Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Sedang berada di sebuah jurang pemisah yang siap menerjang.


__ADS_3

Setelah mengantarkan Vanya pulang, Riki pun segera menuju cafe tempat dirinya dan Felix membuat janji bertemu.


Ada sebuah pekerjaan yang harus mereka bicarakan, seharusnya siang tadi. Tetapi, Riki membatalkan sepihak karena memilih bersama dengan Vanya selama seharian ini.


"Lama sekali, lagi-lagi kau membuat Felix Bima Putra menunggu!" Kata Felix dengan wajah datarnya.


Menemui Riki begitu sulit, beruntung Riki adalah seseorang yang cukup berjasa dalam perjalanan cintanya dengan Cahaya. Sehingga, Felix merasa memiliki hutang budi pada Riki. Pria duda yang selalu berganti-ganti wanita itu, bahkan sangat suka bermain dengan siapa saja.


"Maaf," Riki juga merasa tidak enak namun bagaimana lagi. Sebab, Vanya memang sangat berarti di hatinya saat ini dan selamanya.


"Wanita dan pekerjaan tidak ada hubungannya, cobalah untuk membaginya!" Terang Felix, menebak Riki hari ini membatalkan rapat pasti untuk seorang wanita.


Wanita dan entah seperti apa lagi wanita kali ini, sebab Felix sudah terlalu bosan dengan alasan demikian.


"Tapi yang ini berbeda," Riki tersenyum membayangkan wajah Vanya, lucu dan menggemaskan di matanya.


Ya ampun Riki mengapa hanya ada Vanya dan Vanya saja isi otak mu. Apakah sebegitu mudahnya Vanya membuat mu jatuh hati.


Mungkin.


Sementara Felix ingin sekali muntah melihat wajah Riki yang sedang membayangkan wanitanya itu.


"Dia masih cukup kecil, tapi kau tahu?"


"Tidak!" Jawab Felix ketus.


Riki pun tersenyum melihat wajah Felix yang kesal padanya.


Tetapi Riki sama sekali tidak ingin perduli, rasa bahagia masih saja begitu menyelimuti hati sehingga apapun di dunia ini akan kalah dengan hati seorang Riki yang sedang berbunga-bunga.


"Dia cantik, manis dan sangat polos. Siang ini saja kami tidur bersama, tepatnya dia menemani tidur ku," jelas Riki dengan tersenyum melihat wajah Felix yang tampak datar.


"Dasar gila, setelah itu wanita mana lagi?"


"Tidak, sepertinya dia yang terakhir."


Ingin sekali Felix muntah mendengar pengakuan Riki.


Terakhir?


Terakhir dari mana?


Sejak kapan Riki bisa setia pada seorang wanita.


Apa lagi Riki pernah mengatakan bahwa wanita hanyalah sebuah pelampiasan nafsu semata tidak untuk menikahi apa lagi untuk hidup dengan kesetiaan.


Felix juga yakin semuanya tidak akan lama, setelah bosan sudah pasti Riki melemparnya dengan begitu saja.


"Lalu apa lagi?" Tanya Felix dengan santainya dan hanya sekedar bertanya saja.

__ADS_1


Sedangkan Riki tentunya sangat bahagia jika sudah berbicara menyangkut tentang bocah kesayangannya itu.


"Saat dia memakai kemejanya dia terlihat sangat seksi, dadanya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil sangat membuat ku tertantang, kurang ajar. Adik ku bisa bangun jika sudah menyangkut tentang bocah polos itu," Riki mengusap wajahnya, lagi-lagi bayangan Vanya hanya dengan berbalut handuk membayang dan sangat membuatnya tidak tahan.


"Dasar gila," Felix terkekeh mendengar apa yang di katakan oleh Riki.


Sahabatnya itu memang tidak waras, Felix pun tidak tahu mengapa Riki hanya menjadikan wanita sebagai pemuasnya saja.


Bahkan Riki tidak pernah bercerita akan latar belakangnya dan Felix pun tidak pernah bertanya. Sebab seseorang tentunya butuh sebuah kenyamanan untuk menutup hal yang bersifat pribadi.


"Aku serius, bibirnya sangat manis sekali. Bahkan aku tidak bisa jika bertemu tanpa menyentuh bibirnya," Riki pun meneguk minuman agar membuatnya sedikit lebih baik.


Sebab apa?


Sebab hanya bocah seperti Vanya yang mampu membuatnya menjadi seperti ini dan sulit untuk bernapas dengan baik hanya karena membayangkannya saja.


"Belum menikah!"


"Ya, tapi kau juga sebelum menikah sudah kan?" Tanya Riki sambil terkekeh.


Tentunya Felix tahu apa yang di maksud oleh Riki saat ini.


Apa lagi kalau bukan tentang Felix dan juga Cahaya.


Felix pun kesal saat Riki membalasnya.


"Iya, tapi apa pun alasannya. Bocah yang sekarang ini menjadi incaran ku itu sangat cantik dan polos, bayangkan saja jika sudah polos tanpa sehelai benang pun?" Riki menutup mata membayangkan Vanya.


Felix pun melemparkan sebuah bolpoin di tangannya, beruntung Riki segera mengelak hingga tidak mengenainya.


Meskipun demikian Riki tetap saja tersenyum, tersenyum membayangkan Vanya tanpa tahu Kakak wanita yang di cintainya itu adalah Felix.


Tanpa tahu jika kini dirinya sedang berada di sebuah jurang pemisah yang siap menerjang.


"Dasar gila! Lepaskan saja, dia masih bocah!"


"Tidak, aku sudah tidak bisa melepaskannya. Dia sudah menjadi candu ku, bibirnya selalu membuat ku melayang"


Felix hanya diam mendengarkan apapun yang di katakan oleh Riki.


Tidak perduli sama sekali, tetapi tidak juga untuk menghalangi.


Sebab kebahagiaan Riki bukan urusan nya, baik dengan wanita manapun juga seperti selama ini.


Meskipun sebenarnya dirinya juga sedikit penasaran siapa wanita yang di maksud oleh Riki saat ini. Tapi biarkan saja, itu bukan urusannya.


"Jangankan bocah, tante-tante juga kau mau," kata Felix menyindir Riki saat mereka masih kuliah dulu.


Riki pun tersenyum mengingat saat itu, tapi itu memang benar.

__ADS_1


"Dia juga mau, apa iya kucing di hidangkan ikan tidak mau? Tidak boleh membuang-buang makanan bukan?" Tanya Riki sambil terkekeh.


"Iya, iya, iya, terserah kau saja."


Keduanya pun tertawa terbahak-bahak, apapun yang menjadi perbincangan hangat tentunya semakin membuat suasana menjadi lebih berwarna.


Bukan hanya masalah pekerjaan yang menjadi pembicaraan, tetapi juga masalah Riki dan wanita-wanitanya di luar sana. Entah sudah berapa banyak wanita yang menemani Riki bahkan Riki sendiri tidak tahu


"Apa kau cukup dengan satu wanita?" Tanya Riki kembali.


Felix pun tersenyum mengingat wajah Cahaya.


"Tentu, dia cantik, manis dan aku sangat mencintainya. Menjaga perasaannya adalah keharusan."


Riki dapat melihat cinta yang begitu dalam di mata Felix untuk Cahaya sehingga tidak ada komentar sama sekali untuk itu semuanya.


"Apa dia sudah hamil?"


"Sepertinya belum!"


"Bagaimana kalau kita balapan?"


"Maksudnya? Jangan bilang kau mau menghamili anak orang!" Tebak Felix merasa sedikit ngeri.


Tetapi Riki malah mengangguk dan membuat tawa keduanya menggelegar.


"Terserah kau saja!" Felix masih tertawa kecil, sungguh tak habis pikir akan apa yang kini ada di pikiran seorang Riki.


"Kenapa tidak, lagi pula aku rasa dia juga mau."


"Iya, iya, iya, apa malam ini kau juga bersamanya?"


"Tidak, tapi besok aku ingin mengurungnya di kamar ku seharian penuh."


"Baiklah, aku pulang dulu. Istri ku menunggu di rumah."


Felix pun bangkit dari duduknya, kemudian berpamitan untuk pergi.


Sementara Riki masih duduk diam di tempatnya, membayangkan wajah Vanya yang begitu cantiknya.


Tetapi bagaimana dengan Felix dan Riki setelah ini semua, akankah keduanya masih bersahabat seperti selama ini.


Akankah Riki masih bisa berhubungan dengan Vanya, bahkan setelah bercerita tentang apa saja yang sudah di lakukannya pada Vanya.


Mungkin Riki dan Felix akan sama-sama dibuat terkejut setelah mengetahui siapa sebenarnya Vanya dan siapa orang yang di maksud oleh Riki.


Akankah Riki menyesali semua yang sudah di ceritakannya pada Felix?


Atau malah Felix yang akan menyesali persahabatannya dengan Riki bahkan lebih memilih untuk tidak pernah bertemu dengan Riki sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2