
"Kenapa? Apa Kurangnya aku?" Bisik Felix di telinga Cahaya.
Cahaya semakin kesal kedua tangannya mencengkram erat masing-masing tangan Felix berharap Felix kesakitan dan mau melepaskan diri nya. Tapi sepertinya tidak sama sekali, karena Felix terlihat tenang dan tidak merasakan apa-apa.
"Kamu jelek, jahat, yang paling penting, aku nggak suka sama kamu!" Teriak Cahaya di depan wajah Felix.
Felix tersenyum dan mencium bibir Cahaya yang menggemaskan itu, di matanya Cahaya selalu saja terlihat cantik tanpa ada yang bisa merubah pandangannya tersebut.
"Kamu apaan sih?" Cahaya mendorong wajah Felix agar menjauh.
"Yakin aku tidak tampan?" Bisik Felix dengan suara begitu lembut.
"Iya memang!" Teriak Cahaya pada daun telinga Felix.
Felix lagi-lagi tersenyum, dirinya memeluk Cahaya dengan eratnya karena sangat merindukan selama berbulan-bulan tidak melihat langsung wajah Cahaya.
"Felix lepas! Ini sudah pelecehan! Aku bilangin kamu ke Daddy atau ke Om Devan!" Kali ini Cahaya mengeluarkan kalimat ancamannya, mungkin saja dengan begitu bisa membuat Felix takut dan tidak lagi melecehkannya.
"Katakan juga kalau aku pernah mencium mu di sini," Felix menunjuk tengkuk Cahaya, kemudian berpindah ke atas.
"Di sini, bibir ini juga sudah pernah ku sentuh kalau perlu katakan kalau kita sudah pernah tidur bersama. Agar kita cepat menikah," kata Felix sambil menaik turunkan sebelah alis matanya.
Cahaya pun melebarkan mulutnya, tidak menyangka Felix bisa mengatakan hal gila tersebut yang membuatnya ingin *******-***** wajah lelaki menjengkelkan itu saat ini, detik ini juga.
"Kamu jangan gila, aku sudah punya pacar!"
Felix tersenyum mendengar kebohongan Cahaya, walaupun jauh di sana tapi tidak lantas Felix tidak bergerak apa-apa untuk tetap membuat Cahaya tetap sendirian menyandang gelar jomblo sampai usia dua puluh lima tahun ini.
"Kau gila ya?" Cahaya malah bergidik ngeri saat melihat senyuman Felix.
"Felix lepas!" Cahaya masih berusaha untuk lepas dari kungkungan Felix tapi begitu sulit.
"Siapa pacar mu?" Tanya Felix dengan senyuman.
Saat dirinya masih berada di luar Negeri, selalu saja bisa mengetahui kemanapun Cahaya pergi, melakukan apapun di luar sana. Bahkan mengetahui sehari berjumpa dengan siapa saja. Pernah beberapa kali Cahaya jatuh hati pada temannya sendiri, tetapi Felix tidak diam saja.
Beberapa orang pria sampai tidak berani mendekati Cahaya. Karena setiap kali mencoba mendekati maka mereka akan babak belur dan mendapatkan ancaman setelah nya.
"Ada, mau tahu aja. Itu bukan urusan mu!"Jawab Cahaya.
Walaupun sebenarnya dirinya sedang berbohong, entah pacar yang mana. Teman lelaki saja dirinya tidak punya, ada satu itu pun bencong. Dirinya juga ingin melepaskan masa jomblo nya dengan memiliki kekasih, tapi tidak ada yang berlajut jika sudah begitu dekat. Bahkan mereka menghilang dengan misterius, ada juga yang bertemu tanpa sengaja saat berpapasan di jalan malah memilih melarikan diri.
__ADS_1
Cahaya merasa bingung, apakah dirinya begitu horor sehingga tidak ada satupun pria yang serius dengannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Felix tahu saat ini Cahaya sedang larut dalam pikirannya, dirinya hanya tersenyum melihat wajah bingung Cahaya.
Tok... tok... tok...
"Aya!"
Terdengar suara ketukan pintu, berikut dengan namanya yang di panggil dari luar sana. Cahaya pun menegang seketika, jika saja Mom nya melihat dirinya dalam posisi seperti ini maka bisa saja Jessica terkena serangan jantung.
"Felix lepaskan aku!" Pinta Cahaya dengan peluh yang bercucuran, matanya menatap gagang pintu yang mungkin saja akan diputar. Beruntung kamarnya terkunci sehingga Jessica tidak bisa langsung masuk seperti biasanya.
"Kenapa?" Felix tidak mau bergerak dari tempatnya, dirinya masih betah berada di sana.
"Felix, Mom punya penyakit jantung. Daddy selalu mengingatkan anak-anaknya untuk menjaga kestabilan kesehatan Mom, aku tidak mau Mom terkena serangan jantung," kata Cahaya dengan ketakutan.
Jessica adalah wanita yang sangat penting dalam hidupnya, sehingga Cahaya begitu menjaga dengan sepenuh jiwanya.
Felix pun mengangguk setuju, dirinya juga tahu jika Jessica memiliki serangan jantung.
"Kalau begitu," Felix pun menunjuk bibirnya.
Cahaya tidak mengerti dengan maksud Felix yang di inginkannya hanya segera pergi. Sebab, Jessica terus saja memanggilnya dari luar sana.
"Aya!"
"Cepat, di sini!"
"Apanya?" Cahaya mengeratkan giginya sambil bertanya dengan suara pelan, sesekali matanya melihat daun pintu yang masih tertutup rapat.
"Kiss!"
"What?" Cahaya terbelalak mendengar keinginan Felix.
"Kau benar-benar membutuhkan dokter jiwa, segera hubungi Om Aditya," kata Cahaya.
Felix pun tersenyum pada Cahaya, wanita tercintanya itu memanglah sangat menggemaskan.
"Iya, tapi Dokter spesialis anak seperti mu lah yang aku butuhkan," goda Felix sambil tersenyum nakal pada Cahaya.
"Jangan gila! Kau itu sebenarnya kenapa? Rumah Sakit punya Ayah mu. Kenapa bisa kau gila!" Papar Cahaya.
__ADS_1
"Aya, apa kamu baik-baik saja Nak," Jessica merasa panik, takut putri nya terpeleset atau pun kenapa-kenapa. Karena tidak biasanya Cahaya lama dalam membuka pintu, bahkan tidak biasanya Cahaya mengunci pintu kamarnya seperti ini.
"Sebentar Mom!" Teriak Cahaya agar Jessica tidak panik.
Jessica di luar sana merasa lega, karena mendengar suara putrinya. Tapi matanya juga ingin melihat secara langsung.
"Buka dulu pintunya, Mom mau masuk!" Kata Jessica dengan nada suara nyaring agar Cahaya mendengarnya.
Cahaya melihat ke depan ternyata Felix masih tersenyum padanya.
"Cepat pergi!" Cahaya berusaha untuk mendorong dada Felix, meskipun tidak berpengaruh sama sekali. Felix tersenyum dan masih tidak ingin berpindah dari tempatnya.
"Felix!" Cahaya semakin panik sebab Felix belum juga mau pergi.
Tangan Felix menunjukkan bibirnya membuat Cahaya semakin kesal.
"Cepat! Atau aku yang membukakan pintu?"
Cahaya menggeleng cepat, apa yang terjadi jika Jessica melihatnya berduaan di dalam kamar begini.
"Baiklah! Tutup mata!" Cahaya memilih untuk menyetujuinya, walaupun dengan terpaksa. Felix setuju dan mulai menutup matanya. Cahaya pun terdiam karena dari dalam hatinya tidak ingin melakukan tersebut.
"Cepat!" Kata Felix yang sudah menunggu. Dengan perlahan Cahaya pun memajukan wajahnya dan mencium kecil Felix.
Saat akan menjauh terasa ada tangan yang menahan tengkuknya, dengan cepat Felix mencium bibir Cahaya. Cahaya pun dengan sengaja menggigit bibir Felix sekuatnya, hingga akhirnya Felix melepaskan bibir Cahaya.
"Sepertinya kamu merasa begitu gemas pada bibir ku, sudah dua kali kamu menggigit bibir ku ini," seloroh Felix.
"Enak aja!" Ketus Cahaya.
Dirinya sama sekali tidak pernah tertarik pada Felix, apa lagi dengan tingkah laku yang selalu menjaili dirinya sejak kecil sampai kini pun.
"Felix!"
"Apa? Mau lagi?" Tanya Felix kembali mendekati wajah Cahaya.
"Jangan gila! Cepat pergi!"
Kemudian Jessica kembali memanggil, sebab merasa aneh saat putrinya tidak membuka pintu sampai saat ini juga. Memilih mencari kunci cadangan dan membuka pintu kamar Cahaya.
"Aya!"
__ADS_1
"Mom," Cahaya terkejut melihat Jessica yang bisa membuka pintu kamar nya.