri dengan baik dan tidak merasa ada yang sakit.


Tetapi berbeda dengan lawan tabrakannya yang belum juga bangun, bahkan masih meringis kesakitan saja.


"Aduh Mbak, tolong saya," kata wanita tersebut pada Vanya, bahkan terlihat sepatu hak tinggi yang digunakannya sampai patah.


"Mbak nggak apa-apa?" Tanya Vanya berinisiatif untuk membantu wanita tersebut, namun belum juga membantu ternyata Riki dan wanita itu saling mengenali.


Terbukti saat wanita itu menyapa Riki seakan mereka memang sudah memilih kedekatan yang baik.


"Mas Riki?"


"Iya, kamu Sandra, 'kan?" Tanya Riki mengingat siapa wanita yang kini ada di hadapannya itu.


Sandra pun mengangguk kemudian kembali melihat kakinya.


Sementara Vanya hanya melihat saja, seakan bingung melihat dua orang itu yang cukup saling mengenal.


"Mas, bisa tolongin aku nggak. Kaki aku nggak bisa di gerakkan."


Riki pun sejenak terdiam sambil melihat Vanya yang hanya diam saja.


"Aduh," wanita tersebut kembali meringis menahan sakit, bahkan beberapa kali mencoba untuk bangkit.


Namun, hasilnya tidak bisa. Karena kakinya yang teramat sakit.


"Saya, aja yang mapah Mbaknya sampai ke mobil," Vanya langsung menawarkan dirinya, kemudian berusaha keras untuk menolong Sandra.


Tetapi, Sandra malah berteriak kesakitan membuat Vanya pun akhirnya mengurungkan niatnya.


"Kayaknya kaki aku patah deh," kata Sandra.

__ADS_1


"Lebay banget sih," gerutu Vanya.


"Mas, bisa tolong gendong nggak. Soalnya, ini salah temen Mas juga yang nabrak aku," kata Sandra yang seakan menyalahkan Vanya.


"Hey, kamu yang tiba-tiba nabrak aku!" Vanya tak akan mau diam saja saat dirinya dipersalahkan atas kejadian barusan.


Lagi pula Vanya merasa wanita tersebut hanya sedang melebih-lebihkan saja.


Tetapi, Sandra seakan tidak perduli pada Vanya yang emosi pada dirinya.


"Mas, aduh," wanita itu lagi-lagi meringis menahan sakit.


Membuat Riki pun tidak tahu harus bagaimana lagi, sebab Sandra adalah adik dari temannya yaitu Faiz.


Keduanya berhubungan cukup baik, di tambah lagi mereka sedang berada di keramaian dan menjadi tontonan orang sekitar.


"Sakit banget," kata Sandra lagi sambil terus memegang kakinya.


Akhirnya Riki pun segera mengangkat Sandra tanpa pikir panjang, dari pada terus menjadi tontonan dan takutnya ada yang merekam kejadian ini bagaimana nantinya.


Sementara Vanya malah kesal melihatnya, rasanya begitu menyakitkan sekali.


Dengan langkah kaki yang terburu-buru Vanya pun menyusul Riki.


"Mas, kamu kok gendong dia sih?" Tanya Vanya yang berjalan di belakang tubuh Riki.


"Mobil aku yang itu," kata Sandra yang seakan tidak perduli pada seorang wanita yang sedang kesal saat ini.


Riki pun segera membawa Sandra menuju mobilnya.


"Tapi, kayaknya aku nggak bisa nyetir. Bisa tolong bantuin nggak?" Pinta Sandra lagi.


"Vanya?" Panggil Riki.


Vanya pun berjalan dengan kesal, kemudian berdiri di hadapan Riki.


"Mas, ngapain sih mau nganterin dia?"


"Sayang, tadi kamu nabrak dia. Jadi, kita harus tanggung jawab. Minimal mengantarkan sampai ke rumahnya. Ayolah, belajar menjadi lebih dewasa, kita mau menikah," jelas Riki dengan suaranya yang lembut agar Vanya pun mengerti.


Akhirnya Vanya pun menurut pada perintah Riki.


"Kamu, bawa mobil Mas ya," Riki pun memberikan kunci mobilnya pada Vanya, kemudian dirinya segera masuk dan mengemudikan mobil Sandra untuk mengantar pulang.


Vanya pun semakin kesal saja, rasanya Riki begitu membuatnya hampir sulit untuk bernapas saja.


Segera Vanya pun menuju mobil Riki kemudian mengikuti mobil yang dikendarai oleh Riki di depannya.


Dalam hati terus saja menggerutu sebab dirinya sedang cemburu karena Riki tampak sangat dekat dengan wanita tersebut.


Beberapa saat kemudian Vanya pun menepikan mobilnya, mengikuti mobil yang di depannya yang tak lain dikendarai oleh Riki


Namun, Vanya kembali kesal saat Riki kembali mengangkat tubuh Sandra saat memasuki rumah.


Tangannya mencengkram kemudi mobil hingga sesaat kemudian Riki pun mengetuk kaca mobil.


"Sayang, Mas saja yang mengemudi," kata Riki.


"Nggak usah, aku aja!" Jawab Vanya ketus.

__ADS_1


Riki pun memilih untuk menuruti, kemudian masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Vanya.


"Enak ya, pegang-pegang perempuan. Iyalah, jiwa gatalnya kan meronta-ronta," kata Vanya menyindir Riki.


"Sayang, kamu bicara apa? Dia itu adiknya temen Mas, nggak ada apa-apa."


"Ya, emang aku percaya?" Vanya pun tersenyum miring, kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Sesaat kemudian menekan pedal gas dan melajukannya dengan kecepatan tinggi di tengah jalan raya.


Membuat Riki merasa terancam, bahkan jantungnya begitu berdetak hebat.


"Vanya, kurangi kecepatannya," kata Riki semakin panik.


"Biarkan saja," Vanya bahkan semakin menambah kecepatan laju mobilnya.


Hingga membuat Riki benar-benar ketakutan, namun beberapa saat kemudian mereka pun sampai di kediaman Vanya.


Vanya langsung saja membuka sabuk pengamannya tanpa ingin berbicara pada Riki.


"Sayang, kamu marah sama Mas?"


"Apaan sih, urusin aja itu wanita tadi!"


Dengan cepat Riki pun memegang tangan Vanya, agar wanita itu tidak turun dari mobil sebelum semuanya terselesaikan.


Riki juga takut jika Vanya terus saja marah-marah begini.


"Lepasin!"


"Sayang, dengarkan Mas dulu. Ini salah paham"


"Nggak usah, ngomong salah paham. Udahlah, mungkin sekalian aja nikahin perempuan tadi!"


Setelah berhasil melepaskan diri akhirnya Vanya pun segera turun dari mobil.


Masuk ke dalam rumah dengan langkah kakinya yang begitu cepat.


Riki pun ikut menyusul Vanya untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut.


"Vanya?" Nayla bingung melihat Vanya yang pulang-pulang terlihat kesal.


Hingga beberapa saat kemudian Riki pun muncul. Tetapi Vanya memilih untuk segera pergi menuju kamarnya.


"Vanya," panggil Riki yang hanya berdiri diambang pintu, karena tidak mungkin pula Riki menyusul Vanya ke dalam kamar.


"Kalian bertengkar?" Tanya Nayla.


"Ya Bunda, ini salah aku," kata Riki dengan perasaan tidak enak hati.


Nayla pun mengangguk.


"Ya sudah, kamu pulang dulu, biasanya itu adalah ujian untuk orang yang akan menikah. Kamu pulang dulu ya, besok pagi datang lagi."


"Ya Bunda, aku permisi."


"Iya, hati-hati di jalan."


Riki pun memilih untuk segera pulang ke rumah, meskipun dengan perasaan yang penuh dengan kekhawatiran akan Vanya.

__ADS_1


__ADS_2