Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Raka yang berbeda!


__ADS_3

Keesokan harinya Cahaya pun bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di rumah sakit. Bibirnya terus saja tersenyum bahagia sebab apa yang di cita-citakan sudah tercapai dengan baik. Sekali lagi Cahaya memastikan penampilannya di cermin.


Rok span berpadu kemeja putih adalah pakaian-pakaian favorit nya, tapi tidak begitu ketat sebab Jessica sangat tidak suka melihat Cahaya menggunakan pakaian yang terlalu menonjol.


########


Berbeda lagi dengan Rena, hari ini dirinya bersiap-siap untuk berangkat menuju kampus, kesukaannya adalah pakaian ketat yang sangat menonjolkan bentuk tubuhnya.


Rok mini berpadu dengan kemeja coklat menonjolkan dadanya yang memang besar. Itulah pakaian yang selalu membuatnya begitu percaya diri.


"Rena," Reyna pun memasuki kamar putrinya, seperti biasanya. Tanpa ijin.


"Umi!" Seru Rena dengan kesal.


Reyna pun mengibas-ngibaskan tangannya, kemudian memperhatikan penampilan putrinya.


"Kamu mau ke kampus atau ke club?" Reyna sangat tidak suka dengan gaya pakaian Rena, tapi itulah yang selalu di lakukan oleh putrinya.


"Umi, ini namanya gaul. Nggak gaul banget sih," gerutu Rena.


"Cepat ganti pakaian mu! Umi tidak mau tahu!"


Rena pun melihat ke arah pintu yang terbuka.


"Abi udah pulang?" Kata Rena tiba-tiba.


Reyna pun beralih melihat pintu, dirinya memang merindukan Nanda yang pergi ke luar kota selama beberapa hati ini untuk pekerjaan.


"Mana?" Reyna pun melihat ke luar.


"Tadi Abi, ke sana. Mungkin ke kamar nyariin Umi, kan Abi kangen," kata Rena lagi.


"Benarkah?"


Rena pun mengangguk setelah itu Reyna keluar dari kamarnya. Menyusul Nanda yang mungkin berada di kamar, tapi sampai di dalam kamar ternyata tidak ada siapa-siapa. Kemudian Reyna melihat ponsel di tangannya berdering. Tertulis nama suami tercintanya, tanpa menunggu lama langsung menjawabnya.


"Abi di mana? Kok Umi lihat tidak ada di kamar?" Tanya Reyna melalui sambungan telepon.


"Umi aku, Abi belum pulang. Nanti malam baru berangkat, Umi kangen ya sama Abi?" Nanda bertanya dari balik sambungan telepon, dirinya juga sangat merindukan istri tercintanya.


"Belum pulang?" Reyna pun kini curiga jika putrinya menipunya habis-habisan.


Segera Reyna berjalan menuju balkon, benar saja di bawah sana Rena sedang berjalan menuju mobil sedan kesayangannya. Kemudian Rena melihat ke atas dan melambaikan tangan pada Reyna.

__ADS_1


"Rena!" Seru Reyna mengetahui putrinya menipunya habis-habisan.


Rena pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil tersenyum karena membayangkan wajah Reyna yang pastinya sangat aneh jika sedang marah. Kecuali di mata Nanda, maka wajah Reyna dengan exspresi aneh nya pun akan di katakan cantik.


"Makanya jangan bucin," kata Rena yang berbicara sendiri sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Tertipu kan" ucap Rena lagi.


Sedangkan Nanda seketika menjauhkan ponselnya dari telinga, suara istrinya begitu melenting hingga membuat gendang telinganya hampir pecah. Sesaat kemudian Reyna pun tersadar bahwa panggilan masih terhubung, dan melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti.


"Kamu tahu sikap anak mu itu sangat tidak sopan! Pakaiannya begitu ketat, seksi, seperti wanita penggoda!" Reyna pun meluapkan kemarahannya pada Nanda.


Nanda yang akhirnya menarik napas berat karena mendadak jadi korban kemarahan Reyna.


"Kamu tahu, kenapa dia begitu? Karena kamu!" Omel Reyna lagi.


Nanda pun lagi-lagi hanya mendengarkan dengan tarikan napas panjang untuk yang kesekian kalinya.


"Kenapa cuma diam saja?" Reyna kesal sebab Nanda tidak berbicara sama sekali.


"Aku harus bilang apa?" Nanda menempelkan ponselnya di telinga terus-menerus, walaupun sedang berkutat dengan laptop di hadapannya. Sebab jika panggilan telpon di putuskan takutnya malah puasa setelah pulang ke rumah. Sementara selama di luar kota saja dirinya sudah lelah dan berpuasa.


"Nggak anak, nggak Bapaknya, sama saja!" Kata Reyna lagi terlalu kesal dengan jawaban Nanda.


Reyna pun mandadak terdiam seketika itu juga, tidak tahu lagi harus mengomel apa pada Nanda.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Nanda merasa istrinya sudah lebih tenang.


"Belum."


"Kamu sarapan, aku temenin, Kita video call," Nanda pun mengalihkan panggilan menjadi vidio call.


Hingga tampaklah wajah Reyna pada layar ponselnya.


"Dasternya baru ya?" Tanya Nanda sambil tersenyum menggoda.


"Kamu mulai deh," Reyna seketika lupa apa itu kemarahan. Suaminya itu selalu mampu membuatnya jatuh cinta.


"Buka dikit dong, kangen tahu," pinta Nanda.


"Apaan sih, malu kalau ada yang dengar."


"Umi," Raka pun mengetuk pintu padahal pintu terbuka. Dirinya memang sangat sopan jadi tidak akan masuk sebelum di ijinkan.

__ADS_1


Reyna pun cepat-cepat melihat ke pintu


"Ya?"


"Aku besok pagi harus balik ke LA," kata Raka.


"Kenapa mendadak?"


Raka pun hanya mengangguk, putra sulungnya itu memang berbeda dari kekonyolan Nanda, Reyna dan juga Rena.


"Ya sudah nanti Umi persiapan makanan Indonesia kesukaan kamu untuk di bawa."


Raka pun mengangguk lalu pergi. Reyna kembali berbicara pada Nanda.


"Aku tidak mengerti kenapa bisa Raka aneh, dia itu datar saja. Berbicara juga sulit," kata Reyna pada Nanda.


"Iya, kan dia anak kita. Kita bikinnya hati-hati seperti Malika," jelas Nanda.


"Ahahahha, emang kacang?" Reyna pun tertawa tak kuasa mendengar jawaban Nanda.


"Hehe," Nanda pun ikut tersenyum geli, sebab di otaknya kacang yang lainnya.


"Wajahnya begitu banget, mikirin apa? Mikirin kacang nya Malika?" Tebak Reyna.


"Ahahahha," tawa Nanda terlepas seketika, karena istrinya memang tahu isi otaknya.


"Kamu Malika nya aku," imbuh Nanda.


"Dasar!"


"Apa?"


"Dasar aneh!"


"Love you!"


"Abi kangen."


"Sudahlah, Abi pulang sekarang saja"


"Tapi katanya ada pekerjaan"


"Sudah tidak tahan"

__ADS_1


__ADS_2