Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Bukannya dapat untung malah buntung!


__ADS_3

"Kenapa ponsel mu tidak bisa dihubungi?"


"Ponselnya di ambil sama Daddy, katanya sampai kamu dan Rena menikah saja," jelas Cahaya.


Felix pun tersenyum kemudian memeluk Cahaya. Dirinya berjanji akan menyelesaikan masalah nya dengan cepat agar tak lagi ada penghalang di antara keduanya. Sesaat kemudian Felix memberikan sebuah ponsel pada Cahaya.


"Sementaranya waktu ini kita sembunyi-sembunyi dulu. Tapi nggak akan lama. Percaya sama aku," Felix meletakan ponsel baru pada tangan Cahaya.


Cahaya pun mengangguk menerima ponsel yang di berikan oleh Felix.


Sekalipun terasa aneh dan terkesan lucu tetapi itulah hubungan yang harus mereka jalani.


"Felix, aku kok ngerasa aneh ya," Cahaya tak dapat menahan tawa memikirkan apa yang kini mereka jalani.


"Aneh?"


"Iya, dulu kita ribut mulu. Sekarang?"


"Cinta itu nggak harus mulus terus, ada yang datang dengan luka, ada yang datang dengan tidak sengaja, ada juga karena seringnya bersama dan akhirnya sulit untuk melupakan. Seperti kita mungkin," kata Felix.


Riki menggaruk kepalanya sambil mencari sesuatu di atas meja Cahaya. Felix pun menyadarinya hingga akhirnya bertanya.


"Apa yang kau cari?"


"Korek!"


"Untuk apa?" Tanya Felix mulai penasaran.


"Aku kan jadi obat nyamuk, tapi kok belum di bakar?"


"Dasar gila!"


Riki pun memilih mengambil stetoskop milik Cahaya kemudian memasang pada telinganya dan memeriksa dinding. Cahaya hanya menahan tawa melihat kelucuan Riki, sebab mungkin kesal menyaksikan mereka berdua.


Sampai akhirnya Riki berteriak dan dirinya sendiri yang terkejut, sebab suaranya sampai pada gendang telinga nya sendiri.


"Aduh!" Riki pun menggosok telinganya.


"Ahahahha," Cahaya benar-benar tertawa untuk kali ini. Tingkah laku Riki memang aneh.


"Dasar gila!" Umpat Felix.


"Cepat, waktu mu tidak banyak!" Riki pun memberikan peringatan.


"Menghadap ke sana!" Felix meminta Riki untuk melihat arah lainnya, dirinya ingin melihat Cahaya saja tanpa ada gangguan sedikit pun.


Terutama Riki yang kini menjadi obat nyamuk yang sangat aneh sebab seharusnya obat nyamuk hanya diam.


Dengan rasa kesal Riki pun berbalik badan memilih melihat keluar dari jendela kaca yang begitu besar di hadapannya.


"Setelah masalah ini selesai kita menikah," Felix menunjukkan jari kelingking nya pada Cahaya.


Seakan keduanya membuat kesepakatan tentang masa depan yang akan di lalui bersama. Cahaya pun mengangguk dan menyematkan jari kelingking nya. Wajahnya merah merekah, tersipu malu mendengar tawaran Felix yang seketika membawa nya melayang ke awan.


"Jawab dong, senyum-senyum aja."


Cahaya pun lagi-lagi mengangguk.

__ADS_1


"Jawab!" Felix malah semakin gemas melihatnya.


"Atau aku gigit!"


"Nggak! Aku nggak mau lagi di cium, apa lagi di gigit! Nggak ada aneh-aneh cuma pegangan tangan doang! Sampai kita menikah!" Tegas Cahaya.


Selama ini Cahaya tidak pernah melakukan hal di luar batasan, dirinya masih suci. Menunggu saat nanti ada yang menikahi nya, kemudian Cahaya pun akan menyerahkan dirinya dengan suka rela.


"Tidak masalah," Felix pun menyetujuinya, apa saja syarat itu tidak masalah baginya.


"Asal kau tidak bermain dengan laki-laki lain di belakang ku, maka aku setuju saja!"


"Nggak akan, aku udah setia ya, setia aja. Nggak akan pindah-pindah ke lain hati!" Kata Cahaya dengan nada bicara sedikit meninggi.


"Felix, itu ada yang datang!" Riki melihat beberapa bodyguard di bawah sana sedang menuruni mobil, dirinya yakin itu adalah orang-orang suruhan Alex.


Felix pun berjalan cepat menuju jendela dan melihatnya.


"Cepat keluar!" Cahaya tidak ingin Alex menyakiti Felix, dirinya tau seperti apa Alex jika sudah terbakar amarah.


"Kamu janji ya jaga hati. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ku," kata Felix lagi yang sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Cahaya.


"Iya," Cahaya mengangguk cepat dan menarik lengan Felix menuju pintu.


"Cepat pergi, sebelum mereka masuk!"


Felix begitu berat untuk pergi bahkan dirinya tidak masalah jika di hajar habis-habisan oleh Alex.


Asalkan setelah itu bisa menikahi Cahaya, wanita yang kini mampu membolak-balikkan dunia nya sekejap kedipan mata.


"Aku juga!"


"Cepat! Tidak ada waktu lagi!" Riki menarik Felix dengan paksa hingga akhirnya Felix pun tertarik dan mengikuti Riki.


Sampai di depan ruangan kedua nya kembali berjalan layaknya wanita hingga melewati beberapa kelompok pria menggunakan pakaian serba hitam. Sudah pasti itu adalah orang-orang yang di perintahkan oleh Alex.


Sampai akhirnya kedua sepatu yang di pakai oleh Felix jebol. Keduanya pun berhenti melangkah sejenak, kemudian terdiam.


Begitu juga dengan para bodyguard yang kini mendadak berhenti di hadapan Felix dan Riki. Menatap wajah keduanya dengan penuh selidik.


"Buka masker nya!" perintah seorang kepala bodyguard.


Felix ingin sekali menghajarnya tetapi Riki tidak mengijinkan nya.


"Kita harus bermain cantik atau besok mereka akan lebih banyak. Artinya semakin sulit bergerak untuk bisa bertemu Cahaya," bisik Riki.


Felix pun hanya bisa mendesus seakan semuanya begitu membuatnya kesal.


"Hey, buka masker nya!" Titah pria bertubuh besar itu lagi.


Felix dan Riki pun saling tatap kemudian keduanya pun berlagak seperti banci.


"Ada apa? Kami sedang sakit, kamu mau tertular?" Tanya Felix.


Sedangkan Riki melingkarkan tangannya pada lengan pria itu, seakan sedang menggoda.


"Kamu tampan sekali, kenalan dong," kata Riki.

__ADS_1


Beberapa bodyguard yang melihat nya hampir saja muntah begitu pun dengan bodyguard yang menjadi korban Riki.


"Lepas, dasar banci kurang ajar!"


"Aduh, ganteng banget!" Riki pun kembali mencolek pria tersebut hingga hampir saja menghajar Riki.


Beruntung Riki segera pergi, sebab Felix sudah di persilahkan melarikan diri terlebih dahulu itulah tujuan utama Riki membuat perhatian para bodyguard terfokus padanya.


Sampai akhirnya keduanya berjumpa kembali di apartemen, Felix pun melepaskan kostum aneh di tubuh nya.


"Ide mu ini sangat gila!" Kata Felix penuh kekesalan.


"Tapi, kau sudah berjumpa dengan wanita mu itu!" Riki pun duduk di sofa dengan bersantai.


Sesaat kemudian Felix membuka ponsel menerima laporan nya jika Devan sedang menuju unit apartemen.


"Riki, Devan datang! Cepat bereskan semua ini! Aku akan berpura-pura bersantai, aku yakin dia ingin memastikan bahwa kita tidak menemui Cahaya tadi," Felix memungut pakaian wanita dan segala peralatan yang ada kemudian memberikan nya pada Riki.


"Kenapa memberikan pada ku?"


"Cepat pergi, agar Ayah ku tidak curiga!"


"Dasa gila!" Riki pun bergegas keluar dari apartemen, tangannya membawa pakaian yang sebelumnya di gunakan Felix, sedangkan dirinya masih dengan pakaian wanita.


"Dasar pria gila itu," gumam Riki hingga akhirnya sampai di lobi.


"Mendadak aku ingin buang air kecil." Riki pun akhirnya menuju toilet, kemudian berniat ingin memasuki toilet pria.


"Mbak!" Seorang wanita menghentikan langkah kakinya.


Riki menatap penampilan wanita itu, bibirnya pun mulai bersiul.


"Waw," otak liar Riki kembali berkeliaran seketika.


"Itu toilet pria, kita ke sini!"


Tangan Riki pun di tarik seketika dan Riki pun mengikuti saja. Sebab, ada keuntungan di sana.


"Toilet wanita, banyak wanita seksi," gumam Riki penuh kebahagiaan, merasa saat ini dunia begitu berpihak padanya.


Sampai akhirnya rambut palsu Riki pun terlepas, kemudian orang-orang menyadari siapa Riki.


"Hey, kamu laki-laki?" Tanya seorang wanita panik.


"Kenapa ke sini? Ini toilet wanita?" Kata seorang wanita lain nya yang tidak kalah kesal.


Riki pun melihat dirinya di kaca.


"Mampus," gumam Riki dan bersiap-siap untuk melarikan diri.


"Pergi!"


Akhirnya Riki keluar dengan cara cepat, yaitu di lempar.


"Aduh," Riki pun meringis menahan sakit pada pinggang nya, akhirnya pulang dengan langkah kaki yang mengangkang menahan sakit. "


"Kurang ajar, bukannya dapat untung malah buntung!"

__ADS_1


__ADS_2