
Vanya berlari keluar dari rumah, ingin segera menemui Riki yang sebelumnya berada di luar gerbang.
Tetapi, saat Vanya keluar Riki sudah tidak ada di sana, bersamaan dengan hujan yang reda.
Vanya pun mendesus kecewa, karena tidak bisa bertemu dengan Riki.
Baiklah tidak masalah, segera Vanya mencari taksi yang kemungkinan sulit untuk mendapatkan di tengah malam ini.
Meskipun demikian tetap saja Vanya tidak kehilangan arah, tekatnya sudah bulat untuk pergi dari rumah seperti apa yang diperintahkan oleh Devan.
Hingga akhirnya Vanya pun memutuskan untuk menghubungi Riki, tetapi ponsel Riki tidak bisa dihubungi sebab kehabisan baterai.
Memilih untuk berjalan kaki, sampai akhirnya Vanya pun menemukan ojek dan menumpanginya menuju rumah Riki.
Beruntung ada uang yang terselip pada casing ponselnya, hingga dirinya bisa membayar ojek.
Bahkan Vanya juga sangat bersyukur sebab, Kang ojek yang mengantarkan dirinya tidak melakukan hal jahat padanya.
Jujur saja hati Vanya sangat tidak tenang saat berboncengan dengan pria asing barusan di tengah malam begini.
Dengan cepat Vanya pun menekan tombol bel, hingga seorang satpam pun membukakan pintu.
Tidak terlalu sulit untuk Vanya masuk ke rumah itu, karena semua orang di sana sudah mengenali dirinya.
Mengingat Vanya sudah pernah bekerja di sana, bahkan Vanya juga terbilang ramah. Hingga pembantu saja bisa menjadi teman dekatnya, padahal dirinya adalah dari kalangan berada.
Semua karena hukuman dari Devan yang saat itu menginginkannya menjadi manusia lebih baik, tidak menghamburkan uang padahal d luar sana banyak yang kekurangan.
Hingga kini dengan mudahnya Vanya pun dipersilahkan masuk oleh satpam, kemudian duduk di sofa sambil menunggu Sela menemuinya.
__ADS_1
Sela juga cukup shock mengetahui kedatangan Vanya saat diberitahukan oleh Art yang menemuinya ke kamar, awalnya tidak percaya tetapi setelah melihat kehadiran Vanya di rumahnya tengah malam begini barulah dirinya percaya, hingga banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Vanya saat ini.
"Vanya, kamu kenapa ke sini? Bukan, maksud Mama, ini sudah malam tidak baik seorang wanita berkeliaran di tengah malam hari begini," Sela pun duduk di samping Vanya dengan penuh tanya dan merasa Vanya begitu lama untuk menjawab pertanyaannya. Mungkin karena rasa penasaran yang kian menjadi-jadi.
Vanya pun tertunduk, dirinya juga malu untuk berbicara tetapi bagaimana lagi. Semuanya sudah sampai di sini.
Cintanya ini begitu besar hingga tidak dapat untuk dihalangi oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri.
Vanya juga tidak pernah berpikir bisa melakukan ini, tetapi lagi-lagi cintalah yang menjadi alasannya.
"Aku diusir dari rumah, Ma."
"Apa?" Sela semakin shock mendengarnya, semua itu sangat mengejutkan baginya.
"Sebenarnya, karena aku masih berhubungan sama Om Riki. Ayah marah," kata Vanya lagi.
Sela menarik napas dengan beratnya, merasa apa yang dirasakan oleh Vanya saat ini.
"Kenapa bicara seperti itu," Sela pun memeluk Vanya dengan segera, dirinya sangat menyayangi Vanya. Jadi, tidak akan merasakan seperti apa yang dipikirkan oleh Vanya saat ini.
Hingga tiba-tiba Riki pun sampai di rumah, matanya pun melihat Vanya dan juga Sela yang sedang berpelukan di sofa.
Riki pun bingung dengan kehadiran Vanya di rumahnya, bertanya-tanya mengapa bisa di sana.
"Vanya?" Riki pun bersuara membuat Vanya dan Sela pun menyadari kehadirannya.
"Aku di usir sama, Ayah. Mas, sayang nggak sih sama aku?" Tanya Vanya dengan mata yang berkaca-kaca menatap Riki dengan perasaan campur aduk.
"Mama, ke kamar dulu. Dan, besok pagi kita bicara, setelah selesai berbicara dengan Riki, kamu langsung tidur di kamar Riki. Biar Riki yang tidur di kamar tamu," Sela pun akhirnya pergi.
__ADS_1
Dirinya ingin memberikan waktu luang bagi keduanya untuk berbicara lebih leluasa, meskipun demikian Sela akan terus mengawasi dari kejauhan. Sebab tidak ingin keduanya melakukan hal di luar batas sebelum ada ikatan pernikahan.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Riki sambil memegang lengan bagian atas Vanya.
Padahal sudah jelas sebenarnya jawaban Vanya, tetapi apa daya Riki tidak yakin dengan jawaban awalnya.
Sehingga, bertanya kembali tetapi tidak mungkin pula Vanya yang berbohong, Vanya pun menghambur memeluk Riki dengan eratnya, dirinya sendiri bingung harus melakukan apa.
Tidak mengerti apakah Riki mencintainya atau hanya sekedar ucapan saja, sebab dirinya sadar sampai saat ini tidak ada yang dilakukan oleh Riki sama sekali.
"Diusir, Ayah."
"Tidur, dulu. Ini sudah hampir subuh, kamu pasti lelah," Riki pun memilih untuk membawa Vanya menuju kamarnya seperti apa yang dikatakan oleh Sela barusan, sementara biar dirinya yang tidur di kamar tamu ataupun ruang lainnya.
"Mas, sayang nggak sih sama aku?" Tanya Vanya kesal saat Riki memilih untuk mengantarkan dirinya menuju kamar tanpa bicara kelanjutan hubungan mereka.
Riki pun tersenyum kemudian memeluk Vanya depan eratnya.
"Kenapa kita nggak kawin lari aja!" Kata Vanya lagi.
Riki pun melepaskan Vanya, kemudian mengecup kening Vanya dengan penuh cinta.
"Kamu istirahat dulu, besok kita temui Ayah. Apapun hasilnya kita hadapi bersama, kamu masuk dan istirahat. Demi Mas."
Riki pun membukakan pintu kamar, kemudian meminta Vanya untuk beristirahat di dalam sana.
Sementara Riki memilih untuk segera pergi, dirinya hanya sedang berusaha untuk tetap menjaga Vanya dengan sebaik mungkin.
Karena dalam keadaan seperti ini sudah pasti sangat memancing sesuatu yang berbau ranjang, Riki tidak mau sampai kelepasan sebelum menikahi Vanya.
__ADS_1
Dirinya mencintai Vanya, bukan hanya ingin mempermainkan wanita itu, meskipun sebenarnya ini sangat sulit baginya.