
"Ayah!" Pekik Vanya shock.
"Bik Ina, anak ini beberapa bulan ke depan terserah pada mu. Dia akan tinggal di rumah mu," kemudian Devan beralih menatap Vanya.
"Sampai kamu bisa sopan pada orang tua, sepertinya Ayah dan Bunda terlalu memanjakan mu selama ini!" Kata Devan.
Kemudian Devan pun pergi dengan membawa Nayla.
"Ayah!" Seru Vanya dengan cepat, berharap Devan membatalkan hukumannya. Tapi tidak, hukuman yang di dapatkan jauh lebih parah.
Karena Devan ingin Vanya menjadi lebih baik, Devan terlalu menyayangi anaknya itu sehingga tak ingin sampai mengulangi apa yang sudah di tetapkannya.
Lagi pula selama ini Vanya terus saja membatah dan berbuat sesukanya, membuatnya kian semakin khawatir akan masa depan Vanya nantinya.
"Kalau gitu aku nggak mau ada bodyguard lagi, atau aku bakalan tambah sesukanya!" Seru Vanya juga mengajukan syarat.
Langkah kaki Devan pun terhenti, Vanya yakin Ayahnya tak akan pernah bisa untuk itu.
"Baik!" Jawab Devan menyetujui keinginan anaknya.
"Apa?" Pekik Vanya tak menyangka jika Devan benar-benar jahat.
"Atau aku ini benar hanya anak angkat?" Vanya kesal karena apa yang diinginkannya malah semakin membuat hukumannya bertambah.
#######
Hidup ini memang kejam, itulah yang kini dipikirkan oleh seorang Vanya.
Anak dari seorang Dokter sekaligus pengusaha hebat kini akhirnya tinggal di tempat sederhana.
__ADS_1
Di sinilah kini Vanya tinggal, di rumah Bik Ina yang hanya berukuran tidak seberapa.
"Bik karena aku udah diserahkan kepada Bibi jadi aku udah sah jadi anak Bibi. Jadi, aku panggil Bu, Bu Ina," kata Vanya dengan wajah seriusnya.
Sedangkan Bik Ina ingin tertawa melihat kekonyolan majikannya tersebut.
Vanya memang lucu dan juga polos mungkin karena selama ini pergaulannya begitu dibatasi.
Tapi kini dirinya sudah memiliki tanggung jawab atas Vanya, sebab Devan sendiri yang mengatakan untuk membuat Vanya menjadi wanita sederhana dan tidak selalu menindas orang miskin dengan sesukanya seperti selama ini.
Dan itu semua tidak diketahui oleh Vanya sama sekali, yang dia tahu Devan sudah tak menganggapnya anak. Kemudian diserahkan untuk menjadi anak seorang pembantu di rumahnya.
"Jangan panggil Neng, Non atau apa pun. Aku anak mu, panggil Vanya!" Kata Vanya dengan tegas.
"Buk," seorang wanita keluar dari kamarnya, saat mendengar ada suara dari arah ruang tamu.
Benar saja Ninda melihat ada Vanya, anak dari majikannya.
Ninda adalah putri satu-satunya dari Bik Ina.
"Mulai hari ini Neng Vanya, tidak maksud Ibu. Vanya akan tinggal di sini, kalian berdua satu kamar karena di rumah ini hanya ada dua kamar saja," kata Bik Ina.
"Satu kamar?" Vanya mendesus, kamar sempit dengan dua orang sangat menyesakkan.
"Iya, di rumah ini hanya ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi," jelas Ninda ikut menimpali.
"Ya sudah, mana mungkin aku tidur di kamar mandi," kata Vanya dengan putus asa.
"Kenalin, aku Ninda. Nona muda pasti tidak tahu aku, aku tahu anda," kata Ninda dengan ramah.
__ADS_1
"Sudahlah," Vanya menepis tangan Ninda.
"Panggil aku Vanya, aku bukan majikan mu!"
Ninda yang bingung menatap Wajah Ibunya. Saat Bik Ina mengangguk Ninda pun mengerti.
"Kamu harus banyak mengajarkan padanya hidup sederhana, kamu harus sabar, Tuan Devan sudah percayakan untuk mendidik Nona muda itu agar hidup sederhana dan tidak terus dalam kesenangannya," bisik Bik Ina di telinga putrinya tersebut.
"Iya Bu, aku ngerti," Ninda pun mengangguk, dirinya juga senang bisa memiliki teman saat di rumah.
Apa lagi selama ini dirinya hanya sendirian karena ibunya sibuk bekerja di kediaman keluarga Devan Bima Putra.
"Mulai besok kamu bekerja juga di kantor Tuan Felix, sebagai OG menemani Nona Muda Vanya."
"Tapi, aku kuliah Bu."
"Iya, ini perintah. Kamu juga dapat uang dari Tuan Devan, kamu hanya menjaga Nona muda saja. Takutnya dia mabuk-mabukkan lagi."
"Begitu," Ninda pun mengangguk.
"Hey, kamar mu yang itu kan?" Tanya Vanya yang dari tadi sibuk memperhatikan setiap sisi rumah.
"Iya."
Vanya pun berjalan masuk membawa kopernya yang besar itu. Memasuki kamar yang menurutnya begitu sempit.
Tapi masih beruntung karena kamar tersebut memiliki AC, karena memang gaji Bik Ina cukup untuk membeli semua itu.
Bahkan bisa membeli rumah tersebut, walaupun terlihat sederhana namun masih sangat bagus dan tak kalah dari rumah tetangga sekitarnya, Kecuali menurut Vanya, sudah jelas rumah tersebut sangat kecil
__ADS_1
"Baiklah, semua akan dimulai di sini, aku harus membuktikan bisa hidup tanpa mereka," Vanya sudah kesal pada kedua orang tuanya.
Mulai hari ini dirinya akan menjadi orang hebat dan bisa di banggakan agar kedua orang tuanya merasa bangga memiliki anak seperti dirinya.