
"Mas, aku udah nggak tahan lagi"
Aditya menalan malu, wajahnya memerah seketika itu juga.
"Sabar, pasti sakit sekali ya. Tapi nanti kalau sudah melihat wajah bayi-bayi mungil kamu sudah lupa dengan sakit ini," ujar Arini.
Aditya pun melihat Rima, begitu juga dengan sebaliknya. Bukan tidak tahan sakit, melainkan tidak tahan karena ada hasrat yang ingin di tuntaskan. Rima pun tidak mengerti mengapa bisa dirinya ingin sekali menuntaskan hasratnya, padahal sudah akan melahirkan. Apa lagi Aditya yang kebingungan harus bagaimana, dirinya sendiri tidak masalah. Sungguh keinginan yang sangat menyulitkan
Namun, Arini tidak tahu apa-apa. Hingga wajahnya terlihat santai dan hanya memikirkan tentang Rima dan kedua cucunya yang akan segera lahir ke dunia ini. Arini hanya memikirkan rasa sakit yang dirasakan oleh menantunya. Dimana sebagai seorang wanita tentunya pernah merasakan hal tersebut.
"Sabar," kata Aditya sambil menggosok punggung istrinya.
Entah berguna atau tidak, tapi percayalah dirinya hanya ingin meringankan rasa sakit yang kini tengah menyerang istrinya.
"Hehe," Rima malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan suaminya.
"Hey, ada apa? Apa ada yang lucu?" Tanya Arini penasaran.
Merasa tidak ada yang lucu dan anehnya malah Rima tertawa tiba-tiba tentu menimbulkan pertanyaan.
"Apa kamu kesurupan?" Ana pun terlihat panik dan mungkin saja Rima kesurupan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ana membuat Arini semakin panik saja. Seketika itu juga memasukkan mineral ke dalam mulutnya dan menyemburkan pada Rima. Berharap Rima segera sadar dari kesurupannya.
"Mama, aku sadar," Rima mengelap wajahnya, bagaimana bisa mertuanya menganggapnya kesurupan.
"Kamu serius?" Arini masih saja panik, sekaligus ingin memastikan bahwa menantunya tersebut sedang baik-baik saja.
"Mama ada-ada saja," Aditya pun tertawa kecil melihat wajah istrinya yang basah.
"Mas!" Rima kesal karena suaminya ikut tertawa.
"Ya, maaf," kata Aditya sambil mengangkat kedua alisnya.
Rima pun tersenyum dan tahu maksud suaminya tersebut.
__ADS_1
"Sabar ya," kata Aditya dengan maksud sabar dalam keinginan yang menginginkan hal panas.
"Ahahahha," Rima tertawa kembali melihat wajah Arini dan Ana yang menatapnya bingung.
"Rima!"
"Aduh Ma, sakit," Rima pun berhenti tertawa saat rasa sakitnya kembali terasa.
"Nah, kan. Makanya jangan tertawa tiba-tiba. Nanti kesurupan," kata Arini masih dengan tidak tahu apa-apa.
"Iya, Ma," Rima pun mengangguk sambil menjawab. Padahal dari hati keinginan nya saat ini adalah hal yang lain, Rima terus memeluk Aditya, menemaninya dalam proses persalinan normal sampai akhirnya pembukaan sempurna dan siap untuk mengejan.
"Tarik napas dulu ya Ibu, rileks, jangan panik," kata Dokter memberikan arahan. Agar mempermudah proses kelahiran secara normal untuk anak kembar Rima.
"Dok, rasanya pengen BAB."
"Ya nggak apa-apa, keluarkan saja di sini. Ayo ambil napas dulu, dan mengejan."
Rima pun mengikuti setiap perintah dari Dokter, hingga akhirnya melahirkan anak pertamanya.
"Cucu Oma," Arini tidak menyangka kini sudah memiliki cucu, dirinya tidak akan kesepian lagi setelah ini.
Apa lagi mendapatkan dua cucu sekaligus, ini sungguh sangat luar biasa.
"Mbak, aku udah punya cucu," Arini memeluk Ana dengan eratnya, meluapkan rasa bahagia di dalam dirinya.
"Selamat ya Jeng, aku juga ikut bahagia," Ana pun membalas pelukan iparnya dengan begitu hangat.
Kemudian Arini kembali melihat wajah cucunya dengan rasa bahagia.
"Terima kasih," Aditya tersenyum pada Rima. Dirinya tidak menyangka ternyata Rima yang akhirnya melahirkan anak-anaknya. Awalnya hanya menggoda dirinya saja, tersenyum manis padanya. Mencolek nya dengan cara yang unik. Tapi malah dirinya merasa suka, hingga rasa nyaman pun tercipta. Rasa rindu pun kian terasa, saat sehari tidak berjumpa. Dan hari ini Rima memberikan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Aditya mengusap air mata bahagia untuk yang kedua kalinya.
"Mana," Rima pun menadahkan tangannya pada Aditya. Sebab tidak ingin terus melihat suaminya menangis.
"Apa?" Tanya Aditya bingung.
__ADS_1
"Ok" Rima berdecak kesal, kekurangan suaminya adalah tidak peka, tidak romantis, tidak mengerti dengan kode.
"Hadiah nya mana?" Kata Rima dengan jelas.
"Hadiah?"
"Iya, kan di luar sana orang-orang kalau habis lahiran. Dapat hadiah dari suaminya."
"Memangnya begitu?" Tanya Aditya yang bingung.
"Mas, ish." Rima hanya bisa menarik napas panjang, wajahnya terlihat masam.
"Ya udah deh, ini hadiah buat kamu," Aditya pun mengeluarkan beberapa kartu kredit dari dalam dompetnya.
"Bebas belanja sepuasnya," kata Aditya.
Rima tersenyum sambil mengambil alih dari tangan Aditya.
Kemudian keduanya berpelukan, tidak lupa berciuman dengan mesra seakan tidak ada siapapun di sana selain keduanya.
"Ya ampun!" Ana dan Arini pun terkejut melihatnya.
"Mas?" Rima pun menjauh dan merasa malu.
Aditya berbalik badan sambil menggaruk kepalanya.
"Maaf Ma," Rima tersenyum canggung sambil menunduk.
"Sudahlah, tapi ingat ya sebulan ini tidak boleh," Arini mengerucutkan kedua tangannya dan menggabungkannya. Memberikan peringatan pada pasangan suami istri yang terus saja ingin menempel itu.
"Hehe," Rima terkekeh kecil sambil melihat Aditya.
Aditya pun tersadar, karena ternyata sebulan ke depannya harus berpuasa. Tapi tenang, dirinya tidak sendirian. Ada Alex dan juga Nanda bukan?
Semangat, pasti bisa! Harus bisa. Lanjutkan perjuangan belum selesai.
__ADS_1