
Pagi harinya Jessica terbangun, bibirnya tersenyum saat melihat Alex yang masih terlelap di sampingnya. Bangun di pagi hari adalah waktu yang tepat bahkan sangat baik bagi wanita hamil, sehingga dirinya segera bangun dan menyiapkan segala sesuatunya untuk Alex. Mulai dari kemeja yang harus dipakai hari ini saat bekerja, sampai menyajikan sarapan pagi, Jessica terus berkutat di dapur, menyiapkan kopi dan juga susu hangat untuk putrinya. Menyajikan di atas meja makan dengan tangannya sendiri.
"Kamu yang nyiapin semuanya?" Puput yang melihat apa yang dilakukan Jessica pun langsung bertanya.
"Iya Ma, lebih segar aja kalau bangun lebih pagi," jelas Jessica sambil meletakkan sendok garpu pada meja.
"Iya sih," Puput pun membenarkan kemudian duduk di kursi meja makan.
"Ma, aku hamil," kata Jessica pada Puput secara langsung.
Dirinya ingin berbagi kebahagiaan walaupun hanya sedikit saja, lupakan apa resiko kedepannya. Karena, kebahagiaan menjadi seorang Ibu lagi bagi calon anak keduanya adalah suatu kebahagiaan yang tiada duanya.
"Benarkah?" Puput sangat terkejut mendengarnya.
"Wah, ini adalah berita baik. Berarti sebentar lagi, akan ada dua cucu yang bertambah," Puput benar-benar tidak tahu cara mengatakan betapa bahagianya. Karena sebentar lagi Reyna yang juga akan melahirkan cucunya, di tambah lagi dengan kehamilan Jessica untuk yang kedua.
"Sepertinya ada berita baik?" Pian yang baru saja ikut bergabung di meja makan sempat mendengar dari kejauhan, dan kini bertanya kembali setelah duduk di kursi meja makan.
"Pa, kita bakalan dapet cucu dua. Itu artinya kita akan punya tiga cucu, senang sekali." Puput membenarkan, bahkan menjelaskan dengan lebih detail lagi.
"Waw, Papa juga tidak sabar untuk melihat kelucuan mereka. Apa lagi saat mereka nakal dan pasti mereka sangat menggemaskan sampai-sampai kita tidak bisa memarahinya," Pian pun tampak menunjukkan reaksi yang cukup tinggi, dirinya yang sudah menua menginginkan hiburan dari cucunya. Menjadi seorang Kakek pastilah sangat menyenangkan tanpa terkecuali.
"Selamat pagi?" Seru Alex sambil menarik kursi dan ikut duduk bersebelahan dengan Jessica.
"Pagi," Jawab Jessica.
"Ayo sarapan."
__ADS_1
"Anak Daddy, ayo sarapan pagi," Alex mengelus perut rata Jessica, seakan mengajak janin itu berbicara.
"Daddy, aneh, masa ngomong sama perut," Cahaya merasa aneh dengan tingkah Alex.
"Sudah, Aya makan dulu terus berangkat ke sekolah."
Cahaya pun mengangguk menurut apa yang dikatakan oleh Jessica, menjadi anak baik adalah suatu kebahagiaan pada Jessica.
Selesai sarapan pagi Alex pun memutuskan untuk berangkat bekerja, awalnya memang ingin cuti, tetapi Jessica tidak mengijinkannya. Sehingga Alex pun kembali bekerja seperti biasanya.
Setelah Alex pergi Jessica pun kembali ke kamar, mengambil ponselnya dan menghubungi Nayla. Setelah panggilan terhubung segera berbicara tentang tujuannya menghubungi di pagi ini.
"Aku ingin berbicara dengan Devan, bisa kita bertemu?" Tanya Jessica berharap Nayla tidak menolaknya.
"Ada apa? Sepertinya serius?" Nayla pun bingung dan bertanya-tanya apakah yang kini ingin dibicarakan oleh Jessica.
Bahkan Jessica seperti maling yang sedang bersembunyi, sebisa mungkin untuk menjaga agar Alex tidak menemukannya. Sampai akhirnya berhasil masuk ke ruangan Devan, di mana Nayla dan Devan sudah menunggu di sana.
"Kamu kenapa? Kok aneh?" Nayla yang duduk di kursi kerja Devan pun bingung dan bertanya-tanya, Jessica tampak seperti sedang bersembunyi. Masker dan kaca mata hitam pun menjadi pelengkapnya.
"Maaf," Jessica duduk di kursi, saling berhadapan dengan Nayla.
Sedangkan Devan hanya berdiri di sudut sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap Jessica dalam diam.
"Wajah mu pucat sekali," Nayla pun memberikan mineral, melihat wajah Jessica yang begitu pucat.
"Kamu sedang mengandung lagi?" Tanya Devan, menebak dari penglihatannya.
__ADS_1
Jessica mengangguk sambil tertunduk diam, tidak tahu harus mengatakan apa dalam perasaan takut dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Bagus dong?" Nayla pun bangkit dari duduknya dan memeluk Jessica penuh kebahagiaan, tanpa tahu bagaimana perasaan Jessica.
"Nayla, keadaan rahim ku tidak baik- baik saja. Devan lebih tahu dari pada aku sendiri, ijinkan aku untuk menjadi pasien suami mu. Tidak mengatakan pada Alex apapun kemungkinan terburuk tentang aku," pinta Jessica sambil memeluk Nayla.
"Maksudnya?" Nayla tidak mengerti sama sekali, tetapi dirinya mencoba mengangguk melihat wajah Jessica yang kini lembab karena air mata.
Devan pun mulai memeriksa keadaan Jessica, dirinya menarik napas berat saat mengetahui keadaan yang ternyata lebih buruk dari sebelumnya.
"Mas, kok cuma diam?" Nayla tidak sabar mendengarkan penjelasan dari Devan, wajah Devan yang hanya datar membuatnya menjadi semakin penasaran.
"Melihat keadaan mu, sepertinya tidak memungkinkan untuk tetap membiarkan janin itu tumbuh," tutur Devan.
"Aku tidak bisa untuk membuang janin ku, meskipun demi diri ku sendiri. Aku sudah pernah mencegahnya dengan pil, tapi Alex menukarnya tanpa sepengetahuan ku. Tapi bukan berarti aku harus tega membuangnya saat dia hadir di rahim ku, aku siap menerima resiko kedepannya. Apapun, tolong rahasiakan ini dari Alex," pinta Jessica penuh harap.
"Jessica, ini tidak bisa. Nyawa mu adalah taruhannya," jawab Devan yang tidak ingin salah dalam melakukan keinginan Jessica, bagaimana pun Alex adalah suaminya. Layak untuk lebih tahu keadaan istrinya dalam keadaan apapun.
"Aku mohon Devan, aku tidak mau nantinya dia merasa bersalah karena sudah menukar pil KB saat itu. Aku juga tidak mau dia menjadi seorang pembunuh karena meminta janin ini di angkat, aku pun ingin mempertahankan janin ini karena dia sangat menginginkan anak ini, aku mohon," Jessica menangkup kedua tangannya berharap Devan mau mengabulkan permintaannya.
"Jessica ini gila," Nayla juga tidak ingin ikut dalam hal ini, mengingat keinginan Jessica begitu berat.
"Tolong Nayla, kamu juga sedang mengandung, bagaimana perasaan mu saat Dokter mengatakan apa yang aku rasakan ini terjadi pada mu?"
Nayla pun mematung dengan tatapan yang berkaca-kaca, dirinya juga pernah merasakan hal sama saat mengandung Felix.
"Tapi..."
__ADS_1
"Aku mohon Nayla."