
Tatapan tajam Riki tertuju pada seorang bocah ingusan yang cukup membuatnya menjadi hampir gila.
Gila karena terus saja memikirkan wajah Vanya yang mendadak menjadi peneror dalam setiap detiknya.
Kali ini wanita itu harus bertanggung jawab karena sudah lancang membuatnya menderita dengan menghadirkannya rasa rindu yang begitu luar biasa sehingga tidak dapat terbendung lagi.
Setelah beberapa hari ini Riki terus saja tersiksa mencoba untuk tidak perduli dan juga tidak bertemu dengan Vanya ternyata hanyalah menyiksa diri sendiri.
Lihatlah bocah nakal itu, tersenyum dengan manisnya pada seorang bocah juga. Meskipun demikian tetap saja Riki akan berusaha untuk mendapatkan.
Tekat benar-benar sudah bulat, siapapun yang menghalangi tak akan bisa menghentikan seorang Riki yang ingin memiliki Vanya. Andai saja wanita itu tahu seperti apa tersiksanya menahan rindu mungkin saja tidak akan melakukan ini.
Maka dari itu wanita yang bernama Vanya itu harus di ingatkan, agar tidak lagi berbuat kesalahan yang membuat Riki tidak karuan.
Dengan segera Riki pun turun dari mobilnya menghampiri Vanya. Vanya yang tengah bersama dengan Rangga pun merasa terganggu dengan kehadiran Riki tentunya.
Kenapa?
Karena keduanya ingin berdua saja, tanpa ada pengganggu.
Contohnya Riki.
"Om, ngapain ke sini? Di suruh Tante Sela?" Vanya langsung saja menyuguhkan berbagai macam pertanyaan.
Karena apa?
Tentunya agar Riki segera menyampaikan maksudnya, kemudian segera pergi dari sana.
Tetapi Riki hanya diam sambil menatap Vanya, pria itu tampak tenang tanpa ada kemarahan sedikitpun di wajahnya. Karena Riki tak ingin membuat Vanya kesal, lalu mengusirnya seperti biasanya.
"Om?" Vanya semakin kesal pada Riki, sebab malah diam saja tanpa mengatakan apapun.
"Selesaikan dulu urusan kalian. Setelah itu barulah kita bicara," jawab Riki.
Vanya dan Rangga tentunya tak akan bisa berbicara, jika ada orang ketiga yang ada di antara mereka.
Padahal dari tadi keduanya tampak sedang berbicara dengan mesranya, tetapi lagi-lagi Riki menghancurkan semuanya.
"Om, ngapain di sini? Nggak baik loh Om jadi orang ketiga itu," Vanya melayangkan tatapan sinis pada Riki.
Sungguh kehadiran pria tersebut benar-benar tidak diinginkan sama sekali.
"Kalan gitu aku pulang dulu sampai jumpa besok," Rangga memilih untuk berpamitan karena dirinya merasa tak nyaman setelah kehadiran Riki.
"Kok, cepet banget sih," tampak raut wajah Vanya penuh kekecewaan padahal dirinya masih ingin menikmati kebersamaan dengan Rangga.
"Nggak apa-apa, kan besok kita bisa ketemu lagi," Rangga pun meyakinkan Vanya dengan manisnya.
Lihat saja senyum Rangga membuat Vanya menjadi tidak karuan.
Sungguh Rangga sangat tampan dan tak ada yang bisa menandinginya membuat jantung Vanya terus saja berdetak dengan hebatnya.
"Ya udah, ayang hati-hati dan jaga hati," kata Vanya dengan senyum manisnya.
"Iya, Ayang juga jaga hati untuk aku aja," Balas Rangga.
Riki ingin sekali muntah melihat kedua bocah ingusan di hadapannya, mungkin masa remaja adalah masa yang paling indah.
Tetapi malah orang yang menyaksikannya menjadi muak. Sebab mereka tidak tahu, jika ada masa yang tak semuanya bisa seindah itu lagi nantinya.
__ADS_1
"Jumpa besok Ayang."
Hingga akhirnya Vanya beralih menatap Riki dengan kesal.
"Gara-gara Om, pacar aku pulang. Om itu pengganggu banget sih!" Geram Vanya bahkan ingin sekali mencongkel kedua bola mata Riki lalu menjadikannya sebagai pajangan.
Kapankah Riki tidak membuatnya kesal? Tidak ada, lelaki itu tampaknya dilahirkan memang sudah menjadi seorang yang membuat Vanya kesal tampaknya.
"Temani aku makan malam," Riki tak terpancing sama sekali, bahkan tanpa kemarahan sama sekali.
Semuanya terlihat baik-baik saja seakan tak memiliki masalah dengan Vanya.
"Ogah!" Tolak Vanya dengan ketus.
"Black card?" Riki mengeluarkan benda kecil tersebut dan memberikannya pada Vanya.
Mata Vanya langsung membulat seketika itu juga, tapi tidak Vanya sedang tak ingin menerimanya.
"Maaf Om, nggak tertarik!" Vanya mendorong tangan Riki yang mengarahkan sebuah black card padanya.
Riki pun menatap benda kecil itu kemudian kembali melihat Vanya.
"Yakin tidak mau? Ini hanya untuk menemani ku saja?" Tanya Riki lagi.
Vanya tampaknya mendadak galau seketika, bayangkan saja menolak kartu tersebut sebenarnya tidaklah mudah.
Namun, mengapa lagi-lagi menawarkannya?
Sungguh membuat Vanya menjadi panas dingin seketika. Hingga akhirnya Riki pun menggerakkan di depan wajah Vanya. Vanya semakin meneguk saliva menatap kartu tersebut.
"Kesempatan tidak datang dua kali!"
Riki pun perlahan menjauhkannya dari Vanya, seakan-akan memasukannya kembali pada dompetnya.
Tetapi saat itu Riki tak bisa lepas menatap wajah Vanya yang memang begitu meneduhkan hatinya.
Hingga akhirnya mata Vanya pun kembali terbuka dengan gerakan cepat.
"Om, aku terima. Tapi, karena terpaksa!"
Riki menahan tawa saat mendengar kata yang diucapkan oleh Vanya.
Terpaksa?
Terpaksa dari mana?
Memang benar-benar bocah ini membuatnya sangat tertarik, sebab dia memang beda dari yang lainnya.
Memilih untuk diam dan menikmati pemandangan yang sangat indah membuat Riki tak bisa berkata-kata sama sekali.
"Om, ngomong kek. Kok diam aja? Ngeliatin aku juga segitunya banget, sih? Tau sih aku emang cantik, manis dan imut, ayo akui aja!" Kata Vanya dengan panjang kali lebar lebarnya.
Mulut komat-kamit Vanya memanglah sangat menggemaskan di mata Riki.
"Ya, udahlah. Mau ditemenin makan nggak?"
"Aku tunggu di mobil," Riki langsung berjalan menuju mobilnya.
Sedangkan Vanya masih saja menggerutu di tempatnya, tetapi tidak dengan suara keras. Karena itu bisa membuat Riki mendengarnya, sebab tak ingin black card tersebut diambil kembali.
__ADS_1
Vanya pun segera menyusul Riki, kemudian duduk di samping pria aneh tersebut.
Sesaat kemudian Riki pun mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran.
Keduanya hanya diam saja, sebab Vanya sibuk dengan membalas pesan dari sang pujaan hati.
Sedangkan bersama dengan Riki adalah pekerjaan, karena Vanya memang menerima jasa untuk menemani Riki bukan?
Terkesan konyol, tetapi cukup membuat dompet tebal. Padahal hanya sebuah kartu tipis yang diberikan oleh Riki padanya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Riki.
"Makanan, kalau kayu gimana makannya!"
"Vanya!" Riki menatap tangan Vanya yang dari tadi sibuk memainkan ponselnya, padahal sedang bersama dengan dirinya.
"Baiklah, tidak masalah," Vanya pun segera menyimpan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.
Lagi pula saat ini bukankah Vanya sedang bersama dengan klien nya? Tentu, maka dari itu harus profesional.
Malam ini Riki hanya diam saja, terserah Vanya mau mengambil segala yang dimilikinya begitu saja.
Sama sekali tak menjadi masalah untuk tetapi dengan syarat. Wanita itu tak boleh lagi pergi dari hidupnya.
"Kapan orang tua mu di rumah? Aku ingin berbicara pada mereka."
"Untuk apa?" Vanya tampaknya tidak ingin sama sekali membahas hal pribadi, lagi pula ada apa dengan Riki mendadak menanyakan kedua orang tuanya.
Vanya masih merahasiakan identitasnya tersebut, karena dirinya masih ingin menjadi seorang yang terlahir dari kalangan menengah.
Jika pulang ke rumah kedua orang tuanya, bisa saja hidupnya kembali seperti dulu lagi.
Pengawas bodyguard yang ketat dan juga tidak bisa berpacaran adalah syarat mutlak, sehingga Vanya masih ingin bebas seperti saat ini.
"Untuk berbicara!"
"Tau, masalahnya mau ngomong apa?" Vanya pun memutar kedua bola matanya dengan jenuh, kesal sekali pada Riki yang berbicara tak jelas.
Riki masih diam sambil terus menimbang, tetapi lagi-lagi perasaan mengatakan bahwa cinta itu ada untuk Vanya.
Sulit dipercaya, jika seorang bocah bisa membuatnya menjadi hampir gila.
Bahkan anehnya hanya dalam hitungan hari saja.
Tanpa menggodanya, tanpa pernah berbicara manis padanya sama sekali.
Bahkan tak pernah sekalipun wanita itu tersenyum manis padanya.
Tak jarang hanya perdebatan-perdebatan yang terjadi.
Lagi-lagi Riki hanya diam dan malah jatuh hati, kali ini Riki berharap semoga tak tersakiti lagi.
"Jawab woy, diem aja!"
"Mau menikahi mu!"
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Vanya seketika itu terbatuk-batuk, bahkan tanpa hentinya.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Riki benar-benar membuatnya hampir mati.
Sedangkan Riki hanya diam saja, melihat Vanya yang begitu shock mendengar apa yang dikatakannya.