Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Ini serius?


__ADS_3

"Namanya Raka aja ya, Mama suka namanya," kata Arni dengan penuh semangat.


Reyna dan Nanda pun mengangguk setuju melihat wajah Arni yang berseri-seri tentunya tidak akan membuat keduanya tega untuk menolak.


"Aku setuju saja Ma. Namanya bagus, " jelas Reyna.


"Aku juga setuju Ma," Nanda pun mengangguk dengan cepat.


"Wah, namanya Raka ya," Puput menimpali sambil menatap cucunya dengan rasa bahagia.


Tidak lama kemudian Nayla pun sampai bersama dengan Devan.


"Hay, semuanya," sapa Nayla sambil berjalan masuk.


Keduanya datang berdua saja baby Vanya masih terlalu kecil untuk bepergian terlalu jauh. Sehingga Nayla dan Devan lebih memilih untuk pulang setelah melihat keadaan Reyna dengan waktu sebentar saja.


Nayla dan Reyna sudah seperti air dan beras, keduanya tidak bisa di pisahkan lagi. Sebab, Nayla tidak bisa melupakan Reyna yang selalu ada dalam menolongnya semasa hidupnya masih dalam kesulitan.


Untuk itu Nayla pun langsung meminta Devan mengantarkan dirinya menuju Bali demi melihat keadaan Reyna kini.


"Hay, juga," jawab Reyna dengan senyuman, keduanya langsung berpelukan ala-ala teman sejati rasa saudara kandung.


"Akhirnya aku jadi Ibu," kata Reyna penuh haru.


Nayla pun mengangguk dan kembali memeluk Reyna lagi.


"Mana bayi nya?" Tanya Devan.


"Ini, namanya Raka," Arni pun menunjukkan pada Devan, memperlihatkan wajah cucunya yang tampan.


Devan pun mengangguk, dapat melihat raut wajah bahagia saat kehadiran Raka.


"Namanya Raka?"


"Bagus nggak?"


"Bagus Tante," Nayla pun tersenyum dengan mengangguk.


Tidak lama kemudian Aditya datang bersama dengan Rima, mereka pun ingin melihat bayi lucu Reyna yang di lahirkan beberapa jam yang lalu.


Hanya Alex dan Jessica yang tidak datang, sebab Jessica masih berada di rumah sakit. Belum di perbolehkan untuk pulang.


"Wah lucunya," Rima mencium pipi baby Raka dengan gemas.


"Iya, dia mirip siapa ya?" Tanya Aditya.


"Mirip tetangga," jawab Arni dengan asal. Namun, jawaban Arni membuat Nanda menjadi terkejut.


Seketika bangkit dari duduknya dan melihat wajah bayinya dengan penasaran.


"Apa benar bayi ku mirip tetangga?" Nanda pun memperhatikan wajah anaknya dengan jelas.


Rima menahan tawa saat mendengar pertanyaan itu, merasa lucu saja jika sudah berkumpul bersama begini.

__ADS_1


"Sepertinya begitu," kata Nayla menimpalinya.


Nanda semakin kelimpungan, merasa tidak nyaman karena anaknya disebutkan mirip tetangga.


"Kalian serius dong, masa iya. Aku yang peras keringat, kenapa tetangga yang mengambil alih kemiripannya?" Tanya Nanda dengan kesal. Sontak saja membuat yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Tidak mungkin aku hanya bercanda saja. Sudah pasti mirip emak bapaknya," Nayla pun menjelaskan dengan di selingi tawa, merasa lucu dengan tanggapan Nanda barusan.


"Bukan Emak Bapaknya, tapi Abi Umi," jelas Reyna, Nanda pun mengangguk cepat, sebab apa yang dikatakan oleh istrinya tidaklah salah.


"Betul Umi," kata Nanda.


Nayla pun memijat kepalanya, jika Nanda dan Reyna sudah dalam mode bucin maka sebentar lagi akan ada pertunjukkan aneh.


"Abi, love you," Reyna pun mengambil udara, seakan bertaburan love dan meniupkan pada Nanda.


Nanda tersenyum sambil menangkapnya, kemudian mendekapnya di dada.


"Ampun deh," gumam Nayla, membenarkan apa yang barusan di pikirkannya.


"Terserah kalian saja, Mama mau bawa cucu Mama pulang," Arni tidak perduli dengan anak menantunya, silahkan saja jika saat ini langsung berangkat berbulan madu pun, yang terpenting cucunya bersama dengan dirinya.


"Ya ampun Tante, katakan terima kasih dulu sudah diberikan cucu," celetuk Rima.


"Ahahahha," Puput pun tertawa kecil mendengarnya, tapi mungkin apa yang dikatakan oleh Rima benar juga.


Sebab, bagaimana bisa baby Raka ingin di bawa pulang. Sedangkan Ibunya saja masih dalam pemulihan, mungkin esok hari baru bisa pulang dan menjalani pemulihan pasca melahirkan.


"Benar banget itu, dulu mereka juga seringnya berantem mulu. Bahkan Nanda pernah diguyur air," Nayla pun ikut membenarkan, sambil menceritakan sedikit tentang pasangan aneh tersebut sehingga akhirnya kini menjadi bucin tingkat akut.


"Wah, benar begitu?" Tanya Rima yang kian penasaran.


Nayla tersenyum sambil mengangguk cepat, membenarkan yang dikatakannya barusan tanpa ada keraguan


"Galak ya," Rima pun geleng-geleng kepala melihat Reyna.


"Itu dulu, sekarang sih nggak," Reyna tersenyum pada Nanda, kemudian merentangkan kedua tangannya.


"Abi, kangen," kata Reyna dengan manjanya.


"Heh," Nayla pun mengetuk kepala Reyna.


"Nggak usah aneh-aneh, dari tadi juga kalian sama-sama," kesal Nayla.


Reyna pun cengengesan, kemudian menggosok kepalanya. Tapi sesaat kemudian kembali tersenyum pada Nanda yang duduk di sofa.


"Kami kan best friend forever," Reyna pun menunjuk tangannya dengan bentuk setengah love.


"Iya kan Abi," tanya Reyna ingin mendapatkan pengakuan dari Nanda.


"Iya Umi, love you," kata Nanda.


"Udah, udah, apaan sih?" Kesal Nayla.

__ADS_1


"Mmmmfffffpp," Rima hanya mampu menahan tawa melihat kekonyolan sahabatnya. Terutama masalah kebucinan yang begitu luar biasa.


"Kenapa? Aku dan Abi ku memang ter lope-lope."


"Abi, abu, upil sekalipun! Masa bodo, tapi bisa tidak kalian tidak halu di hadapan kami? Minimal tunggu sampai kami pulang!" Ujar Nayla.


"Oh, tidak bisa," Reyna tersenyum dan melihat Nanda.


"Abi, love you!!"


"Love you to Umi aku," jawab Nanda dengan senyum bahagia.


"Sepertinya tidak lama lagi Raka akan punya adik lagi," bisik Devan pada Aditya yang berdiri disampingnya.


Aditya pun mengangguk setuju.


"Sepertinya iya, gas saja yang penting bahagia," jawab Aditya dengan suara pelan juga.


"Kau juga seperti itu?"


"Sepertinya, karena aku punya target juga. Sekarang sudah kembar, artinya satu lagi agar kita imbang," Aditya pun tersenyum melihat Devan.


"Ya, jangan terlalu lama. Usia mu sudah sangat tua, nanti kau sakit pinggang karena terlalu aktif dalam kegiatan pembuatan anak," ejek Devan.


"Tentunya aman, lihat saja di usia ku ini masih bisa membuat istri ku hamil begitu cepat. Bahkan dua anak sekaligus," Aditya pun tersenyum bangga menatap Devan.


"Kalian ngomongin apa?" Tanya Nayla penasaran.


Aditya dan Devan pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Nayla.


Sedangkan Reyna dan Nanda masih sibuk dengan kebahagiaan mereka.


"Abi peluk!"


"Peluk jauh dulu Umi."


"Mas, aku kok mules ya ngeliat mereka" Rima pun ikut kesal melihat Reyna dan Nanda yang terus saja bersikap mesra.


Walaupun tidak salah sebenarnya, hanya saja terlihat aneh jika mengingat keduanya dulunya adalah musuh bebuyutan.


"Iri banget sih!" Kesal Reyna, kemudian kembali tersenyum pada Nanda.


"Mas, aku serius. Tambah lihat mereka ini, aku ngerasa nggak nyaman," kata Rima lagi.


"Bayi kamu mual melihat pasangan bucin ini," Nayla menahan tawa sambil melihat Nanda dan Reyna bergantian.


"Biarin!" Ketus Reyna.


"Mas," Rima pun memegangi Aditya dengan cepat.


"Rima, ini serius?" Tanya Arni yang kini ikut bersuara melihat Rima yang menahan sakit.


"Sakit Tante,"

__ADS_1


__ADS_2