Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Receh.


__ADS_3

Makan berdua saja di dapur, senyum-senyum melihat wajah sang pujaan hati yang kini sedang berada di hadapannya.


"Om, cuman ada telur dadar aja," Vanya pun menunjukan piring berisi nasi, dengan lauk seadanya.


Seadanya telur dadar saja, karena semua makanan sudah di hidangkan di meja makan ruang makan keluarga.


Seharusnya keduanya juga berada di meja makan keluarga bersama yang lainnya, bukan makan berdua saja di dapur.


Tetapi apa?


Riki jauh lebih memilih jalur aman dari pada kehilangan harga dirinya, meskipun sebenarnya tidak masalah asalkan demi Vanya.


Apa lagi yang melakukannya hanya Felix sahabat setianya selama ini, di tambah lagi ini adalah masa uji coba menjadi calon adik ipar.


Sungguh hal yang sangat mendebarkan sekali, tetapi semuanya sirna setelah melihat senyuman manis Vanya.


Semudah itukah? Tentu, cinta sudah bertahta maka semuanya akan menjadi indah.


Kembali pada kedua insan yang sedang jatuh cinta.


Duduk di kursi meja makan yang terletak di dapur tempat biasanya para pekerja makan, namun kini Vanya dan Riki yang duduk di sana.


Meskipun kursi tersebut biasa di gunakan untuk para pekerja, namun tetap saja harganya tidak murah.


Tapi masalahnya saat ini bukan meja makan murah atau mahalnya, melainkan dengan siapa saat ini kita berdampingan.


Sang pujaan hati yang selalu membuat hati bergetar tanpa hentinya.


"Ye, kok ngeliatinnya gitu banget?" Vanya pun duduk di kursi meja makan, setelah meletakan sepiring nasi dengan telur dadar di atasnya.


"Nggak apa-apa, ngeliat calon istri sendiri. Yang nggak boleh itu ngeliatin calon istri orang," seloroh Riki.


Membuat wajah Vanya pun seketika memerah mendengar gombalan sederhana dari Riki tapi cukup meneduhkan hatinya.


"Om, tau nggak kue apa yang bisa ngomong cinta?"


"Kok Om?"


"Mas, tau nggak kue apa yang bisa ngomong cinta?" Vanya pun mengulangi pertanyaannya, hanya saja dengan panggilan yang lainnya.


"Enggak," jawab Riki dengan cepat.


"Ya ampun!" Vanya pun kesal dan mencubit lengan Riki.


"Aduh, apa yang salah?" Riki pun merasa bingung, sambil menatap Vanya dengan penuh tanya.


Sebab, merasa tidak memiliki sebuah kesalahan.


"Jawabnya nggak gitu!" Kata Vanya dengan ketus.

__ADS_1


"Terus gimana?" Tanya Riki kembali yang masih saja kebingungan.


Baiklah kembali menjadi anak baru gede juga tidak masalah, asalkan bersama dengan orang yang kita cintai adalah suatu hal yang sangat membahagiakan.


"Jawabnya, enggak tahu. Emang apa? Gitu!"


"Oh," Riki pun menanggapi dengan santai.


Namun bukannya membuat Vanya merasa lebih baik malah semakin kesal saja.


"Ya ampun Om! Ikutin apa yang aku bilang barusan!"


Ingin sekali Vanya meremas wajah Riki kesal bukan main karena begitu sulit untuk melakukan apa yang diinginkannya.


Bahkan terkesan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vanya.


"Yang mana?" Tanya Riki lagi.


Vanya benar-benar tidak bisa untuk bersabar lebih lama lagi, akhirnya memilih untuk mengerucutkan bibirnya. Membuang pandangannya ke arah lain, kesal pada Riki sudah pada batasnya.


Jadi tidak lagi ada kata untuk berdamai.


Sementara Riki tersenyum melihat wajah Vanya, meskipun cemberut dengan bibir mengerucut tetap saja Riki cinta.


Bahkan wajah yang seperti ini semakin membuatnya menjadi hampir gila.


Sayangnya banyak sudah tidak mau diajak untuk berdamai, memilih untuk terus cemberut agar Riki tahu jika dirinya benar-benar marah.


Lantas apakah Riki marah, tentu tidak. Dirinya terus tersenyum menatap Vanya.


"Pasti kamu nggak tahu, 'kan, kamu sukanya tempe," lanjut Riki.


"Garing!" Kesal Vanya.


Riki lagi-lagi tersenyum melihat bibir Vanya yang mengerucut.


"Mas, nggak tahu kue apa yang bisa ngomong cinta. Emang apa?" Riki pun kembali pada topik pembicaraan awalnya, mungkin saja Vanya bisa kembali tersenyum manis padanya.


"Nggak ada, kuenya udah basi! Kelamaan!" Ketus Vanya karena sudah terlalu kesal.


"Mmmmfffffpp," Riki pun menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya.


Meskipun sedang marah tetapi tetap saja Vanya bisa membuatnya tertawa.


"Tebak ini berapa?" Riki pun menunjukkan satu jarinya pada Vanya.


Dengan terpaksa Vanya pun melihatnya, kemudian menjawabnya dengan terpaksa pula.


"Satu!" Jawab Vanya lagi dengan ketus, sepertinya Vanya belum bisa diajak untuk berdamai karena terlalu kesal pada Riki.

__ADS_1


"Kok satu?" Tanya Riki kembali berpura-pura tidak mengerti.


"Mas, buta ya! Inikan satu jari!" Vanya pun menunjuk jari Riki, dengan nada suaranya yang meninggi dan penuh dengan kekesalan yang begitu luar biasanya.


Tampaknya belum juga berhasil meluluhkan hati seorang Vanya yang sedang kesal.


"Iya, Mas buta. Karena yang jelas Mas liat kan cuma kamu," jawab Riki.


Vanya pun tidak bisa lagi marah lebih lama, tetapi tidak ingin menunjukkan pada Riki bahwa dirinya sedang berbunga-bunga hanya karena sedikit rayuan manis itu.


Gengsi masih saja menyelimuti hati, tetapi Riki tahu dari raut wajah Vanya yang sedang tidak dapat menahan rasa bahagia.


Riki tidak lagi bisa di bodohi dalam hal asmara, apa lagi saat bersama Vanya wanita yang dicintainya.


Tentunya Riki tahu seperti apa Vanya.


"Coba lihat ke sini," Riki pun menarik wajah Vanya agar menatap wajahnya, kemudian Riki pun memicingkan matanya seakan menatap penuh intimidasi.


Membuat Vanya bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Riki yang aneh itu.


"Kenapa?" Tanya Vanya penasaran.


"Mau di lihat dari mana pun kamu tetap saja yang paling cantik," tambah Riki lagi.


"Mas, ish!" Vanya pun tak dapat lagi menahannya, hingga akhirnya memukuli Riki.


Mungkin tepatnya pukulan rasa cinta yang membara, sekalipun sakit tak mungkin mengatakannya.


Sebab apa?


Sebab hati berbunga-bunga tidak ada yang dapat menandinginya.


"Mas, jujur. Ngomong apa adanya, kamu tetap yang tercinta!" Lanjut Riki.


Semakin membuat Vanya kian melayang ke awan tanpa ingin kembali lagi, kurang ajar inikah jatuh cinta yang sesungguhnya.


Mengapa tidak dari dulu saja saling mengenal dan juga bersama.


Tapi tidak masalah, lebih baik terlambat dari pada tidak pernah bertemu sama sekali mungkin semuanya tidak akan seindah ini.


"Ya ampun kamu itu silau juga ternyata. Sampai-sampai matahari saja merasa iri sama kamu" kata Riki lagi.


"Mas, ishhh" Vanya pun akhirnya memilih untuk diam, mungkin dengan demikian dirinya bisa lebih baik dan Riki pun berhenti untuk mengeluarkan kalimat nya yang cukup receh itu, namun meskipun receh sangat berdampak positif bagi Vanya.


Sementara Riki memilih menopang tangannya pada meja, menatap wajah Vanya lebih lama bahkan tidak ingin beralih pada yang lainnya. Membuat Vanya kesulitan untuk bernafas saja.


"Mas apaan sih!" kesal Vanya sambil menahan malu.


Sementara Riki hanya tersenyum melihat Vanya tanpa bisa dicegah sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2