
Haaaaatchihhhhh.....
Riki merasa semakin tidak nyaman saja, bahkan sampai bersin beberapa kali.
"Dasar jorok!" Kesal Felix yang sedang menikmati makanannya.
"Felix!" Nayla pun menegur putranya, kemudian beralih melihat Riki.
"Sepertinya kamu kedinginan, mungkin karena seharian ini terus saja berada dalam kolam renang," Nayla pun menatap iba pada Riki.
"Maaf Bunda," kata Riki sambil menggosok-gosok hidungnya.
"Tidak apa," Nayla segera meminta Bik Ina membuatkan secangkir teh hangat untuk Riki, hingga akhirnya secangkir teh pun tiba.
"Silahkan, Tuan," Bik Ina meletakkannya pada meja.
"Vanya, berikan Riki obat. Ya, sekalian minumnya di sofa saja biar lebih santai, berikan selimut juga agar lebih hangat," kata Nayla memberikan saran.
Karena dia tahu Riki merasa canggung bila ada Devan di dekatnya, wajar saja. Mengingat keduanya adalah calon mertua dan calon menantu.
"Siap Bunda," jawab Vanya dengan penuh semangat.
"Jangan ke kamar!" Tambah Felix.
Vanya pun beralih melihat Felix.
"Kenapa?" Tanya Vanya.
"Vanya, kalian belum menikah!" Tegas Devan.
"Dengar itu!" Kesal Felix.
"Hehehe, iya Ayah," Vanya pun cengengesan kemudian segera menuju ruang keluarga agar lebih santai.
"Ayo Kakanda, agar engkau bisa segera beristirahat," seloroh Vanya sambil cekikikan.
"Ada-ada saja ulah anak itu," kata Devan yang mendengarnya.
"Jadi, besok Bunda mau cari gaun pengantin ya Yah. Rencananya mau bareng Mamanya Riki," kata Nayla pada suaminya.
"Iya, tapi sepertinya aku takut jika anak kita nantinya malah menderita," Devan pun mengutarakan kekhawatirannya, bagaimana pun Vanya adalah putrinya.
Sebagai seorang Ayah pastinya selalu memikirkan keadaan putrinya, sungguh menakutkan jika harus merasakan sebuah ujian rumah tangga yang penuh dengan goncangan.
__ADS_1
Tidak ada rumah tangga yang baik-baik saja, Devan ragu untuk melepas anaknya karena nantinya pasti akan banyak rintangan di dalamnya.
"Tidak Yah, Riki itu baik. Lagian juga Jeng Sela sudah menceritakan tentang latar belakang Riki, Bunda rasa dia juga ingin bahagia," Nayla pun berusaha untuk menenangkan keadaan, membuat suaminya mengerti dan tidak lagi ragu akan hubungan Riki dan juga Vanya.
"Ya Yah, biarkan saja. Riki, tidak pernah lagi bermain wanita setelah bersama dengan Vanya. Karena, memang Vanya yang selama ini menjadi mainannya. Bagaimana bisa tidak menikahkan keduanya yang sama-sama tidak mau di pisahkan, Ayah mau kehilangan Vanya?" Tanya Felix, setelah penjelasannya.
Devan pun hanya menarik napas dengan berat, tidak mengerti mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
"Udahlah, Bunda juga nikah sama duda," kata Nayla sambil cekikikan.
Devan langsung menatap ke arah Nayla yang berkata demikian.
"Dulu kita nikah duda dan janda, kan? Nikah dulu, terus aku jadi janda, abis itu baru nikahin lagi. Sama aja, aku juga nikah sama duda namanya, dua kali pula," seloroh Nayla diselingi tawa kecil.
Lucu saja jika mengingat sebuah masa lalu yang begitu luar biasa.
Berikut dengan rintangan-rintangaanya yang teramat sangat mengerikan, beruntung semua bisa terlewati
"Selamat malam," terdengar suara kehebohan dari arah belakang tubuh Nayla.
Membuat Nayla pun segera melihat asal suara yang cukup dikenalnya itu.
Siapa lagi kalau bukan.
"Reyna!" Seru Nayla penuh dengan kebahagiaan.
Begitu juga dengan Nayla yang langsung bangkit dari duduknya dan mengejar Reyna.
Keduanya pun berpelukan penuh dengan kerinduan, sebab cukup lama tidak bertemu karena Reyna ikut dengan Nanda yang kini menjadi Kapolda di luar Jakarta.
"Ayang aku, apa kabar?" Tanya Reyna penuh dengan kebagian.
"Ya ampun Reyna, kamu gemukan?" Tanya Nayla.
"Aku hamil," kata Reyna dengan senyuman penuh kebagian.
"Kamu hamil?" Tanya Nayla yang begitu shock.
"Namanya tokcer," kata Reyna lagi yang terus saja tersenyum.
"Ya ampun Reyna," Nayla sampai geleng-geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Ahahahhaha," Reyna pun tertawa lepas karena berhasil membohongi Nayla.
__ADS_1
Mana mungkin itu terjadi disaat sudah memiliki menantu, itu sungguh sangat mengerikan.
"Umi, hamil?" Tanya Vanya yang mendengar keributan dan langsung menuju ruang makan, benar saja ada Reyna di sana.
"Ahahahhaha, kamu tunggu apa lagi? Menikah sana, biar bisa..." Mulut Reyna pun langsung di tutup oleh Nayla, sahabatnya itu memang selalu konyol.
Sudah pasti akan ada hal konyol yang terdengar jika Nayla tidak menutup mulut Reyna dengan segera.
"Mulut!" Kesal Nayla.
"Hehe maaf," Reyna pun menyadari kebodohannya, karena dirinya hampir saja berbicara dengan sesukanya.
Tapi bagaimana dengan Vanya? Bukan Vanya namanya jika tidak bisa membuat orang sekelilingnya pusing seribu juta kali keliling
"Biar bisa apa, Tante?"
"Sudahlah, anak kecil tidak perlu tahu," kata Reyna.
"Ye, si Umi Tante Reyna aneh. Aku udah mau nikah. Enak aja dibilang anak kecil. Nanti kalau aku udah nikah, Tante Reyna kasih hadiah," kesal Vanya.
"Hadiah apa?" Tanya Reyna penasaran.
"Hadiah adik bayi!" Pekik Vanya.
"Ahahahhaha," Reyna langsung tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya.
Sementara yang lainnya malah memijat kepalanya, sebab Reyna dan Vanya memang satu frekuensi.
Sehingga jika keduanya bertemu bisa menimbulkan sebuah huru-hara yang berkepanjangan bahkan tidak ada hentinya, dan ini contohnya.
"Nanda, kita cari ruangan lain," kata Devan mengajak Nanda untuk pergi ke tempat lainnya dari pada bergabung bersama wanita-wanita aneh tersebut.
"Sayang, Mas juga mengundurkan diri," pamit Felix pada Cahaya.
Sebab dirinya bisa jadi seorang wanita jika bergabung bersama dengan para wanita-wanita rempong itu.
"Dasar laki-laki," umpat Vanya, kemudian kembali melihat Reyna.
"Tante, tunggu di sini. Biar aku panggil Rena," Vanya pun segera menuju kamar Kakak iparnya itu, mengatakan bahwa ada Reyna dan Nanda yang datang.
"Aku nggak ngerti ya Reyna, kenapa anak aku yang bungsu pecicilan banget kaya kamu, malahan anak kamu Rena yang kalem dan anggun banget," ujar Nayla.
Reyna pun tertawa mendengar perkataan Nayla, tetapi Reyna juga membenarkan semua itu.
__ADS_1
"Waktu hamil Vanya kamu selalu kesal sama aku, jadi deh anak kamu yang bungsu seperti aku!" Jawab Reyna.
"Dasar!" Kesal Nayla, tetapi tetap saja tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Reyna.