Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak ada hubungannya dengan mereka!


__ADS_3

Cahaya terus saja memikirkan kata cinta yang di ucapkan oleh Felix malam tadi, sejak saat itu dirinya tidak dapat tenang. Tidak tahu apakah yang di katakan oleh Felix benar adanya, tapi sampai di sini Cahaya takut di anggap sebagai perusak hubungan antara Rena dan Felix.


Tok... tok... tok.....


Suara ketukan pintu membuatnya tersadar dari pikiran-pikiran yang begitu membuat kepalanya hampir pecah. Bahkan dari tadi ponselnya terus saja berdering, tertulis nama Felix pada layar ponselnya.


"Aya," Jessica melihat putrinya yang sedang duduk di kursi meja rias kemudian berjalan mendekati.


"Mom?" Cahaya pun memutar tubuhnya agar melihat wajah Jessica secara langsung.


"Kamu kenapa? Katanya mau ke salon?"


"Iya sih, tapi kayaknya nggak jadi deh."


"Kenapa?"


Cahaya pun mengerucutkan bibirnya dirinya sedang tidak ingin bertemu dengan Felix. Sudah pasti jika keluar dari rumah pria itu akan tiba-tiba muncul.


"Aya, Mom boleh bertanya sedikit?"


"Mom, mau tanya apa?" Cahaya memeluk Jessica, sudah terbiasa manja walaupun sudah dewasa.


"Sebentar lagi, usia kamu sudah dua puluh enam tahun......" Jessica pun terdiam sambil menatap wajah Cahaya.


"Terus?"


"Mom, lihat kamu tidak pernah pacaran ataupun hanya sekedar teman dekat laki-laki, Mom jadi bingung"


"Bingung?"


"Kamu normal, kan?" Tanya Jessica dengan hati-hati.


Cahaya pun seketika itu bangkit dari duduknya, pertanyaan Jessica sangat di luar logikanya.


"Bukan, maksud Mom. Mom tidak pernah mengetahui kamu punya pacar atau pun teman laki-laki. Ada teman laki-laki si Yanto tapi dia kan suka di panggil Yanti," Jessica mengusap wajahnya, sebab Yanto atau Yanti itu adalah bencong.


"Normal dong Mom, ada-ada saja," Cahaya semakin kesal pada Jessica, dirinya juga sudah ingin memiliki pasangan tetapi belum menemukan sampai saat ini.


"Terus?"


"Apanya?"


"Gimana kalau kamu Mom jodohkan sama Adnan?" Tawar Jessica.

__ADS_1


Cahaya merasa tawaran tersebut sangat tidak masuk akal seketika menggeleng dengan cepat.


"Adnan itu anak baik, pintar, sopan dan paling penting kamu sudah tahu seperti apa Bunda Nayla. Tidak akan ada drama antara mertua dan menantu," Jessica pun berbicara dengan apa adanya namun berharap agar putrinya tertarik dengan tawaran.


"Nggak, malas banget. Udah ah, aku mau ke salon aja."


"Katanya nggak jadi."


"Pusing!"


Cahaya pun bergegas menuju salon tempat dirinya melakukan beberapa hal yang bisa membuat pikiran lebih jernih dan perasaan lebih tenang. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya malam pun tiba.


"Ya ampun aku udah berapa jam di sini?" Cahaya menyadari jika dirinya sudah menghabiskan waktu begitu lama di salon, seketika itu juga memutuskan untuk segera pulang.


Kembali memasuki mobilnya dan melajukan, sampai tiba-tiba mobilnya mati di saat perjalanan pulang, karena kehabisan bensin. Cahaya pun mendesus, kenapa bisa Mang Diman melupakan mobil ini untuk di isi bensin. Kenapa juga dirinya tidak mengisi bensin. Mengambil ponselnya dari dalam tas, tetapi ternyata ponsel nya pun sudah mati total.


"Ya ampun aku sial sekali, pulang dari salon seharusnya lebih segar malah semakin pusing kalau begini. Mana udah gelap begini," Cahaya pun memperhatikan sekitarnya yang sepi.


"Kok, nggak ada taksi yang lewat sih?"


Cahaya pun memutuskan untuk turun dari mobil kemudian berdiri di sisi jalanan. Tidak berselang lama segerombolan preman mendatanginya.


"Hay cewek," preman itu berusaha mencolek dagu Cahaya.


Tetapi di tepis secepat mungkin oleh Cahaya.


"Apa sih! Pergi nggak! Atau aku teriak?" Cahaya pun mengancam agar preman itu pergi.


Bukannya pergi malah semakin bersemangat untuk menggangu Cahaya memegang tangan Cahaya dengan nakal nya.


"Jangan kurang ajar ya!" Seru Cahaya, kemudian mencoba untuk melarikan diri. Sayangnya tidak bisa sebab gerakan nya terbaca dengan mudah nya.


"Lepasin!" Cahaya pun meronta-ronta ingin di lepaskan, tetapi tidak bisa. Sampai akhirnya sebuah mobil pun terparkir, Felix turun dan melihat Cahaya.


Sedangkan Cahaya mendesus seakan begitu kesal.


"Ini pasti rencana pria gila, manusia gila itu," umpat Cahaya. Jika tadinya merasa takut, tetapi tidak dengan saat melihat Felix. Ingat beberapa hari yang lalu Felix dengan sengaja membuat sandiwara yang seperti ini? Dan, kali ini pun pastinya sama saja. Sandiwara Felix untuk membuatnya takut.


"Lepaskan dia!" Felix berdiri dengan tubuh tegap nya.


Menatap segerombolan preman yang sedang berusaha untuk melecehkan Cahaya. Wanita yang sangat di cintainya tersebut, sudah pasti ketiganya tidak akan lolos dengan mudah. Kalaupun di lepaskannya minimal sampai patah tulang terlebih dahulu di tangannya.


"Felix! Kamu apa-apaan coba? Bercandanya nggak lucu tau! Mereka colek-colek aku, aku nggak suka!" Seru Cahaya mengutarakan kekesalan nya.

__ADS_1


Cahaya begitu marah, sebab di pegang oleh preman yang sudah jelas ingin melecehkan nya. Sudah pasti itu semua karena Felix, Cahaya sangat meyakini nya.


"Aku nggak tahu apa-apa," Felix pun berusaha menjelaskan pada Cahaya, menjelaskan bahwa kali ini tidak ada sangkut paut nya dengan preman itu.


"Cepat suruh mereka melepaskan aku!" Seru Cahaya.


"Cepat, lepaskan dia!" "Titah Felix.


Tidak ada yang menghiraukan bahkan semakin tertawa terbahak-bahak seakan mengejek Felix.


"Felix, ini nggak lucu. Tangan aku sakit!" Seru Cahaya terus-menerus.


"Aku tidak mengenal mereka, aku tidak berbohong."


"Hey, bocah ingusan. Pergi dari sini wanita ini jatah kami," ucap seorang preman yang di angguki teman-temannya.


Felix pun meloncat dan menendang satu-persatu tangan yang memegangi Cahaya.


"Kurang ajar! Kau menantang!"


Akhirnya pertarungan pun terjadi, Cahaya pun merasa ngeri dan merasa jika Felix tidak ada hubungan nya dengan preman-preman mengerikan ini. Satu-persatu preman itu mulai terkapar di aspal, tetapi tidak lantas membuat mereka menyerah. Salah satunya mengeluarkan benda tajam kemudian mengarahkan pada leher Cahaya.


"Felix," kaki Cahaya pun bergetar hebat, ketakutan saat merasa nyawa nya terancam.


"Lepaskan! Dan, kalian bisa pergi atau..." Felix pun mulai berpikir cara untuk bisa membuat Cahaya lolos.


Dengan gerakan cepat Felix pun menarik tangan preman itu, memelintir nya hingga berteriak. Seketika terdengar suara tidak lain adalah tulang yang tampaknya patah.


"Felix awas!" Teriak Cahaya, saat ada yang mencoba menusuk Felix dari belakang.


Dengan cepat Felix melindungi diri dan menjadikan preman lainnya yang akhirnya tertusuk. Felix melihat seorang preman mendekati Cahaya, dengan cepat menarik nya dan mengangkat pinggul nya.


"Tendang!"


"Aku nggak bisa," Cahaya pun menggeleng dirinya tidak pandai dalam hal kekerasan.


"Cepat! Tendang, bagian utamanya!"


"Nggak!" Teriak Cahaya, tetapi kakinya yang bergerak terus menerus tanpa sengaja mengarah pada benda utama preman tersebut.


"Aduh," preman itu meringis kesakitan memegangi milik nya yang terasa sakit.


"Bagus," Felix pun merangkul pundak Cahaya.

__ADS_1


"Aku hebat juga ternyata," Cahaya pun tersenyum bahagia, merasa bangga pada dirinya sendiri.


Bersamaan dengan itu para preman itu pun berusaha bangun kemudian pergi melarikan diri.


__ADS_2