Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Cepat temui Ibunya.


__ADS_3

Keesokan harinya Vanya pun sudah dengan pakaian rapinya, sebuah kemeja dan juga rok span yang cukup menambah kecantikannya semakin terpancar saja.


Hari ini Vanya ke sekolah bersama dengan Sela, namun seperti biasanya pula yang menjemputnya adalah Riki.


Setelah menerima pesan, Vanya pun langsung keluar dari rumah kemudian melihat mobil Riki yang sudah terparkir di luar sana. Dengan tas kecil di tangannya Vanya pun memasuki mobil Riki. Pagi yang cerah semakin membuat suasana kian cerah pula.


"Apa kabar sayang?" Tanya Riki.


"Baik Om," Vanya pun tersenyum, wajahnya benar-benar berbinar dengan sempurna.


Jatuh cinta membuatnya lupa dan berubah seketika bahkan Vanya sudah benar-benar tidak bisa kehilangan Riki.


"Ya ampun, calon istri ku cantik sekali," Riki semakin tidak bisa beralih pada yang lain sungguh mencintai Vanya adalah sebuah kebahagiaan yang tidak terkira.


"Emang dari kemarin-kemarin aku nggak cantik?"


"Cantik, kamu selalu cantik," Riki pun mengelus kepala Vanya dengan penuh kasih sayang.


"Apa aku masih duda lapuk?" Goda Riki.


"Hihi," Vanya pun terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Duren aja deh, duda keren," celetuk Vanya di selingi tawa kecil.


"Dasar kau itu ya?" Riki pun segera mengemudikan mobilnya, tidak ada habisnya pembahasan jika sudah bersama dengan Vanya.


Sampai akhirnya keduanya pun sampai di kediaman Sela.


Vanya langsung masuk ke dalam rumah dan menghampiri Sela yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Pagi Tante?" Sapa Vanya.


Namun, Sela hanya diam saja. Tidak membalas sapaan Vanya sama sekali. Diam tanpa kata benar-benar tanpa bicara membuat Vanya bertanya-tanya.


"Tante?" Mendadak Vanya tersenyum kecut karena tampak terlihat Sela tidak menyukai dirinya. Hingga akhirnya Riki juga menyusul masuk, berdiri tidak jauh dari kedua wanita tersebut.


"Katanya kamu mau jadi mantu saya, kok manggilnya, Tante?" Tanya Sela.


Wajah Vanya pun memerah seketika mendengar pertanyaan Sela.


Namun, apakah Riki sudah mengatakan semua itu pada Sela. Artinya Riki benar-benar serius ingin menikahi dirinya dalam waktu dekat ini. Vanya sungguh di buat shock mendengarnya sehingga tidak dapat berkata-kata lagi.


"Kenapa?" Tanya Sela bingung melihat wajah Vanya yang masih tampak begitu kebingungan.


Vanya pun beralih menatap Riki dengan segala kebingungannya, akankah dirinya mengatakan iya atau tidak.


"Aku sudah mengatakan pada Mama, sudah ku katakan kita akan menikah dalam waktu dekat ini!" Papar Riki sambil memasukan kedua tangan pada masing-masing saku celananya.


Vanya pun kembali menatap Sela, ingin memastikan apakah Sela menyetujui atau tidak.


Tapi raut wajah Sela yang begitu luar biasa pun sudah menandakan sebuah persetujuan, tidak tampak kemarahan apalagi kebencian terhadap dirinya.

__ADS_1


"Vanya, kamu mau ya menikah dengan Riki. Saya, ingin sekali kamu jadi menantu saya," Sela memegang kedua tangan Vanya berharap Vanya setuju dengan keinginannya.


Vanya pun mengangguk akan tetapi ada satu hal yang membuatnya menjadi ragu.


"Tapi, aku nggak pinter masak, Tante." Vanya pun tersenyum kecut, merasa malu.


"Tidak masalah, ada pembantu. Kamu juga bisa belajar nantinya," kata Sela meyakinkan Vanya.


Vanya pun mengangguk setuju, pikiran Vanya hanya ingin bersama dengan Riki itu saja. Vanya pun sadar dirinya sudah tidak bisa tanpa Riki lagi.


Baiklah cara yang terbaik adalah dengan menjadi istri Riki, mungkin juga dirinya akan berbicara dengan perlahan pada kedua orang tuanya setelah selesai dari sekolah siang nanti.


"Terima kasih," Sela pun memeluk Vanya dengan eratnya, kemudian langsung berdiri.


"Tante?"


"Tidak apa? Kursi roda ini tidak lagi di butuhkan, obatnya adalah kamu," jawab Sela dengan senyum bahagia.


Begitu pun dengan Vanya yang membalas dengan senyuman tidak kalah bahagia pula.


"Panggil Mama, kamu sekarang bagian dari keluarga ini."


"Mama?"


"Kapan Mama boleh menemui orang tua kamu?" Sela tampak tak sabar untuk menikahkan keduanya.


Sebab dirinya sudah ingin merasakan memiliki cucu, rumahnya yang sepi akan ramai karena tangisan bagi.


"Sabar dulu ya, Ma. Nanti aku kasih tahu dulu kedatangan Mama."


Vanya pun tersenyum dengan bahagia, dirinya yakin semua akan baik-baik saja.


Lagi pula dirinya sudah bisa mandiri selama lebih dari satu bulan ini, tentulah kedua orang tuanya pun akan menyetujui dirinya yang ingin menikah dengan Riki meskipun adalah seorang duda.


Lagi pula kedua Kakaknya sudah menikah, jadi benar-benar tidak ada alasan untuk tidak merestuinya menikah dengan Riki.


Saat ini Vanya yang harus mengatakan pada Riki siapa dirinya, siapa kedua orang tuanya pada pria yang akan menikahinya tersebut.


Entah, seperti apa nantinya reaksi Riki jika tahu dirinya yang sebenarnya. Tapi di sini tidak ada niat dari awal dalam menipu, semua benar-benar terjadi begitu saja. Cinta datang dengan perlahan tanpa bisa di tolak sama sekali.


#########


Kini ketiganya berada di sekolah, Vanya mulai memasuki kelas dan menjadi guru seperti apa yang di inginkannya.


Sementara Riki hanya berdiri di depan pintu melihat Vanya yang sedang berinteraksi bersamaan dengan murid-muridnya.


Bibir Riki terus saja tersenyum memuji kecantikan seorang Vanya, wanita yang dengan mudahnya membolak-balikkan dunianya.


Perduli setan dengan trauma saat berumah tangga dahulu, kini semua itu seakan menepi hanya karena kehadiran Vanya dalam hidupnya.


Hingga tanpa sengaja Vanya pun melihat ke arah pintu, melihatnya di sana.

__ADS_1


Vanya pun tersenyum semakin membuat Riki tidak dapat mengalihkan perhatian.


Semua hanya untuk Vanya seorang, wanita cantik yang tidak pernah bisa berhenti membuat jantungnya berdegup kencang,


"Kamu sepertinya sangat menyukainya?" Tanya Sela yang muncul tiba-tiba di belakang Riki.


Riki pun melirik Sela sedangkan Vanya kembali berfokus pada murid-muridnya. Tidak mendengar sama sekali tentang Riki dan Sela yang sedang berbicara di sana.


"Ya, apakah salah?"


"Tidak sayang, Mama senang kamu tidak lagi larut dalam luka mu itu," Sela tersenyum dan menatap Vanya yang masih berfokus pada murid-muridnya.


"Dia, berbeda Ma," kata Riki.


"Ya, setelah dia menjadi istri mu. Mama akan memberikan sekolah ini untuknya, Mama sudah tua dan hanya ingin bermain dengan cucu Mama saja menghabiskan masa tua."


"Cucu?" Tanya Riki terkejut.


"Iya, berikan Mama cucu setelah kalian menikah," kata Sela dengan yakin.


Riki pun mengangguk.


"Kalau begitu aku buat sekarang saja agar Mama lebih cepat mendapatkan cucu," celetuk Riki.


"Dasar kamu ya!" Sela pun menarik telinga Riki, kesal pada anaknya itu yang tidak sopan.


"Ampun Ma, bercanda!"


Sela pun melepaskan tangannya.


"Awas kalau berani melakukannya sebelum menikah!" Sela pun memberikan peringatan.


Sementara Riki mengusap telinganya yang terasa cukup nyut-nyutan.


"Iya."


"Dia tidak sama dengan wanita di luar sana! Dan, jangan lagi bermain dengan wanita-wanita di luar sana, paham!"


"Iya Ma," jawab Riki, tetapi percayalah jika Riki sedang tidak main-main, Vanya adalah sebuah pengobatan dari lukanya.


Hingga tidak akan ada kata berkhianat sama sekali.


"Cepat temui Ibunya, setelah itu kalian akan menikah!"


Riki pun memberikan ibu jarinya menuruti keinginan Sela.


Semua cinta hanya tertuju pada Vanya, tidak ada yang lain.


Panasnya cinta seorang duda tidak akan ada tandingannya, Riki pun sudah lelah dalam perjuangannya untuk mencari kesenangan semata.


Kini tiba saatnya untuk bahagia dengan satu wanita, tatapannya kini tertuju pada Vanya tanpa bisa teralihkan sama sekali.

__ADS_1


"Kurang ajar, dia cantik sekali," Riki mengusap wajahnya berusaha untuk menguasai dirinya sendiri.


__ADS_2