
Riki langsung saja pergi tanpa perduli lagi pada pertanyaan Vanya karena Riki sudah tahu jika Felix adalah majikan Ina yang tak lain adalah Ibu dari Vanya.
Setahu Riki, Vanya adalah anak dari Ina. Tanpa di ketahui ada sesuatu hal yang sebenarnya yang jauh lebih mengejutkan. Bahkan di luar akal sehat Riki.
"Om!" Vanya pun berseru saat Riki malah pergi tanpa menjawab pertanyaan terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah bibir Vanya terus saja komat-kamit tidak jelas menurut Riki.
Tapi lain halnya dengan Vanya, karena dirinya yang tengah menikmati lagu kesukaannya.
Berikut dengan suara gendang dan suling semakin membuatnya menjadi lebih bahagia.
Hingga akhirnya Vanya pun sampai di rumah, tanpa berbicara sama sekali langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Tak perduli pada Riki yang sudah mentraktir makan malamnya.
"Mana?" Tanya Ninda saat Vanya baru saja sampai di rumah.
"Apanya?" Baru saja Vanya sampai tetapi Ninda sudah bertanya bahkan bertanya tanpa jelas tentunya hanya membuat Vanya bingung.
"Makanan! Kamu kan abis makan di luar! Mulut aku ini perlu sogokan juga buat menutupi semuanya dari Ibu!" Ketus Ninda.
"Ya ampun dasar!" Vanya kesal pada Ninda, meskipun demikian tetap saja keduanya adalah sahabat yang baik, meskipun baru saling mengenal.
"Nanti kita shopping, aku juga makannya buru-buru," Vanya pun menjelaskan bagaimana dirinya makan di bawah kolong meja membuat Ninda tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Dasar!" Vanya terlihat kesal pada Ninda.
"Tapi tenang, aku dapat kartu kredit. Besok kita senang-senang!" Vanya tersenyum dengan bangga sambil memegang benda di tangannya.
"Wah, hebat kamu. Jangan-jangan kamu udah ngapa-ngapain sama Om-om!" Tebak Ninda dengan pikiran kotornya.
"Enak aja! Aku masih perawan. Nih aku buka. Lihat baik-baik!"
"Ogah, enak aja! Ya kali aku lihat itu!"
"Makanya!"
"Dah ah, tidur!"
###########
"Mama juga merasa dia adalah anak yang baik, lebih bagus kalau kamu sudah tertarik padanya," kata Sela.
Di malam ini, di malam yang semakin larut, Riki berdiri di depan jendela kamarnya.
Menatap ke luar sana, tepatnya matanya tertuju pada kolam renang. Kolam renang yang tak lain adalah tempat kesukaan Vanya.
Sedangkan bayang-bayang Vanya masih di sana dengan berbagai gaya anehnya pun terus berputar di ingatan Riki.
Sadar atau tidak, mengakui atau tidak. Tetapi, pada kenyataannya kini bayangan seorang bocah itu tidak dapat menghilang begitu saja di pikiran Riki.
__ADS_1
Bahkan Sela tahu apa yang tengah di pikirkan oleh putranya tersebut.
Sedangkan Riki baru menyadari Sela yang menghampiri dirinya ke kamar?
Untuk apa?
Tentu untuk berbicara tentang Vanya, Sela ingin Riki membuka hatinya untuk Vanya. Atau bahkan segera menjadikannya istri, mengingat Riki sudah sangat dekat dengan Vanya.
Dan Sela pun yakin ada hati yang tersimpan untuk Vanya, jika tidak mengapa harus putranya itu selalu bersama dengan Vanya?
"Apa lagi yang perlu kamu tunggu, kamu juga butuh kebahagiaan. Jangan sampai kamu menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki seorang wanita yang sangat baik dan juga apa adanya tersebut," Sela tersenyum bahagia mengingat wajah Vanya.
Bahkan dirinya saja sebagai seorang wanita menginginkan untuk memiliki Vanya menjadi bagian dari keluarga. Sela tak mau anaknya salah memilih istri lagi seperti dahulu.
Meskipun tahu Riki pun tidak pernah menginginkan menjadi seorang duda dan Sela pun tak pernah mengungkit sama sekali.
Karena apa?
Karena Riki juga sangat terluka, bahkan sampai trauma untuk menjalin hubungan yang baru dengan wanita lainnya.
Mungkin sakit di masa lalu sangat dalam sehingga begitu membekas dan tak akan pernah bisa di sembuhkan dengan mudahnya.
Sehingga Sela berharap ada suatu hari nanti seorang wanita yang datang untuk membuat Riki bahagia, bersama tanpa ada kata pengkhianat lagi.
Vanya!
Lagi-lagi menurut Sela hanya Vanya wanita yang tepat untuk Riki.
Tetapi bagaimana dengan Riki?
Apa yang ada di hati pria tersebut? Kegelisahan.
"Aku tidak tertarik padanya Ma, dia hanya sekedar mainan saja," jawab Riki. Sela pun tersenyum saat mendengar apa yang di katakan oleh Riki.
Rasanya Sela tidak bisa percaya bahwa Riki tidak memiliki perasaan apapun pada Vanya.
"Bibir bisa berbohong, tapi tidak dengan hati."
Riki pun melihat Sela, sedangkan Sela melihat ke luar dengan senyuman.
"Aku sudah bahagia dengan begini, semua tidak harus selalu putih. Karena, terkadang hitam juga lebih di butuhkan. Begitu pun dengan kehidupan, kejujuran tak selalu di butuhkan, asalkan ada kesenangan meskipun hanya sebuah tipuan," papar Riki.
Sela lagi-lagi terdiam mendengar jawaban anaknya tersebut.
Lama keduanya hening sampai akhirnya Sela pun kembali bersuara.
"Kamu sepertinya belum mengenali dirimu sendiri, jika saja kamu sudah tahu diri mu sediri nanti kamu akan sadar juga dengan perasaan yang ada. Tapi, Mama harap kamu tidak terlambat."
"Maksud Mama?"
"Vanya itu cantik, baik dan dia juga bisa membuat orang disekitarnya nyaman. Tidak sulit baginya untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintainya dan jika sampai itu terjadi maka kamu tidak lagi punya kesempatan untuk mendapatkannya. Jadi, kesempatan jangan disia-siakan!"
__ADS_1
Riki diam menimbang apa yang di katakan oleh Sela. Tapi sampai saat ini pun Riki tak merasa menyukai Vanya.
"Dia hanya mainan aku setelah bosan di buang!" Kata Riki seakan penuh kebencian.
Sejauh mata memandang Riki sudah melihat wajah-wajah wanita di luar sana.
Di sana semuanya sudah memiliki sebuah harga.
Jika pun ada yang bisa memberikan sebuah kepuasan dan kenyamanan ada uang di dalamnya sebagai tujuan.
Begitu juga dengan Vanya.
Semua yang di lakukan oleh Vanya hanya karena uang, andai saja bukan karena uang wanita itu pun tak akan pernah bisa untuk tetap mengikuti segala yang dia inginkan.
"Jangan terlalu banyak bermain dengan hati, karena resikonya bisa sakit hati!" Sela pun tersenyum memberikan sebuah peringatan pada putranya.
"Semuanya sudah tertutup rapat."
"Biasanya meskipun tertutup rapat akan ada celah tanpa di sadari," kata Sela lagi dengan senyuman manis karena dirinya hanya sedang berusaha untuk menyadarkan Riki jika ada Vanya yang kini berada di hati anaknya tersebut. Hanya saja terlalu larut dalam luka lama dan tersesat hingga membuatnya sulit untuk bisa keluar.
Riki tampaknya kalah jika berdebat dengan Sela, sebab setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan begitu mudah mendapatkan jawaban dari Sela.
Bahkan sampai di sini seakan Sela begitu yakin atas apa yang di pikirkannya.
"Ingat Riki, anak kecil pun suka dengan mainan. Karena terlalu suka sampai suatu ketika mainan itu hilang dia menangis. Begitu pun dengan kamu, mainan mu itu hati. Jika dia pergi kamu terluka lagi, anak kecil menangis mengeluarkan suara keras sedangkan kamu menangis tanpa suara!" Tandas Sela.
Sela pun memilih untuk keluar dari kamar Riki dengan kursi rodanya, tetapi Riki hanya bisa melihat dari jauh saat Sela berlalu pergi.
Hanya bisa terdiam dan meresapi apa yang di katakan oleh Sela barusan.
Bibirnya tersenyum sesaat kemudian, dirinya tahu tak ada cinta dan yang di katakan oleh Sela pun hanya omong kosong.
"Menyesal? Tidak mungkin, apa lagi dia hanya wanita miskin yang haus akan kekayaan. Kebaikan hanya sebuah strategi untuk mencapai tujuan."
Benarkah demikian?
Apakah hati benar tak menginginkan wanita tersebut sama sekali.
Sedikitpun, secuil, seujung kuku?
Jangan sampai ternyata telah terpenjara namun tak menyadarinya.
Mungkinkah dalam waktu secepat itu Vanya bisa membuatnya tertarik?
Rasanya tidak mungkin.
Riki pun tak ingin mencintai dengan begitu cepat.
Sebab kebanyakan sesuatu yang terburu-buru itu hanyalah sebuah pelampiasan saja sesungguhnya jatuh cinta itu tidak mudah butuh waktu yang lama.
"Apa itu cinta? Bahagia? Tidak, cinta itu adalah kebahagian yang membawa luka," kata Riki.
__ADS_1
Riki tersenyum dan berbicara sendiri, berdebat dengan dirinya sendiri tanpa ada yang dapat mengelak semua yang dia katakan. Kecuali dirinya sendiri juga.
Riki hanya yakin dan percaya bahwa apa yang ada di pikirannya benar adanya.