Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kesalahan Vanya...


__ADS_3

"Kenapa mendadak aku memikirkan bocah aneh itu?" Riki memilih untuk pulang, terus berada di sana pun malah membuatnya semakin pusing.


Semua wanita di sana sama saja, wanita dewasa yang hanya memikirkan tentang sebuah kepuasan dan juga uang. Menggoda, menjajakkan tubuh mereka dengan liarnya. Benar-benar tak ada yang mampu membuatnya tertarik.


Sangat membosankan.


Sesampainya di rumah Riki memilih untuk membaringkan tubuhnya berharap bisa terlelap dalam tidur.


Namun tidak, hingga cahaya matahari menyentuh wajahnya pun tetap saja tidak dapat terlelap dalam tidurnya. Memutuskan untuk bersiap-siap mengantarkan Sela ke sekolah adalah menjadi keharusan. Bisa juga bertemu dengan wanita aneh bernama Vanya yang mendadak mengisi pikirannya.


"Hay, Om," sapa Vanya saat Riki tiba di ruang tamu.


Sela pun sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, hanya menunggu Riki saja yang mengantarkan mereka.


"Mama, sudah siap?" Tanya Riki tanpa perduli pada Vanya.


Tapi tidak menjadi masalah bagi wanita tersebut, sebab dirinya memang tidak mudah tersinggung apa lagi pada Riki. Duda lapuk yang sama sekali tidak ada artinya di matanya.


"Kita berangkat sekarang," kata Sela.


Vanya pun membantu Sela untuk menaiki mobil, begitupun dengan dirinya yang duduk di samping Sela.


"Supir, berangkat!" Titah Vanya, seakan dia adalah seorang bos.


Bisa memerintah semaunya.


Sedangkan Riki hanya seorang supir, padahal pada kenyataannya dialah yang menumpang dan bekerja untuk Riki dan Sela.


Riki menatap Vanya dengan tajam dari pantulan kaca spion, sedangkan Vanya membalas dengan cengengesan. Membuat Sela tersenyum melihat kelakuan konyol seorang Vanya.


"Riki, Vanya tidak salah. Kamu memang membawa mobil. Ataupun, sering di sebut supir," jelas Sela yang berpihak pada Vanya.


"Nah, dengerin...." Vanya tersenyum penuh kemenangan.


Sesaat kemudian Riki pun turun dari mobil, kemudian membuka pintu.


"Ada apa?" Vanya bingung saat Riki membukakan pintu mobil untuknya.


"Om, kita belum sampai. Setelah sampal nanti baru Om bukain pintunya" ujar Vanya tanpa dosa.


Riki melipat kedua tangannya di dada, kelakuan Vanya sungguh membuatnya kesal.


"Turun!" Titah Riki tanpa ingin di bantah.


"Om..."


"Turun!"


"Riki?" Sela ikut menimpali karena tidak mengerti mengapa Riki meminta Vanya untuk turun.


Tapi Riki tidak perduli sama sekali, karena Riki ingin Vanya menurut pada perintahnya.


"Turun!"


"Iya. Minggir!" Vanya pun turun, tidak lupa mendorong Riki agar menyingkir dari jalan yang akan di laluinya.


Sesaat kemudian Riki pun masuk ke dalam mobil, duduk di tempat yang sebelumnya di duduki oleh Vanya.

__ADS_1


"Cepat!" Riki kesal karena Vanya masih saja diam di luar.


Tanpa berniat masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya seperti apa yang di maksud oleh seorang Riki.


"Apa?" Vanya bingung maksud Riki, sulit sekali lelaki itu untuk berbicara dengan jelas.


"Om, tolong jangan bawa bahasa dari planet lain ke planet bumi ini! Bisakah menjadi manusia?"


"Maksud mu?"


"Aku ini manusia yang tinggal di planet bumi. Bukan di luar angkasa sana, jadi aku nggak ngerti bahasa alien!" Terang Vanya dengan sejelasnya agar Riki paham akan ucapannya.


"Alien? Maksudmu saya alien?" Riki menantikan, benar-benar menunggu sesuatu yang akan di katakan oleh Vanya.


Jika benar demikian, maka Vanya adalah manusia pertama yang berbicara dengan lancangnya.


"Om, sendiri yang ngomong, aku enggak!" Jawab Vanya penuh kemenangan.


Sedangkan Riki malah di buat ingin meremas wajah seorang Vanya.


Benar-benar untuk kali ini menjadi bodoh, padahal selama ini orang menatapnya saja segan.


Apa lagi berbicara lancang.


"Mmmmfffffpp," Sela lagi-lagi hanya bisa menahan tawa menyaksikan perdebatan antara dua orang anak muda.


Yang satu tak banyak bicara,l sedangkan yang satunya lagi selalu komat-kamit tanpa mau mengalah apa lagi kalah.


"Kau yang mengemudil" Papar Riki.


"Kenapa? Kau itu perempuan jadi-jadian, cepat!"


"Vanya, kamu bisa mengemudi?" Sela pun bertanya kepada Vanya, sebab mungkin saja tidak bisa mengemudi.


"Bisa Tante, gampang," Vanya pun duduk di kursi kemudi, kemudian menyalakan mesin mobil, kemudian mengemudikan nya dengan kecepatan sedang.


"Dasar laki-laki tidak berguna," umpat Vanya.


Tidak lupa memutar lagu dangdut favoritnya, gendang telinga Riki terasa ingin pecah mendengarnya.


Lagi-lagi lagu aneh yang kini terdengar karena seorang Vanya.


Riki tidak suka sama sekali.


"Tante, nyanyi lagu dangdut bisa bikin hati bahagia. Ayo nyanyi Tante," seru Vanya.


Sela pun ikut bernyanyi bersama dengan Vanya yang juga mengemudikan mobil dengan santainya.


Riki pun segera mematikan musik pusing sekali mendengarnya.


"Apaan sih Om? Ambulance aja nggak sepi banget gini!" Kesal Vanya.


"Sebaiknya kau fokus mengemudikan mobilnya, agar cepat sampai. Tidak seperti ini!" Kata Riki.


"Oh," Vanya pun mengangguk mengerti, seorang Vanya tidak akan bisa untuk tetap diam ketika ada yang menantang.


Dengan segera menambahkan kecepatan tinggi, hingga akhirnya Riki sendiri yang di buat terkejut. Tetapi Riki hanya diam saja memendam rasa khawatir akan keselamatannya.

__ADS_1


"Vanya?" Tanya Sela sambil memperkuat pegangan tangannya.


"Tenang, Tante. Aku udah sering juaranya kalau balapan mobil," jawab Vanya membuat Sela merasa tenang.


Sedangkan Riki sampai terhuyung di buat oleh Vanya.


"Ya ampun, polisi," Vanya pun di kejar oleh polisi, sebab terlalu ugal-ugalan di jalan raya yang dapat membahayakan dirinya dan juga orang banyak.


Tetapi bukan Vanya namanya jika tidak bisa mengatasi segala masalah.


Dengan menekan gas, kecepatan mobil pun terus bertambah.


"Ya ampun, mereka lemah sekali," Vanya pun berhasil menghindari posisi tersebut, menyelip dengan cepat hingga membuatnya berhasil lolos dari kejaran.


"Berhenti!" Riki mengetuk kepala Vanya.


Cittt!


Vanya pun mengerem mendadak, kali ini kepala Riki sampai terbentur.


"Kurang ajar!" Riki memijat kepalanya, belum juga lukanya sembuh kini sudah kembali berdarah karena ulah Vanya.


"Vanya, Tante bisa mati berdiri," Sela memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan oleh Vanya yang ugal-ugalan.


"Hehe, maaf Tante. Aku cuma nurut sesuai dengan permintaan Om Riki," Vanya pun cengengesan sambil menoleh ke belakang.


"Turun!"


"Iya!"


Vanya pun berpindah duduk di kursi sebelahnya, tanpa turun atau pun memutari mobil karena tubuh kecilnya itu memudahkan segala gerakannya.


Riki pun duduk di kursi kemudi, sejenak melirik Vanya yang duduk di sampingnya.


Kemudian tangannya mengetuk kepala Vanya, tampaknya hobby Riki kini adalah mengetuk kepala Vanya jika sedang benar-benar kesal.


Tetapi belum juga Riki menyalakan mesin mobilnya seorang polisi sudah menghadang, sesaat kemudian berjalan ke arah mobil dan mengetuk kaca mobil.


"Ya Pak?" Tanya Riki.


"Anda di berikan peringatan karena sudah mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Apa anda tahu itu dapat membahayakan diri anda sendiri dan juga orang lain!" Kata Polisi tersebut memperingati Riki.


Sedangkan yang sebenarnya membuat masalah adalah Vanya.


Riki pun menatap Vanya yang duduk santai di sampingnya, lihatlah wanita aneh tersebut. Terlihat santai seakan tidak memiliki masalah.


"Bener Pak, tadi saya udah bilang gitu juga. Dia yang ngotot dan tetap ugal-ugalan," Vanya pun mencolek Riki.


"Dengerin Om, Pak polisi ini benar."


Riki mendadak terkejut, sebab semua kesalahan Vanya malah di limpahkan padanya, padahal yang seharusnya bersalah adalah Vanya.


"Hey!" Riki ingin menegur Vanya, tetapi tidak bisa. Karena, polisi malah kembali menegurnya.


"Apa yang di katakan oleh wanita ini benar, Tuan, anda harus ikut kami ke kantor polisi!"


"Nah, dengerin tuh. Buruan Om!" Vanya pun mendorong Riki untuk turun dari mobil, kemudian dirinya kembali duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


__ADS_2