Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Dasar bocah...


__ADS_3

Vanya pun turun dari mobilnya, dengan cepat Riki pun turun pula dari mobilnya dan menahan Vanya untuk tidak masuk ke dalam rumah sebelum menyelesaikan masalah dengan dirinya.


"Vanya, dengarkan aku dulu."


Riki pun memegang tangan Vanya, berusaha untuk menahannya.


"Apa? Ngomong cepat!" Kata Vanya penuh kemarahan.


Riki pun menarik napas panjang sambil menatap wajah Vanya yang masih saja dengan kemarahannya.


"Mau ngomong nggak sih? Kalau nggak ada, ya udah, aku mau masuk!" Vanya pun segera pergi karena tidak ingin lebih lama bersama dengan Riki yang membuatnya semakin kesal.


"Vanya!" Riki pun lagi-lagi berusaha untuk memanggil Vanya, tetapi Vanya tidak perduli sama sekali.


"Vanya," Nayla yang mendengarnya pun langsung menghampiri anaknya yang akan menaiki anak tangga.


Mendengar namanya di panggil Vanya pun mengurungkan niatnya sejenak untuk menaiki anak tangga dan beralih melihat Nayla.


"Kamu sedang bertengkar sama Riki?"


Vanya pun tampak tidak bersemangat jika berbicara menyangkut akan Riki.


"Vanya, sebaiknya kalau ada masalah segera di selesaikan," tambah Nayla lagi.


"Aku, ke kamar dulu ya Bunda."


Vanya pun langsung menuju kamarnya, karena sedang tidak ingin membahas soal Riki.

__ADS_1


Namun, saat baru saja masuk ke dalam kamar tiba-tiba Devan pun muncul.


"Anak Ayah kenapa?"


"Ayah?" Vanya pun melihat Devan yang semakin berjalan ke arahnya kemudian duduk di sisi ranjang bersama dengan dirinya.


"Anak Ayah kenapa?" Tanya Devan lagi sambil mengelus kepala anaknya.


Seorang Ayah pasti akan menganggap anaknya terus saja sebagai anak kecil, meskipun sebentar lagi akan menikah.


Itulah yang terjadi pada Devan, baginya Vanya adalah gadis kecilnya yang begitu dicintainya.


Vanya pun segera memeluk Devan, biasanya jika memeluk Devan akan membuatnya menjadi lebih baik.


Semoga saja begitu juga dengan saat ini.


"Kenapa? Dia ngapain anak Ayah?" Devan langsung saja berpikir negatif akan Riki.


"Dia jahat," kata Vanya lagi sambil terus menangis kencang.


"Jahat?"


"Hu'um," Vanya pun mengangguk.


Sementara Devan semakin terbakar api kemarahan, rasanya ingin menelan Riki hidup-hidup.


Tapi tunggu dulu, ini bisa menjadi kesempatan untuk membuat pernikahan Vanya dan Riki batal.

__ADS_1


Mendadak Devan menjadi licik karena perjalanan menuju pernikahan tidak mulus, lagi pula bagaimana menikahkan anaknya dengan lelaki jahat seperti Riki.


Tentunya Devan pun tidak ingin anak kesayangannya malah menderita.


"Kalau gitu, kamu temuin dia. Lalu, batalkan saja pernikahannya, belum menikah saja dia udah jahat sama kamu" kata Devan memberikan saran.


Vanya pun sejenak terdiam dan menimbang apa yang dikatakan oleh Devan.


Tetapi sepertinya Vanya pun setuju pada apa yang dikatakan oleh Devan, mungkin karena sedang kesal begini hingga membuatnya mudah terpancing.


"Iya, ya. Yah."


"Iya dong, anak Ayah jangan mau dibodohi oleh laki-laki."


"Ya, aku mau batalin aja pernikahannya. Soalnya Mas Riki juga jahat," kata Vanya dengan yakin.


Sementara itu Devan tersenyum puas, semoga juga setelah itu keduanya tidak akan pernah bertemu lagi.


"Ya sudah, temui dia. Dan, batalkan pernikahan kalian."


"Iya, tapi nanti aja. Aku mau tidur dulu. Ngantuk," Vanya langsung melempar tubuhnya pada ranjang.


"Ini masih pagi," kata Devan bingung.


"Soalnya semalam aku nggak bisa tidur, " jawab Vanya.


Dalam hati Devan kesal, karena tahu pasti semalaman Vanya tidak bisa tidur karena memikirkan Riki.

__ADS_1


"Dasar bocah!" Devan pun segera keluar dari kamar Vanya.


__ADS_2