Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Menjenguk Nayla!


__ADS_3

"Kalian ngomongin apa sih?" Tanya Nayla.


Sebab ketiga wanita itu bingung melihat suami mereka yang tiba-tiba menjadi aneh.


"Ada, ini sesuatu yang penting," jawab Devan tanpa menjelaskan pada istrinya.


"Ada-ada saja," Nayla pun beralih menatap Rima.


"Tapi nanti kalau anaknya lahir dikasih nama siapa?" Nayla merasa iri pada Rima.


Tentu saja, sebab sekali hamil saja langsung mengandung anak kembar.


Wanita mana yang tidak menginginkannya?


"Belum kepikiran sih," jawab Rima dengan polosnya.


"Gimana kalau namanya, Zapi dan Zadi!" Usul Reyna.


"Ahahahhaha," Rima seketika tertawa mendengar nya.


"Kamu itu cocoknya gabung sama Adnan. Nama adiknya Daki," ujar Nayla sambil tersenyum-senyum.


"Ihhh itu bagus tau, unik," Reyna masih kekeh dengan usulan nama bayi yang menurutnya sangat unik itu.


"Sudahlah, sebaiknya kalian pulang aja, aku bisa kelepasan ketawa karena kegilaan kalian!" Omel Nayla.


"Kamu ngusir?" Kesal sekali rasanya Reyna merasa diusir oleh Nayla.


"Iya, nanti datang lagi setelah beberapa hari! Aku kesel! Kalian sukanya aneh- aneh, aku harus menahan tawa!" Jelas Nayla.


"CK, padahal aku mau usul menjodohkan anak mu sama anak aku," kata Rima.


"Anak kamu belum lahir aja udah dijodohkan! Kasihan sekali kamu Nak, Ibu kamu kejam sekali," Reyna sampai mengelus perut Rima, karena sebenarnya dirinya juga merasa lucu.


"Aku nggak kejam, cuma ya. Lucu aja!" Elak Rima.


"Halo Vanya, selamat datang, dan kamu harus jadi anak baik, pintar dan cantik. Kenalin aku itu calon Mama mertua mu, baik-baik sejak dini sama aku ya," celetuk Rima.


Nayla, Rima, Devan, Nanda dan Aditya sampai melongo mendengarnya.


Sesaat kemudian Reyna terbatuk-batuk karena tidak kuasa menahan shock.


"Minum," Nanda pun memberikan mineral pada Reyna, hingga membuat tenggorokan istrinya lebih baik.


"Makasih Abang," Reyna pun tersenyum manis pada Nanda.


"Rima, mau jadi calon mertua Vanya itu harus yang waw! Banyak seleksinya, terutama seleksi mertua," jelas Nayla.


Sebenarnya ingin sekali Nayla tertawa, tetapi tidak boleh.


"Kurang apa coba aku, aku cantik, bahenol, suami aku Dokter, aku perawat," Rima pun dengan bangganya berjalan seperti model, seakan tidak ada yang kurang darinya.


Tapi percayalah, itu hanya lawakan semata. Rima tidak sombong dan tahu dari mana asalnya, apalah dirinya jika tidak dinikahi anak dari keluarga berada.


"He, kalau gitu kasih tanda jadi woy!" Usul Reyna.

__ADS_1


"Nah bener, kalau serius kasih tanda jadi," Nayla pun tersenyum melihat kekonyolan sahabatnya.


"Mas, kasih Rp 5000," Rima menunjuk suaminya, dan meminta mengeluarkan uang.


Aditya pun mengambil lembaran rupiah, dari dompetnya.


Beruntung ada uang yang diminta oleh istrinya.


Seketika Rima memberikan pada Nayla.


"Ini tanda jadinya," celetuk Rima sambil memberikan uang pada Nayla dengan jumlah Rp 5000.


"Ahahahhaha, tanda jadi Rp 5000!" Seru Reyna, memegang perutnya dan tidak kuasa menahan tawa.


Bahkan Devan dan Aditya pun sampai terkekeh geli melihatnya.


"Dasar calon besan nggak ada otak!" Nayla melempar sebuah anggur pada Rima, tetapi memang sahabatnya itu sangat lucu dan punya seribu cara membuat suasana menjadi lebih berwarna.


"Ahahahhaha," Rima pun sudah tidak dapat menahan tawanya, dirinya juga merasa lucu setelah menyadari tingkah lakunya yang menggelikan tersebut.


"Udahlah, kalian pulang aja! Aku mau istirahat!" Nayla pun tidak sanggup lagi menahan tawa, sedangkan dirinya baru saja selesai di operasi. Dan itu karena ulah sahabat konyolnya.


"Oh tidak bisa!" Tolak Rima dengan lantang.


Nayla dan yang lainnya lagi-lagi menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rima, yakin tidak akan kalah aneh dari sebelumnya.


"Tulis surat pernyataan dulu, bahwa aku sudah memberikan tanda jadi!" Lanjut Rima.


"Rima! Pulang!" Kata Nayla, dirinya benar-benar tidak kuasa.


Ingin sekali memohon ampun, dan sebentar saja sahabatnya itu tidak membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.


Sampai tiba-tiba terdengar suara kentut.


Tuut...


Semua mendadak diam dan melihat Reyna.


Wajah Reyna pun memerah, menggaruk kepala sambil cengengesan menahan malu.


"Maaf," Reyna benar-benar tidak merasa apa-apa, tiba-tiba saja kentutnya keluar hingga menimbulkan suara.


Tunggu dulu, ada aroma juga yang menyengat. Bersamaan Felix pun masuk dan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Kok ada wangi nasi goreng?" Tanya Felix.


Semua melongo mendengarnya.


"Hueekkkkkk," Dengan cepat Felix kembali keluar, tidak kuat mencium aroma nasi goreng tersebut.


"Ini gara-gara kamu," Reyna pun mengetuk kepala Rima.


"Kok aku?"


"Kamu yang aneh dan aku kelepasan!" Geram Reyna.

__ADS_1


"Ahahahhaha," Rima tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reyna yang memerah.


"Wangi nasi goreng," ejek Rima.


Devan, Aditya dan Nanda pun menahan tawa mendengarnya.


"Udah, kalian pulang sekarang! Datang-datang bikin rusuh aja!" Nayla pun mengusir teman-teman nya yang aneh dan menggemaskan tersebut.


"Surat perjanjian kita gimana?"


"Nggak ada! Emang apaan, anak aku dikasih Rp 5000. Jaman sekarang aja 5000 nggak ada artinya, apa lagi nanti jaman anak aku gede!" Kata Nayla.


"Ya udah, balikin duit aku!" Rima pun menarik paksa uang Rp 5000 dari tangan Nayla.


"Biar segini juga uang, lumayan buat beli kerupuk!" Kesal Rima seperti seorang wanita yang tengah marah besar.


"Apa lagi kalau kamu beli jarum, banyak dapatnya. Buat nusuk mulut mu itu!" Ujar Nayla.


"Tidak, aku sudah terbiasa ditusuk jarum keramat suami aku," celetuk Rima.


"Ahahahhaha," Lagi-lagi Reyna tertawa terbahak-bahak, beruntung kali ini tidak sampai kentut.


"Heh, pergi nggak dari sini!" Nayla melemparkan sebuah pisang pada Rima, bukan cuma satu tapi dua kali.


Rima berjongkok dan mengambil salah satunya, kemudian memperlihatkan pada Nayla. Belum juga dirinya berbicara apa yang dipikirkan oleh kepalanya saat ini malah bibirnya sudah tertawa terbahak-bahak.


"Ahahahhaha," Rima benar-benar tidak kuasa melihat pisang ditangannya.


"Aditya, kamu bawa istri mu sekarang. Tapi jangan ke rumah!" Kata Nayla.


"Terus?" Tanya Aditya.


"Ke rumah sakit jiwa!"


"Ahahahhaha," Rima kembali tertawa melihat wajah kesal Nayla.


"Otak kamu aja yang kotor, aku emang suka pisang. makanya aku ketawa pas lihat pisang ini," elak Rima ingin menyudutkan Nayla.


"Emang kamu mikirin apa?" Kali ini Reyna pun bertanya, tahu Nayla tengah tersudutkan.


"Mas, panggil satpam!" Pinta Nayla pada Devan.


"Buat ngusir mereka berdua sama suaminya jadi berempat."


"Caelah, belagu amat! Suami ku polisi punya senjata dua aja biasa aja!" Kata Reyna.


"Dua?" Rima bertanya dengan polosnya.


"Iya, satu ada dibalik jaketnya. Satu lagi dibalik..." Tiba-tiba Reyna terbatuk-batuk, tersedak karena menahan tawanya sendiri.


"Uhuk... Uhuk!"


"Kapok!" Kata Nayla.


"Ahahahhaha," Rima tertawa terbahak-bahak melihat Reyna.

__ADS_1


"Wanita-wanita ini semakin tidak beres, Sebaiknya kita pulang," Nanda pun membawa istrinya pulang.


"Aku juga pulang ya," pamit Rima sambil menahan tawa yang masih tersisa.


__ADS_2