
"Kamu minum dulu," Adnan pun mencoba untuk memberikan mineral pada Rena, berharap setelah itu bisa lebih baik.
Rena pun mencoba meneguknya dengan tangan yang bergetar, dirinya juga ingin menjadi lebih tenang.
"Kamu sudah sarapan?"
Rena pun menggeleng, dirinya bahkan belum makan dari kemarin. Pikirannya benar-benar kacau karena ancaman tersebut.
"Kita cari sarapan dulu," Adnan mengusap rambut Rena, kemudian kembali mengemudikan mobilnya hingga kini keduanya sudah berada di kampus.
Duduk di kantin dan mulai memesan makanan.
"Adnan, aku nggak lapar," kata Rena dengan berbohong, padahal dirinya sedang tidak memiliki uang. Sebab, dirinya kini sedang masa hukuman. Sebenarnya Rena masih memiliki uang di dompetnya, tetapi itu untuk membayar ojol saat pulang nanti. Jika dirinya memakainya sekarang, mungkin dirinya akan pulang dengan berjalan kaki.
"Kamu harus makan," kata Adnan dengan memaksa.
Rena memang sangat lapar, tetapi dirinya tidak ingin mengatakan tidak memiliki uang.
"Aku, ke toilet dulu," segera Rena pergi menuju toilet menghindari Adnan, apa lagi untuk makan.
Sampai akhirnya Rena merasa lemas, dan jatuh di depan toilet.
Adnan yang ternyata menunggu di depan toilet melihat langsung saat-saat Rena terjatuh hingga berakhir tidak sadarkan diri.
"Rena, bangun!" Seru Adnan dengan panik.
Sesaat kemudian Rena pun sudah tersadar, kini berada di rumah sakit dan Adnan yang membawanya.
Sesaat kemudian Rena pun bangun, saat itu juga Adnan mengambil piring berisi makanan dan langsung menyuapi Rena.
Rena terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Cepat buka mulut, kamu itu kelaparan. Kenapa tadi aku ajak makan tidak mau?" Tanya Adnan.
"Aku nggak punya uang, semuanya udah di sita sama Abi. Karena aku ketahuan mabuk dengan Vanya," jelas Rena dengan rasa malu.
Adnan pun mengerti dengan masalah yang dihadapi oleh Rena.
"Kamu makan dulu, aku yakin Om Nanda sedang berusaha untuk membuat mu menjadi lebih baik," jelas Adnan.
Rena pun mengangguk dan menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Adnan.
Sampai akhirnya tanpa disadari oleh Rena makanan pada piring sudah tandas.
"Minum."
Rena pun mengangguk dan meneguk mineral.
"Makasih ya, kamu baik banget sama aku," kata Rena dengan perasaan terharu.
"Apa?" Tanya Rena yang merasa salah mendengar.
Adnan pun tersadar, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Kamu istirahat dulu."
Rena merasa barusan bukan mendengar tersebut, melainkan seperti kata cinta. Namun, apakah benar demikian? Rena pun tidak mengerti.
"Aku keluar dulu," Adnan pun memilih pergi, menenangkan hati yang terasa kacau.
Sedangkan Rena hanya menatap pintu yang perlahan tertutup, hatinya mengatakan kini jatuh hati pada seorang Adnan. Perhatian yang diberikan oleh Adnan membuat perasaannya begitu bahagia.
"Andai saja dia mencintai ku," Rena pun tersenyum kecut.
__ADS_1
Merasa beruntung jika saja bisa dicintai oleh Adnan, namun Rena pun merasa Adnan hanya menganggapnya saudara. Sebab orang tua mereka yang memang bersahabat sudah sejak lama.
Hujan pun turun dengan derasnya, di luar sana gemuruh pun mulai bersahut- sahutan.
Padahal hari masih cukup pagi, persis seperti perasaan Rena saat ini.
Kacau dan juga hampa.
Padahal dalam hati mengatakan jatuh hati, namun apa daya dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa nyaman yang diberikan oleh Adnan tidak lebih dari rasa saudara.
Beberapa saat kemudian pintu pun kembali terbuka, Adnan masuk dengan membawakan buah-buahan segar.
"Aku akan mengupasnya," Adnan pun mengupas buah apel dan memotongnya, kemudian Rena pun siap memakannya.
Rena hanya diam sambil menikmati setiap buah yang di berikan oleh Adnan, dalam hati berharap semoga saja Adnan bisa mencintai sebagai seorang wanita yang dijadikan sebagai tambatan hati. Bukan mencintai layaknya saudara sendiri.
"Adnan," Rena menahan lengan akan Adnan yang akan pergi.
"Ya?"
"Aku boleh tanya?"
"Tentu."
Rena pun terdiam sejenak, kemudian memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu sudah punya kekasih?" Rena pun bertanya sambil menggigit bibir bawahnya, berharap tidak mendengar apa yang tidak ingin didengarnya.
"Belum," jawab Adnan dengan jelas.
Rena pun tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi aku sudah jatuh hati pada seorang wanita," imbuh Adnan.