
Sudah untuk yang kedua kalinya ungkapan cinta yang di utarakan oleh Felix, kini Cahaya merasa ucapan tersebut tidak main-main. Cahaya berdiri di depan cermin, tiba-tiba saja muncul wajah Felix yang tersenyum padanya. Cahaya pun menggosok matanya, sesaat kemudian bayangan wajah Felix pun menghilang.
"Apa aku sudah gila?"
Cahaya tidak habis pikir kenapa mendadak tidak bisa berjauhan dengan Felix, belum lagi saat dirinya tanpa sengaja memeluk Felix yang begitu menghangatkan.
"Apa aku sedang jatuh cinta? Jantungku?" Cahaya terus saja memegang dadanya yang berdebar.
Sesaat kemudian meraih ponselnya kemudian berbaring di atas ranjang.
( Sekali lagi, terima kasih, ) Cahaya.
Pesan di kirimkan oleh Cahaya, dirinya sendiri kini bingung mungkinkah mencintai Felix. Cahaya pun merasa tidak enak hati sempat menuduh Felix yang membayar preman padahal jika saja tanpa Felix mungkin kini dirinya sudah di nodai.
( Aku tidak menerima terima kasih jika hanya dengan ucapan, ) Felix.
( Lalu? Jangan aneh-aneh ya ) Cahaya.
Cahaya ingat saat berada di dalam mobil beberapa saat lalu. Mungkinkah Felix ingin mengulanginya kembali?
( Aneh? Jangan bilang kamu mikirin..... ) Felix,
Cahaya pun memilih tidak membalasnya, sebab Felix selalu saja pandai membuat nya tersudutkan.
( Aku harap ucapan " terima kasih" mu tulus, aku tunggu besok masakan mu di kantor ) Felix.
( Aku akan mengirimkan nya ) Cahaya.
( Dasar tidak tahu terima kasih ) Felix.
( Aku yang mengantar nya sendiri ) Cahaya.
"Ya ampun, aku tidak mengerti mengapa aku bahagia karena dia," Cahaya pun memeluk guling lalu membayangkan wajah Felix. Seketika itu juga Cahaya bergidik ngeri betapa dirinya sangat aneh.
"Ya ampun, beginikah rasanya jatuh cinta? UPS!" Cahaya menutup mulutnya kemudian mengajak guling untuk berbicara.
"Guling tolong jawab aku, kenapa sekarang aku selalu memikirkan nya?"
Cahaya pun terlelap setelah lama menunggu bantal guling berbicara tetapi tidak juga sampai saat ini.
__ADS_1
##########
Hari ini Cahaya memasak untuk Felix sebagai ucapan terima kasih. Tampaknya kini keduanya sudah tidak lagi bercekcok. Kejadian semalam benar-benar membuat Cahaya merasa Felix sangat berjasa untuk nya. Bahkan ungkapan cinta yang di utarakan membuatnya menyadari bahwa dirinya pun sudah jatuh hati pada musuh bebuyutan nya tersebut.
"Selesai," Cahaya tersenyum menatap bekal yang sudah tersajikan. Segera dirinya bersiap-siap untuk mengantar makan itu pada Felix.
Dengan dress berwarna putih Cahaya pun turun dari mobil.
Kini dirinya memilih menggunakan supir, sebab Felix tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Felix pagi tadi memintanya sendiri, Cahaya pun kini mendadak menurut pada seorang Felix.
"Selamat pagi Bu," sapa seorang pria yang tidak lain adalah asisten Felix, dirinya sudah di perintahkan menunggu Cahaya di lobi.
"Iya."
"Ikut saya Bu, saya akan membawa anda menuju ruangan CEO."
Cahaya pun mengangguk lemah, tetapi menyimpulkan jika Felix benar-benar menunggu kedatangan nya.
"Silahkan masuk."
Pintu pun dibuka, Cahaya mulai melangkah masuk.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Ruangan ini tidak berwarna seperti pemilik nya," ujar Cahaya.
"Justru itu, aku mau kamu yang mewarnai," papar Felix.
Cahaya pun terdiam seketika itu juga, entah mengapa kini mendadak salah tingkah.
"Kamu masak apa?"
Akhirnya Cahaya pun kembali pada tujuan nya, hampir saja melupakan tujuan awal karena denyut jantung yang berdebar-debar.
"Aku masak udang balado, sama sayur lodeh," Cahaya pun meletakkan pada meja.
"Waw, aku ingin melihat nya," Felix pun membuka nya kemudian mulai mencicipi nya.
Namun, tiba-tiba ada pesan yang masuk membuat suasana hatinya rusak seketika.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Felix pun membalas.
( Katakan padanya, saya sedang rapat penting ) pesan pun terkirim pada asisten nya yang mengatakan bahwa ada Devan yang ingin menemuinya sekarang juga.
"Gimana?" Cahaya menunggu Felix berkomentar atas masakan nya, tetapi sepertinya Felix masih sibuk dengan ponsel nya.
Namun, setelah itu meletakkan ponselnya tidak perduli apapun yang akan terjadi.
"Kalau menurut ku, masih kurang enak," Felix pun mulai mengatur strategi.
"Besok kamu bisa memasak dan mengantarkan lagi, aku akan mencobanya. Mungkin akan lebih baik," Felix berkomentar sambil terus memakan dengan lahap nya bahkan sesaat kemudian habis tanpa sisa.
"Katanya nggak enak?" Cahaya mendadak kebingungan melihat kotak bekal yang sudah kosong.
Felix juga tidak sadar sudah menghabiskan semuanya.
"Aku hanya tidak ingin membuang-buang makanan, di luar sana banyak orang-orang yang tidak bisa makan," Felix pun memberi alibi.
Cahaya pun mengangguk lemah tetapi masih sedikit kebingungan.
"Kamu tidak ikhlas?"
Cahaya pun bangkit dari duduknya.
"Aku mau pulang!"
"Nanti saja," dengan gerakan cepat Felix pun menarik lengan Cahaya, hingga terduduk di atas pangkuan nya.
Glek!
Cahaya pun meneguk saliva dengan pahit menyadari posisinya.
"Apa kamu tidak menerima cinta ku?" Tanya Felix dengan napas yang memburu menahan hasrat yang kian memanas.
Cahaya hanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana. Tetapi belain lembut tangan Felix pada tengkuk nya membuat nya seketika terbuai dan tidak ingin di lepaskan.
Sesaat kemudian Cahaya pun memberanikan diri untuk menatap mata elang Felix. Menelusuri cinta yang mungkin saja benar, jika tidak, mengapa bibir nya terus berucap cinta.
Tapi, saat ini Cahaya pun mengakui jika Felix tidak sedang main-main, apa lagi mengerjainya. Semua tampak begitu tulus tanpa bisa di bantah.
__ADS_1
"Izinkan aku membuktikan bahwa benar aku mencintaimu," pinta Felix lagi dengan tatapan yang begitu dalam.