
Sepulang dari kantor Riki tidak langsung kembali ke rumah, melainkan menuju kediaman Vanya. Untuk apa tujuan Riki ke sana? Tentunya untuk melihat keadaan bocah tersebut. Katakan saja bocah, tetapi tak di pungkiri akhir-akhir ini mampu membuat Riki terhibur.
Tetapi mendadak Riki melihat Vanya sedang duduk bersantai bersama dengan seorang laki-laki. Sama saja, laki-laki bau kencur yang sama sekali tidak akan pernah bisa menandinginya. Dengan penuh percaya diri Riki pun menuruni mobilnya, kemudian menghampiri Vanya dan tentunya seorang pria bau kencur itu juga.
"Om, ngapain?" Vanya bukannya bahagia karena ada yang menjenguknya malah terkesan tidak suka.
Tentu saja tidak suka, karena Riki memang hanya bisa mengganggunya yang sedang di jenguk oleh Sandi. Sandi sebelumnya juga sempat menjenguknya, sayangnya Riki malah mengusirnya.
Tetapi Sandi kembali lagi di sore hari ini, bersyukur juga keadaan Vanya sudah jauh lebih baik.
Sehingga Vanya bisa berbicara banyak hal, apa lagi jika membicarakan tentang masa depan bersama dengan Sandi.
Kurang ajar!
Senyumnya mampu membuat Vanya tidak karuan, tapi mendadak berubah karena kedatangan manusia yang tidak di undang nya sama sekali.
"Kenapa kalian berduaan?" Tanya Riki.
Tak perduli pada Vanya yang terlihat jelas tidak menyukai dirinya. Menurutnya Vanya adalah miliknya sampai dirinya bosan dan melepaskan nantinya.
"Kenapa?" Vanya merasa tidak ada yang aneh, lagi pula mereka duduk di teras. Tidak di dalam rumah berduaan, apa lagi di dalam kamar. Mungkin saja siapapun dapat bertanya seperti Riki.
"Pergi dari sini!" Lagi-lagi Riki tidak perduli pada ocehan Vanya yang terpenting adalah lelaki itu tidak boleh lebih lama lagi di hadapannya. Apa lagi bertemu dengan Vanya.
"Om! Apa urusannya?" Semakin bertambah kesal saja, terkesan Riki seperti Kakaknya padahal pria duda itu tidak ada hubungan dengan dirinya sama sekali. Apa lagi untuk mengusir Sandi sungguh sangat lancang.
Sesaat kemudian Vanya pun melihat Sandi, merasa tidak enak hati atas ketidaknyamanan ini.
"Sandi, kita bicara nanti ya. Aku minta maaf," Vanya benar-benar merasa tidak enak hati, karena Riki yang selalu saja membuatnya kesal.
"Nggak apa-apa, nanti aku telepon," Sandi pun tersenyum kemudian pergi.
Lagi pula Vanya sudah menjelaskan segalanya tentang Riki, sebab kejadian pagi tadi juga membuat Vanya tidak enak hati.
Vanya pun tersenyum sambil mengangguk, bayangkan saja betapa indahnya di jenguk oleh lelaki yang kamu sukai.
Itulah yang tengah di rasakan oleh seorang Vanya, kini akhirnya bisa merasakan indahnya jatuh cinta.
Cinta?
Cinta pertama yang membuatnya nyut-nyutan.
Sebab selama ini dirinya memang tidak di perbolehkan untuk memiliki teman laki-laki oleh Devan apa lagi untuk memiliki kekasih.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum-senyum" Riki tampak tidak suka melihat Vanya yang sedang larut dalam kebahagiaannya karena penyebabnya adalah pria lain.
Saat itu juga senyuman di bibir Vanya mendadak menghilang berganti dengan wajah masamnya.
"OM! Dengar baik-baik!" Vanya pun memasang pandangan tajam agar Riki tahu jika dirinya sangat tidak suka atas apa yang di lakukan oleh Riki. Sedangkan Riki hanya diam dan mempersilahkan Vanya untuk berbicara.
"Aku nggak suka Om ngatur-ngatur aku, Om bukan siapa-siapa, kita cuma sebatas pekerjaan karena aku yang membayar kesalahan waktu itu" Tegas Vanya.
Riki pun hanya diam saja memperhatikan Vanya yang terus saja melayangkan tatapan matanya yang tajam.
"Maka dari itu, mulai hari ini kita pacaran!" Ujar Riki.
"What's!" Pekik Vanya.
Vanya sangat shock mendengar apa yang di katakan oleh seorang Riki.
"Pacaran?" Tanya Vanya lagi dengan suaranya yang meninggi, berharap hanya dirinya yang salah mendengar. Bukannya Riki yang benar mengucapkan kata-kata gila itu.
"Iya, kita pacaran titik!" Riki sudah menegaskannya dan tidak lagi ingin mendengar kata bantahan lainnya karena menurutnya sulit sekali bisa merasa tertarik pada seorang wanita. Menurutnya Vanya adalah mainan baru yang sedang membuatnya tertarik, Vanya boleh pergi setelah dirinya melepaskan.
"Hey, kaleng roti!" Vanya pun berkacak pinggang.
"Aku nggak mau sama kamu! Lagian kamu gila ya, masa wanita secantik aku pacaran sama Om-om?"
Vanya benar-benar tidak mengerti dengan lelaki aneh di hadapannya, bagaimana bisa Riki mengatakan kini mereka pacaran. Tetapi bagaimana juga caranya untuk menjauh dari Riki tanpa ada permasalahan lainnya.
Ayolah Vanya. Kebebasan ini adalah sesuatu yang kau impikan sejak dulu. Lantas mungkinkah kau malah kembali ke dunia mu yang penuh dengan bodyguard dan aturan itu?
Kapan kamu bisa merasakan hidup itu indah?
Kamu sudah dewasa.
Setan di dalam hati Vanya seakan tidak memperbolehkan dirinya untuk menjadi Vanya yang dulu.
Dirinya harus membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi anak yang baik, tanpa masalah sama sekali.
"Ingat! Kita berpacaran, aturan mainnya terserah pada ku. Dan, kau harus menurut pada ku!"
"Ogah!" Pekik Vanya masih berusaha untuk melawan Riki.
Riki pun terdiam sambil berpikir tetapi sekeras apapun Vanya harus bisa di dapatkannya.
"Baiklah, aku beri kau pilihan. Pertama kau tidak perlu menjadi kekasih ku..."
__ADS_1
"Aku pilih itu," Vanya langsung menimpalinya, tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Meskipun Riki belum selesai menjelaskan.
"Baiklah, kau setuju akan masuk penjara menjadi Narapidana!"
"Hey! Apa maksudnya?" Vanya panik tentunya, dirinya tak mau menjadi seorang seperti yang di katakan oleh Riki.
"Baik dengar baik-baik," Riki pun menjeda perkataannya kemudian memastikan jika Vanya sudah lebih tenang dan bersedia untuk mendengarkan dirinya berbicara.
"Cepal! Drama banget sih? Aku lagi sakit nih," Vanya pun duduk di kursi menunggu Riki untuk berbicara dengan tidak ikhlas sama sekali.
Sedangkan Riki juga ikut duduk saling berhadapan dengan Vanya. Kemudian kembali lagi berbicara.
"Pertama kamu tidak perlu menjadi..."
"Pertama kamu tidak perlu menjadi kekasih ku, tapi kau akan aku penjarakan. Aku pastikan itu, yang kedua kau bebas dari hukuman-hukuman itu. Tetapi, kau harus menjadi kekasih ku! Tidak lama, minimal sampai sisa waktu mu selama dalam menebus kesalahan mu, tersiksa 23 hari lagi," jelas Riki.
Sebab Riki hanya ingin menjadikan Vanya sebagai mainannya saja, yang bisa menghibur dirinya saat sedang membutuhkan.
Apa lagi kalau sampai menemani tidurnya, jangan katakan otak Riki hanya di penuhi dengan nafsu birahi.
Karena itu benar adanya, sebab Riki sedang tersesat dalam sebuah luka dan sedang berusaha untuk mengobatinya
Walaupun cara yang di gunakan oleh Riki adalah salah besar.
Sedangkan Vanya tampak mendesus kesal. Bagaimana bisa dirinya berpacaran dengan Om-om.
"Aku tidak mau, apa lagi jika orang lain sampai tahu, di mana harga diri seorang Vanya"
"Om, aku masih muda. Kita nggak cocok!
"Aku tidak meminta pendapat mu! Yang aku tahu kau harus menurut pada ku, atau...."
"Iya, iya, tapi nggak ada yang boleh tahu dan hanya untuk hitungan hari!" Vanya pun memberikan syarat, meskipun sudah terkepung bukan berarti bisa mengalah dengan mudahnya.
Itulah kiranya yang kini di pikirkan oleh Vanya, sungguh menjadi kekasih Om-Om adalah mimpi terburuk dalam sejarah hidupnya.
"Tidak masalah!" Riki pun menyetujuinya, asalkan bisa lebih dekat dengan Vanya.
"Udah ah, pergi dari sini!" Vanya langsung saja mengusir Riki. Karena melihat Riki hanya membuatnya muak ingin muntah.
"Mengusir ku?"
"Iya, Bambang! Pergi!" Vanya pun masuk ke dalam rumah, tidak lupa menutup pintu dan menguncinya agar Riki tidak bisa masuk.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku butuh kebebasan dan kepercayaan dari Ayah. Lagi pula hanya hitungan hari saja, setelah ini aku bisa bebas," Vanya pun tersenyum membayangi kebahagiaan setelah lepas dari Riki.