Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Berjanji.


__ADS_3

Vanya terdiam sambil menatap ke luar, tubuhnya bertumpu pada jendela kamar. Matanya terus melihat bulan yang bersinar dengan terangnya, sayangnya tidak dengan hatinya yang kini sedang bersedih karena hubungannya dan Riki ditentang keras oleh keluarganya.


Saat ini Vanya sedang bingung, bingung terhadap dirinya yang kini tidak bisa melupakan Riki.


Jika hanya cinta monyet semata mengapa bisa sesakit ini.


Saat ini Vanya berharap, jika memang tidak ada kesempatan untuk bersama dengan Riki maka lebih baik semua perasaan ini segera hilang.


Vanya tersiksa dan tidak sanggup lagi terbelenggu rindu yang kian semakin menjadi-jadi.


Namun, jika memang kesempatan untuk bersama itu ada. Maka, Vanya ingin semuanya berlalu dengan cepat.


Dirinya sudah sangat menyayangi Riki, tidak ingin terpisah walaupun hanya sekejap saja.


Vanya benar benar bingung dengan keadaan ini, sudah beberapa hari ini Riki menghilang begitu saja.


Bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali membuatnya bertanya-tanya apakah yang terjadi pada pria pujaan hatinya itu.


"Vanya," Nayla pun menghampiri Vanya, sebab putrinya itu tidak makan sejak pagi tadi.


Tentu saja Nayla tahu mengapa putrinya tersebut demikian, apa lagi jika bukan Riki.


Cinta yang belum direstui sungguh mengiris hati, bagaimana lagi sebagai seorang Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.


Itulah yang kini di rasakan oleh Nayla, kebahagiaan anaknya adalah segalanya.


"Kamu, makan dulu dong"


"Aku, mau tidur aja!"


Nayla menarik napas dengan berat menyaksikan anaknya yang kini tengah marah pada dirinya entah sampai kapan.


Hingga akhirnya Devan pun menyusul masuk, melihat reaksi Vanya saat Nayla memintanya untuk makan.


"Kamu masih saja memikirkan duda tidak jelas itu?" Devan tersenyum miring membayangkan wajah Riki, menurutnya saat ini dirinya sudah memberikan keputusan terbaik.


"Namanya Riki!" Kata Vanya.


Vanya pun keluar dari balik selimut dan mendudukkan tubuhnya.


"Ya. Dan, kamu tahu? Hanya kamu yang memikirkan dia sedangkan dia tidak!" Papar Devan.


"Maksud Ayah apa?"

__ADS_1


"Katanya dia mencintai kamu, tapi buktinya dia tidak berjuang sama sekali. Itu artinya bohong!" Tambah Devan dengan jelas.


Kemudian Devan pun melengos pergi, mengejek Vanya dengan penuh rasa kemenangan. Sebab, apa yang dikatakan nya memang benar adanya.


Kini Vanya pun beralih menatap Nayla seakan dirinya sedang bingung.


"Bunda, dulu Ayah banyak berjuang nggak buat Bunda?"


Nayla pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Vanya pun mulai gelisah sebab merasa Riki tidak demikian.


"Sebaiknya kamu makan, tidak usah pikiran dia. Belum tentu juga dia memikirkan mu di luar sana," jelas Nayla.


Nayla pun pergi setelah meletakan nampan di atas meja nakas.


Namun apa yang dikatakan oleh Nayla malah mengundang tanya di kepala Vanya.


Bahkan apa yang diucapkan oleh Ayahnya juga membuatnya menjadi bertanya-tanya.


"Iya juga ya," kata Ninda yang tiba-tiba muncul.


"Ninda!" Kesal tentunya, Vanya terkejut dengan kehadiran Ninda yang tiba-tiba muncul.


Vanya memang kini sudah berbeda, bahkan tidak bisa fokus sama sekali. Buktinya sampai lupa jika selama beberapa hari ini terus berada di samping Vanya untuk menemani.


"Tau ah!" Vanya pun mengacak rambutnya, semuanya benar-benar menjengkelkan.


"Aku tidur ya, ngantuk banget," Ninda pun merebahkan tubuhnya, hingga beberapa saat kemudian terdengar suara dengkuran halus.


Sementara Vanya masih pusing memikirkan apa yang dikatakan kedua orang tuanya.


"Apa bener ya Om Riki nggak mikirin aku sama sekali?" Vanya benar-benar dibuat pusing, hingga akhirnya meraih ponselnya pada meja mencoba menghubungi Riki tetapi tidak bisa.


Seketika itu menatap Ninda yang terlelap di atas ranjangnya, ide gila pun mulai muncul di kepalanya.


Vanya pun menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Ninda, setelah itu bergegas turun dari ranjang.


Vanya pun mencari pakaian milik Ninda kemudian memakainya.


Tidak lupa memakai masker dan kaca mata milik Ninda, hingga tanpa sengaja menemukan selendang milik Bik Ina.


"Pas banget."

__ADS_1


Vanya pun akhirnya keluar dari kamar dengan mengendap-endap, meskipun sulit tetapi dirinya berhasil keluar dari rumah.


Kemudian menumpangi taksi menuju rumah Riki, berniat menanyakan secara langsung tentang hubungannya dan juga Riki.


Hingga setelah sampai di rumah seorang Art mengatakan Riki baru saja keluar, membuat Vanya pun mengelus dada karena tidak bisa bertemu dengan Riki.


"Kemana ya, Bik?"


"Nggak tahu Neng, tapi kayaknya kusut banget tadi itu."


Vanya pun mengangguk kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Seketika itu Vanya pun teringat sesuatu, segera Vanya ke tempat tersebut.


Tempat hiburan malam yang menjadi tempat kesukaan Riki selama ini.


Godaan dari pada lelaki hidung belang pun terus mendatanginya, meskipun dirinya sudah menolak tetap saja tidak dihiraukan.


"Dasar gila!" Pekik Vanya, kemudian segera pergi mencari Riki yang mungkin saja ada ditempat tersebut.


Hingga akhirnya Vanya pun melihat Riki, saat dirinya hendak menghampiri tapi mendadak langkah kakinya terhenti.


Betapa kecewanya Vanya melihat Riki sedang bersama dengan mantan istrinya, tanpa banyak bertanya pun Vanya sudah bisa menyimpulkan bahwa Riki sedang berbahagia di sana.


Rasa cemburu membuatnya menjadi lebih mudah marah, bahkan merasa apa yang dilihatnya sudah menjelaskan segalanya.


Hingga tiba-tiba tatapan Riki pun berbenturan dengan tatapan matanya, sayangnya Vanya sudah benar-benar kecewa.


Menunggu dengan setia, ingin berjuang bersama tapi ternyata tidak dengan kenyataannya.


Pada akhirnya Vanya pun memilih pergi, menutup pintu hati untuk Riki jauh lebih baik.


Di sini Vanya menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan oleh Ayahnya benar adanya, percuma saja menangis selama ini ternyata Riki tidak benar-benar mencintainya.


Vanya terus saja berjalan, sesekali berlari demi mempercepat langkah kakinya.


Dalam hatinya berjanji tidak akan mencintai Riki lagi, hingga akhirnya Vanya pun memasuki taksi.


Meminta untuk diantarkan menuju alamat yang sudah dikatakannya.


Semuanya benar-benar begitu menyakitkan hati, sepanjang perjalanan Vanya hanya menangis penuh kecewa, rasanya sangat luar biasa.


Baru kali ini Vanya merasakan cemburu yang begitu luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2