
Riki hanya diam saja duduk di kursi kebesarannya. Tepatnya di kantornya biarkan saja Renita menemui Vanya. Semoga saja setelah itu apa yang di harapkan benar-benar terjadi.
Apa yang di harapkan oleh seorang Riki, tentu saja hubungan Vanya dan juga Rangga berakhir detik ini juga tanpa ada penghalang lagi ataupun kecuali.
Sepertinya apa yang di impikan Riki tidaklah sia-sia karena Vanya pun tak akan mau dengan lelaki yang sudah menduakan cintanya padahal dirinya begitu tulus terhadap Rangga.
Begitu juga dengan wanita lainnya yang ikut menjadi korban, siapa lagi kalau bukan Renita.
Parahnya lagi Renita hanya di jadikan ATM berjalan oleh Rangga yang selama ini dia anggap serius mencintai dirinya.
"Kak, ini air dua ember, tepung satu kilo, telur busuk udah aku beli dari warung."
Begitu bersemangat saat nanti akan melakukan aksinya bersama dengan Renita.
Bahkan repot-repot membeli banyak barang-barang yang di butuhkan untuk membuat Rangga benar-benar jera.
"Tepung sama telur maksudnya kita manggil dia ke sini terus kita hajar sama-sama"
Malah ternyata Vanya lebih kesal kepada Rangga sehingga ingin membuat laki-laki itu benar-benar menyesal sudah mengenal seorang Vanya.
"Nggak apa-apa Kak soalnya aku kesal banget, aku udah serius banget mikir kalau dia sayang banget sama aku ternyata aku cuma dimainin"
Vanya sampai meremas kedua tangannya membayangkan jika di depannya ada Rangga.
Kurang ajar sekali, cinta pertamanya putus saat detik dia resmi berpacaran, sedangkan yang kedua putus karena ternyata dia hanya seorang selingkuhan.
Vanya benar-benar merutuki nasib malangnya ini.
"Ya sudah terserah kamu saja, aku juga udah gemes banget sih!"
Beberapa saat kemudian yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba juga, Rangga datang dengan penuh percaya diri.
Karena barusan mendapatkan pesan yang dikirimkan oleh Vanya padanya, tanpa tahu yang mengirimkan pesan tersebut adalah Renita.
Lagi pula bagaimana tidak bersemangat, karena isi pesan tersebut adalah Vanya mengatakan membelikannya sebuah arloji branded.
Sungguh sangat membahagiakan tentunya.
"Ayang," sapa Rangga yang perlahan menuruni sepeda motornya.
Vanya pun bangkit dari duduknya, tersenyum pada Rangga dengan manis seperti biasanya.
Sedangkan Renita berada di dalam rumah, karena dirinya ingin melihat dengan jelas seperti apa kelakukan laki-laki itu.
Tapi ternyata tidak semanis yang dibayangkan, buktinya saat ini menyapa Vanya begitu mesra.
Renita pun mengambil ponselnya kemudian mengirimkan pesan pada Rangga.
( Ay, aku beliin kamu sepatu keluaran terbaru. Ini keren banget ) Renita.
Rangga merasa begitu bahagia karena tak menyangka bisa mendapatkan sesuatu yang berharga dari dua wanita sekaligus.
__ADS_1
"Rangga, kok kamu malah main handphone sih?" Vanya pun memasang bibir manyunnya, seakan kini dirinya kesal karena Rangga yang hanya perduli pada ponselnya.
"Enggak kok cuma ada kamu aja," Rangga pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Sedangkan Vanya ingin muntah mendengarnya, begitu juga dengan Renita yang sudah tak sabar ingin mengacak-acak wajah Rangga.
"Nggak bohong?"
"Enggak, katanya kamu beliin aku jam tangan," Rangga tak ingin lebih lama berbasa-basi, karena Renita juga menunggu dengan sepatu keluaran terbaru.
"Ada dong, kamu duduk dulu!"
Vanya menuju gerbang kemudian menguncinya agar Rangga tidak bisa melarikan diri sebelum menyelesaikan masalah dengan Vanya dan juga Renita.
"Kok di kunci?"
"Kenapa?" Vanya pun mulai menunjukkan wajah masamnya.
Membuat Rangga kebingungan seketika.
Hingga tiba-tiba ada air yang mengguyur tubuhnya.
Membuat Rangga shock, namun ada yang lebih mengerikan ternyata yang mengguyur dirinya adalah Renita.
"Ay, kamu di sini?"
"Apa? Kita putus!" Renita mengambil air lainnya dan kembali mengguyur Rangga.
Apa yang terjadi jika putus dari Renita?
Rangga akan sangat rugi karena kehilangan ATM berjalannya.
"Dasar buaya darat!" Vanya pun mendorong Rangga, dirinya sangat kesal dan harus melampiaskan segalanya saat ini juga pada lelaki kurang ajar yang membuatnya menjadi kecewa lagi.
"Laki-laki kurang ajar!" Renita juga mendorong Rangga ke arah Vanya.
Begitu juga sebaliknya, hingga akhirnya Rangga terdorong dengan begitu saja.
Membuat tubuhnya terasa sakit.
"Dasar kamu ya!"
Akhirnya Vanya pun melemparkan telur busuk, selanjutnya Renita menumpahkan tepung pada tubuh Rangga.
"Kak Renita, minyak goreng di dalam sudah cukup panas. Udah siap untuk menggoreng dia!" Kata Vanya menatap Rangga dengan mata penuh kemarahan.
Renita pun mengangguk.
"Setelah matang, kita kasih aja dia buat makanan buaya!" Jawab Renita.
Membuat Rangga semakin meneguk saliva.
__ADS_1
Rangga pun ingin melarikan diri, tetapi tidak bisa. Karena Vanya dan Renita menahan pergerakannya.
"Balikin semua yang udah aku kasih, mana kunci motor, lepaskan jam tangan ini, celana ini, baju mu ini! Ini semua aku yang membelikannya!"
Akhirnya Rangga pun pulang dengan menggunakan dalaman saja, karena semuanya sudah di ambil oleh Renita. Termasuk sepeda motornya juga.
"Jadi, itu sepeda motor Kakak yang beli?" Vanya terkejut tak menyangka sepeda motor yang biasa memboncengnya kemana saja adalah milik Renita.
"Iya, awalnya aku kira dia setia. Aku kasih semua yang dia minta, ternyata apa? Aku yang di duakan!" Renita pun duduk di lantai rasa kecewa begitu terasa.
Tetapi bersama Vanya semuanya seakan begitu ringan.
"Sekali lagi aku minta maaf ya Kak."
Vanya pun duduk di samping Renita, karena merasa bersalah sudah membuat hubungan antara Renita dan Rangga hancur.
"Ini bukan salah kamu," Renita mengusap punggung Vanya, karena tak pantas menyalahkan dirinya sendiri.
"Sebetulnya, kalau Kakak mau sama Rangga, aku harus tinggalin dia juga nggak apa-apa kok Kak," kata Vanya.
"Masalahnya, aku nggak mau! Enak aja, besar kepala nanti dia merasa diperebutkan dua wanita, males banget bersaing demi dia. Padahal diluar sana masih banyak cowok, ya kan?" Tanya Renita, meskipun sebenarnya ada rasa kecewa yang mendalam.
Namun, lebih baik berakhir dari pada terus merasa bahagia dalam sebuah kebohongan.
"Kak, kita temenan ya?"
"Tapi, kayaknya aku pernah liat kamu deh sebelum-sebelumnya, di mana ya? Ya ampun aku lupa," Renita berusaha untuk mengingatnya, tetapi sampai saat ini pun belum bisa mengingat pastinya.
"Maksudnya?" Vanya pun penasaran.
"Iya, kau pernah kerja di perusahaan Tuan Devan nggak sih?"
Glek!
Vanya pun meneguk saliva.
"Aku ingat, waktu itu pernah mengantar berkas kerja sama ke perusahaan Tuan Devan. Dan, ada foto keluarga, kalau nggak salah memang Tuan Devan punya satu anak perempuan, tapi nggak pernah di perkenalkan ke publik, iya nggak sih? Atau mirip doang kali ya."
"Mirip kali Kak, mana mungkin."
Vanya pun tersenyum kikuk berusaha untuk mengelabui Renita.
"Ya juga sih, mana mungkin anak konglomerat tinggal di rumah sederhana begini. Ini hampir sama dengan rumah aku," kata Renita lagi dan tak lagi memikirkan apa yang membekas di pikirannya.
"Nah, Kakak tahu," Vanya pun kembali bernapas lega, karena Renita benar-benar tak lagi memikirkan tentang anak Devan. Yang tak lain memang benar dirinya.
"Aku pulang dulu ya."
"Hati-hati Kak Renita, kapan-kapan ajarin aku bawa motor gede, ya," Vanya pun merasa kagum saat melihat Renita pintar mengendarai sepeda motor milik Rangga barusan ataupun tepatnya adalah Renita sendiri yang memilikinya.
Sesaat kemudian Vanya pun mengelus dadanya, antara merasa lega karena Renita tak mengenalinya dan juga kesal karena sudah dikhianati oleh Rangga.
__ADS_1
"Pengen nangis, ya ampun Vanya malang sekali nasib percintaan mu," Vanya pun menepuk dahinya, kemudian segera memasuki rumah.