
"Om, seharusnya Om tahu gimana rasanya jatuh cinta, Om pernah muda dong?" Tanya Vanya.
Riki diam saja melihat bibir Vanya yang komat-kamit tidak jelas dan malah mendadak membuatnya merasa gemas.
Entah apa yang di katakan oleh wanita tersebut, yang jelas Riki hanya perduli pada bibir itu.
Bibir yang seakan menantang tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Pasti pernah kan" Vanya yang bertanya tapi dia juga yang menjawab pertanyaan tersebut.
Kemudian lanjut mengomel tanpa jeda sama sekali.
Sebab Vanya sangat ingin membuang Riki dari muka bumi ini.
Atau paling tidak sampai mereka tidak akan pernah bertemu lagi, karena bertemu dengan Riki adalah kesialan yang hakiki.
"Kalau Om jadi aku gimana? Sedih dong! Pantes saja Om jadi duda kelakuan Om memang sangat menjengkelkan!"
"Lalu?" Tanya Riki dengan santainya, percayalah saat ini tidak perduli dengan apa yang di ucapkan oleh Vanya.
Riki memilih hanya fokus melihat bibir Vanya yang sangat menggemaskan tersebut.
Mendadak ingin membuat bibir itu menjadi sedikit bengkak pasti akan lebih cantik lagi, tapi apakah bisa?
Entahlah, silahkan saja mengomel kalau perlu sampai bibir itu bengkak. Jika sudah mengomel lama tapi tidak bengkak juga, Riki bersedia membuatnya bengkak.
"Mendingan Om cari pacar sana! Usia Om sekarang berapa?"
"Dua puluh delapan," Jawab Riki dengan santainya kemudian kembali berfokus pada bibir Vanya.
Bibir yang benar-benar mengalihkan dunianya dengan begitu mudahnya.
"Nah, usia dua puluh delapan seharusnya sudah menikah! Cari pacar sana, jangan ngurusin aku mulu! Om nggak takut jadi duda lapuk selamanya?"
Riki mengangkat kedua bahunya dengan santai, karena memang tidak perduli sama sekali pada status duda yang di sandangnya.
"Lagian kalau Om gangguin aku terus aku sumpahin Om jadi duda lapuk selamanya!"
Riki hanya tertawa kecil melihat Vanya yang terus sama mengucap sumpah serapah padanya.
Sumpah yang mungkin mengerikan di dengar tetapi tidak dengan Riki.
Tapi benar-benar wajah bocah ingusan itu sangat manis.
Manis?
Sedikit.
Riki hanya sedang memiliki mainan baru sebentar lagi juga bosan dan akan membuang begitu saja.
Tapi mungkin juga tidak begitu membosankan ketika di pandang lama oleh matanya.
Sedangkan Vanya semakin kesal karena Riki hanya melihatnya saja tanpa menjawab satu patah kata pun.
Padahal bibirnya sudah hampir bengkak karena terus saja mengomel tanpa jeda sama sekali.
"Om, dengar aku nggak?"
"Iya," jawab Riki dengan baik.
__ADS_1
"Om mau jadi duda lapuk selamanya? Kalau-kalau terus kerjaannya gikutin aku mulu?"
"Kan ada kamu, kalau aku ingin mengakhiri jadi duda lapuk," jelas Riki masih dengan santainya, bahkan menyebutkan kata 'Duda lapuk' persis seperti apa yang di katakan oleh Vanya barusan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Riki mendadak Vanya merasa mual yang begitu luar biasa.
Sejak kapan Vanya menyukai Om-Om, bahkan seorang duda aneh seperti Riki.
"Idihhh....." Vanya pun menatap Riki dengan sinis.
"Ogah banget!" Vanya tentunya tak akan mau dengan Riki sampai kapan pun seperti begitu.
Berjodoh dengan Riki adalah suatu musibah terbesar dalam hidupnya.
"Om, dengar baik-baik!" Vanya pun semakin berbicara tegas, kali ini semua harus berakhir.
Karena Riki sudah sangat keterlaluan, bagaimana pun Vanya sedang berusaha untuk mempertahankan harga dirinya.
Semalam saja sudah tidur dalam satu ranjang yang sama, bagaimana kalau selanjutnya?
"Sampai kapanpun aku sama Om nggak akan cocok, Om itu sudah aki-aki, aku masih belum wisuda Om. Kuliah juga masih semester awal!" Tegas Vanya dengan jelas.
Tapi tahukah apa yang sedang di pikirkan oleh Riki?
Tentunya tahu, karena kini mata Riki tertuju pada kancing kemeja Vanya yang tiba-tiba terbuka dua kancing depan sendirinya.
Mungkin kedua kancing kemeja itu ingin memberikan sedikit pemandangan segar padanya selain dari bibir yang komat-kamit tanpa jeda.
Bahkan menampakkan setengah dari isinya bahkan kini otak Riki mendadak koslet karena sibuk mengukur besarnya benda itu.
'Tidak terlalu besar. Tetapi, tidak juga terlalu kecil. Sepertinya pas jika di genggam oleh tangan,' batin Riki.
Jika ada yang mengatakan apakah Riki hanya memikirkan sebuah ranjang. Jelas iya! Karena tujuan hidupnya kini tidak jelas, tidak ada tujuan selain ranjang kepuasan semata.
Sedangkan Vanya mulai penasaran dengan tatapan Riki, hingga melihat ke bawah dan cepat-cepat memegang bagian dadanya.
"Om, dari tadi liatin ini ya?"
"Kecil, aku tidak selera," kata Riki sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Napas Vanya memburuk merasa terhina lagi dan lagi karena Riki.
"Kenapa?" Riki tersenyum mengejek kemudian bangkit dari duduknya.
Vanya pun berpindah tempat, berdiri di hadapan Riki seakan menantang tanpa rasa gentar sama sekali. Lelaki kurang ajar yang membuatnya jomblo begitu cepat.
"Besar begini!" Vanya pun menunjukan dadanya pada Riki. Membuat Riki menjadi menegang.
'Anak ini sedang memancing atau bagaimana?' Batin Riki pun bertanya-tanya akan mahkluk aneh di hadapannya tersebut.
"Liatkan!" Tanya Vanya lagi.
"Jangan bilang harus di buka juga! Enak aja"
Riki pun menggaruk kepalanya, hanya bisa meneguk saliva melihat Vanya.
"Kamu nggak capek marah terus?" Akhirnya Riki pun bertanya, mengingat dari tadi mulut Vanya terus saja komat-kamit.
Vanya pun memegang perutnya, sejak pagi tadi belum juga sarapan. Sedangkan hari sudah hampir siang.
__ADS_1
"Lapar tidak!" Tanya Riki lagi.
"Lapar sih Om, makan bakso yuk," Vanya pun cengengesan sambil menatap Riki penuh harap.
Riki tertawa kecil sambil menggaruk alisnya, bukankah tadi bocah itu mengibarkan bendera perang?
Tapi lihatlah sekarang malah seperti tidak memiliki masalah.
"Ayo Om," Vanya pun langsung menarik lengan Riki, karena menunggu pria itu berjalan sendiri sangat lama sekali.
Bahkan cacing di perutnya juga sudah bergoyang seperti di tempat hiburan malam.
Riki pun mengikuti langkah kaki Vanya, sampai akhirnya keduanya duduk di sebuah kursi penjual bakso kaki lima.
Cukup sederhana tetapi Vanya sangat suka makan di sana, berawal dari Ninda yang membawanya ke tempat tersebut.
Hingga akhirnya Vanya pun terbiasa.
"Ini bakso kaki lima rasa luar biasa Om, coba saja nanti!"
Vanya menunggu pesanannya, hingga akhirnya menerima semangkuk bakso dan langsung melahapnya.
Tidak cukup satu mangkuk Vanya pun memesan lagi, hingga kemudian habis juga dalam beberapa menit.
"Mas, satu lagi!"
Riki tercengang melihat porsi makan Vanya yang begitu banyaknya.
"Kamu seperti satu minggu tidak makan!" Kata Riki.
"Dari pagi tadi aku belom makan Om," Vanya pun kembali menerima mangkuk bakso yang ketiga dan menghabiskan dengan cepat.
"Kenapa tidak makan? Tidak nafsu makan? Berarti aku yang membuat mu menjadi nafsu makan?" Tebak Riki dengan rasa penuh percaya dirinya.
Vanya pun mengembalikan mangkuk bakso yang sudah kosong pada penjual, kemudian kembali duduk di tempatnya.
Tepat bersebelahan dengan Riki yang tampaknya masih merasa percaya diri.
"Nggak Om, aku selalu nafsu kalau makan. Aku ngajak Om buat bayarin, udah itu aja. Capek tau Om dari tadi marah-marah. Itupun karena Om," jelas Vanya kemudian menyeruput mineral hingga membuat tenggorokannya lebih segar.
Tak lupa Vanya pun bersendawa, dengan sengaja karena ingin membuat Riki kesal.
Tetapi anehnya Riki malah merasa lucu dengan tingkah Vanya yang aneh tersebut.
"Ye, ngapain senyum-senyum? aku emang cantik Om!" Ketus Vanya sambil memutar bola matanya dengan jenuh.
Riki pun selesai makan, kemudian mengembalikan mangkuk bakso kosong pada penjual. Setelah itu mengeluarkan uang untuk membayarnya.
"Ingat ya Om, biarpun udah traktir aku masalah kita masih tetap berlanjut!" Vanya pun menunjuk matanya dengan dua jarinya, kemudian mengarahkan pada Riki.
Seakan bendera perang masih berkibar dengan hebatnya.
Riki hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Vanya yang memang sangat berbeda dari wanita lainnya.
Sejenak Riki mengagumi Vanya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Bocah tersebut terlihat biasa saja, tanpa menggoda apa lagi seperti seseorang yang menjajakan tubuhnya.
Di sini Riki seakan menemukan hal baru, bahkan kebahagiaan bukan hanya di atas ranjang dengan lendir yang menjijikan.
__ADS_1
Mungkin dengan cara makan di tempat sederhana begini ataupun jalan-jalan dengan wanita aneh seperti Vanya. Mungkin.