
Sedangkan Riki kini meletakan kembali cangkir ditangan pada meja.
"Kopi apa ini?"
"Kopi hitam Om, itu aja nggak tahu. Lihat, baju aku basah, muka basah!" Kesal Vanya sambil menunjukkan dirinya.
Kesal sekali pada Riki yang bukannya berterima kasih kepada dirinya malah menyemburnya.
Wajahnya yang mulus seketika terkena noda kopi, padahal kini dirinya juga sedang kesulitan keuangan. Jadi, bagaimana caranya untuk perawatan kecantikan untuk mengembalikan kulit putih mulusnya.
Sedangkan Riki masih diam, menunggu bocah tengil di hadapannya selesai berbicara. Karena mulut wanita itu terus komat-kamit tidak jelas.
Kalaupun adu suara tentunya akan percuma saja.
"Aku, ingatkan ya Om. Kalau mau jadi dukun jangan tesnya ke aku dong!"
"Dukun?" Tanya Riki kebingungan.
"Iya, dukun yang suka nyembur!"
Riki tak perduli apa itu dukun yang di maksud ataupun apa lagi yang akan dikatakan oleh Vanya, dirinya hanya ingin membahas kopi aneh buatan manusia yang juga tidak kalah aneh.
"Cepat minum kopi ini!"
"Minum? aku, nggak suka ngopi Om." Tolak Vanya dengan tegas.
Sejak kapan seorang Vanya bisa tertindas, maaf tidak pernah bisa. Dan kali ini pun tidak.
Vanya adalah wanita hebat.
"MINUM!" Titah Riki tanpa ingin di bantah sama sekali.
Vanya pun tersentak, seketika nyalinya menciut.
Padahal barusan sudah sangat yakin untuk menentang perintah Riki.
Hingga akhirnya memilih untuk menuruti keinginan Riki.
Tapi bukan Vanya namanya kalau hanya menurut saja tanpa ada bantah lagi dan lagi.
__ADS_1
"Om, kenapa harus di minum....." Vanya pun tersenyum kikuk saat melihat tatapan mata Riki semakin tajam saja, membuatnya segera meneguk kopi buatannya sendiri.
Sesuai dengan perintah Riki, walaupun dirinya tidak mengerti untuk apa Riki memintanya menyicipi rasa kopi tersebut.
Namun tiba-tiba Vanya pun menyemburkan kopi di mulutnya, tepat mengenai kemeja Riki.
"OMG!" Vanya pun mendadak panik, melihat kemeja putih Riki yang kini sudah kotor.
"Kau!" Riki meremas tangannya, kesal sekali pada wanita ceroboh yang tak pernah melakukan sesuatu dengan benar.
Baru satu hari saja sudah membuat pusing, bagaimana jika satu bulan ke depan?
Akan tetapi Vanya harus tetap menjalani hukumannya, Riki harus membalas saat wanita itu mempermalukan dirinya di malam itu.
"Om, maaf," dengan panik Vanya pun mengambil kain untuk membersihkan pakaian Riki.
"Kain apa ini?" Tanya Riki melihat ada sesuatu seperti lendir yang menempel pada kemejanya.
Vanya pun seketika menyadari kain di tangannya, itu adanya sapu tangan milik Riki yang pernah digunakannya untuk membersihkan ingus beberapa saat lalu.
"Ya ampun, Om maaf. Itu ingusnya aku," Vanya pun cengengesan sambil menahan rasa tidak nyaman.
Riki pun semakin marah membuat Vanya menghentikan aktivitasnya yang sibuk membersihkan kemeja Riki.
"Tapi, aku yakin Om. Kalau kopi itu pakai gila," kata Vanya berusaha untuk membela dirinya.
"Gila?"
"Maksudnya gula Om, tunggu di sini Om!"
Segera Vanya mengambil toples berisi gula, kemudian menunjukkan pada Riki dengan rasa percaya diri.
"Lihat Om," Vanya pun menunjukan toples tersebut pada Riki.
Riki pun melihatnya namun matanya malah membaca sebuah tulisan.
"Micin."
Artinya Riki meminum kopi rasa micin, berapa sendok wanita itu memasukkan micin.
__ADS_1
Sampai saat ini pun lidahnya masih terasa aneh.
"Ini micin!"
"Micin?" Vanya pun melihat dan membaca tulisannya dengan jelas.
Kemudian mendongkak melihat Riki yang sedang menatapnya dengan dingin.
"Apa kau tidak bisa membedakan mana gula dan mana micin?"
"Om, maaf," Vanya pun tersenyum kikuk, dirinya merasa sulit untuk bernapas.
Baru pertama kali membuat kopi malah memasukan micin.
"Kenapa toples ini tidak berbicara," gumam Vanya dengan wajah yang memucat, kemudian segera pergi dari hadapan Riki.
Karena kalau toples itu berbicara semua ini pasti tidak akan terjadi.
Tapi apa?
Toplesnya hanya diam saja membiarkan dirinya terkena Omelan, padahal barusan sudah menunggu malah jatuh sebelum melayang.
Sakit sekali, ini namanya sudah jatuh malah tertimpa tangga dan dinding sekaligus.
Tapi melarikan diri adalah pilihan tepat, karena apa?
Karena dari tatapan Riki sepertinya akan menelannya hidup-hidup, bila saja lebih lama lagi di hadapannya.
Sungguh Vanya masih ingin nyawanya dan hidup lebih lama.
Sedangkan tawa Sela akhirnya pecah seketika itu juga.
Benar-benar hari yang aneh, serta membuatnya merasa terhibur.
"Ahahahha," Sela terus saja tertawa terbahak-bahak, semakin melihat wajah Riki yang menegang semakin membuatnya merasa lucu.
"Wanita yang aneh," umpat Riki kemudian berlalu pergi.
"Vanya, dia memang sangat menggemaskan. Bila saja hari-hari ku bersama dia terus menerus, maka rumah ini akan lebih berwarna. Dia, sangat lucu," Sela masih saja mengagumi Vanya, baik dari kecantikan dan juga keceriaannya.
__ADS_1
Dalam hitungan menit saja semua bisa terjadi, sungguh tak ada kalimat yang lebih baik lagi selain dari kata mengagumi seorang Vanya.