
Akhirnya Vanya pun membulatkan tekat untuk menemui kedua orang tuanya bahkan mengatakan bahwa dirinya ingin segera menikah.
Bagaimana tanggapan kedua orang tuanya saat mendengar keinginan putrinya itu? Terutama Devan.
Pagi ini Devan yang tengah duduk bersantai di ruang keluar dengan televisi yang menyala, tak lupa menikmati secangkir kopi buatan istri tercintanya.
Begitu bahagia saat Vanya kembali ke rumah dan langsung memeluk dirinya, hanya saja apa yang dikatakan oleh putrinya itu yang sedikit lucu.
"Ayah, aku serius!" Vanya pun kesal dan memilih untuk meneguk kopi milik Devan.
"Iya," Devan pun terkekeh melihat raut wajah putrinya.
Tangannya merangkul pundak putri kesayangannya yang kini duduk di sampingnya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa ini?" Tanya Nayla yang baru saja bergabung dengan Devan, tetapi bibirnya mendadak tersenyum melihat Vanya yang duduk di samping Devan.
Tetapi raut wajah anaknya itu terlihat tidak baik-baik saja.
"Anak mu ini meminta dinikahkan Bunda, " kata Devan sambil terkekeh geli.
Bagaimana bisa menikahkan Vanya sementara usia anaknya itu saja masih begitu muda. Bahkan bulan depan baru genap dua puluh tahun.
Lagi pula siapa yang akan menjadi calon suami Vanya.
Aneh-aneh saja kelakukan bocah tengil kesayangan Devan itu.
Siapapun pasti akan tertawa jika melihat apa yang sedang diinginkan oleh bocah lucu itu.
Begitu pula dengan Nayla yang kebingungan oleh penjelasan Devan barusan, dirinya pun duduk di samping Vanya.
Hingga akhirnya Vanya duduk di tengah kedua orang tuanya itu.
Baru saja Nayla duduk di samping Vanya, tetapi kini Vanya sudah beralih menatapnya dengan serius.
"Bunda, aku serius!"
"Benarkah?" Tanya Nayla, sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh putrinya itu,
"Ish, nggak percaya banget deh!"
Bagaimana cara mengatakan pada kedua orang tuanya agar percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.
Sungguh ini menjadi masalah terbesar dalam hidupnya.
Maklum saja, sudah kebelet nikah malah di anggap hanya candaan saja.
"Percaya, cuma menikah itu harus ada calonnya. Nggak bisa nikah sendirian aja, pertanyaannya kamu mau menikah dengan siapa?" Tanya Nayla dengan jelas.
Sampai di sini Nayla pun menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, tetapi maklumi saja karena Vanya masih bocah ingusan.
"Bunda, nikah ya jelas dengan manusia!" Vanya merasa diremehkan, apakah dirinya begitu buruk sehingga di anggap tidak ada lelaki yang menyukai dirinya.
__ADS_1
Sungguh menyakitkan hati.
"Ahahahhaha," lagi-lagi Devan tak kuasa menahan tawa saat melihat raut wajah kesal Vanya.
Pagi-pagi kembali ke rumah dan sudah membuatnya terhibur, sungguh putrinya itu memang sangat berbeda.
"Ayah!" Pekik Vanya kesal merasa jadi bahan tertawaan.
"Ayah," Nayla pun ikut menegur Devan hingga akhirnya pria tiga orang anak itupun menghentikan tawanya, meskipun sepertinya sangat sulit.
"Kamu mau menikah?" Tanya Nayla yang kini berfokus pada Vanya.
Meskipun sebenarnya masih menganggap sebagai lelucon saja, tidak mengapa karena dirinya ingin Vanya kembali ke rumah tanpa ingin pergi lagi.
"Iya, bolehkan Bunda?" Tanya Vanya penuh harap.
"Hah?" Nayla pun tersenyum tetapi kemudian tersadar dirinya sedang bersandiwara, sebab sampai di sini dirinya juga belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Vanya.
Cepat-cepat Nayla pun mengangguk agar Vanya tidak lagi marah pada dirinya.
"Ya, tapi menikah itu butuh dua orang bukan? Ada laki-laki, ada perempuan. Lalu, siapa calon suami mu?"
"Laki-laki dong Bunda!"
"Iya..." Nayla benar-benar tidak kuasa untuk berbicara dengan Vanya, karena kepolosan putrinya malah kini menjadi aneh.
"Pertanyaan jelasnya, laki-laki mana yang mau menikahimu?" Terang Devan.
Devan masih yakin saat ini Vanya sedang menjalin hubungan dengan seseorang kemudian berbicara tentang pernikahan. Ataupun berbicara tentang masa depan.
Tetapi itu semua sudah pasti hanya sekedar obrolan saja, mana mungkin serius dan benar-benar akan menikah.
Putrinya itu semakin dibebaskan ternyata semakin pintar dalam melawak, tidak masalah mungkin itu memang suatu kelebihan putrinya itu.
"Ayah!" Vanya pun berteriak, kemudian menangis histeris. Kesal pada Devan yang masih saja menganggapnya sebagai bahan candaan.
"Ahahahhaha," Devan dan Nayla tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Vanya, keduanya benar-benar terhibur oleh Vanya.
Hingga akhirnya Vanya pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kamar yang sudah sangat lama tidak dia tempati, Vanya sungguh merindukan ranjangnya, bantalnya, bonekanya, lemarinya dan apa saja yang ada di kamarnya tersebut.
Tetapi sesaat kemudian dirinya kembali memikirkan permasalahannya.
Permasalahan serius yang hanya dianggap sebagai bahan candaan oleh kedua orang tuanya.
Vanya kehabisan akal untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa apa yang dikatakannya barusan tidaklah main-main.
Hingga akhirnya ponsel Vanya pun berbunyi, siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Riki.
( Love you ) Om Riki.
__ADS_1
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tetapi malah mendapatkan sebuah pesan yang sangat romantis membuat Vanya jadi berbunga-bunga seketika.
Meredam amarahnya yang sedang membuncah itu.
"Om Riki, ish....." Vanya pun memeluk bantal guling, menciuminya membayangkan itu adalah Riki.
Tetapi sesaat kemudian Vanya pun tersadar bahwa dirinya sedang tidak waras.
Tapi bagaimana lagi, jatuh cinta itu memanglah sangat indah.
Hingga akhirnya gagang pintu pun berputar, Vanya masih marah pada kedua orang tuanya.
Memasang wajah masam kembali, bahkan sampai menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, kamu mau makan apa siang ini? Kamu nggak marah kan, sama Bunda?" Tanya Nayla.
Vanya mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla dari balik selimutnya, tetapi dirinya harus mogok bicara kalau perlu mogok makan juga agar dirinya bisa meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya benar-benar ingin menikah.
Menikah, menikah, menikah dan menikah!
Tidak pulang-pulang, sekali pulang langsung ingin dinikahkan, bagaimana bisa Devan dan Nayla tidak tertawa karena keinginan konyol putrinya yang masih bocah itu.
"Sayang, kamu sudah tidur?" Nayla pun mencoba untuk membuka selimut Vanya dengan perlahan.
Tetapi Vanya malah memunggungi Nayla, merasa kesal dan belum bisa berbicara dengan Nayla ataupun Devan yang masih menganggapnya sebagai lelucon samata.
Ini harus terus dilakukan sampai kedua orang tuanya menyetujui dirinya untuk menikah!
"Baiklah, Bunda keluar dulu. Nanti kalau mau sesuatu, temui Bunda di dapur ya," Nayla pun segera keluar menuju dapur memasak untuk Vanya.
Dirinya sudah sangat rindu saat-saat Vanya mencicipi masakannya, memuji tanpa hentinya.
Apa lagi Nayla benar-benar ingin anaknya kembali ke rumah dan tidak lagi pergi.
Sehingga saat ini benar-benar bersemangat untuk memasak.
"Ya ampun, panas banget ya," Vanya pun membuka selimut setelah memastikan Nayla sudah pergi.
Ternyata Vanya baru sadar, AC tidak menyala hingga bergegas menyalakannya.
Panasnya persis seperti cinta Riki dan Vanya yang selalu saja memicu adrenalin.
"Inikan lebih baik," Vanya pun memilih untuk meredahkan tubuhnya kembali, kemudian terlelap dengan mudahnya.
Membawa sejuta kekesalan yang begitu luar biasa, antara Riki yang tidak percaya bahwa dirinya adalah anak Devan Bima Putra dan juga Nayla dan Devan yang juga tidak percaya bahwa dirinya benar-benar ingin menikah.
Apakah dirinya begitu sering berbohong sehingga mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan?
Sudahlah, Vanya ingin menenangkan pikirannya sejenak saja.
Dirinya ingin lebih baik hingga tidak terlalu stres untuk saat ini.
__ADS_1