Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Jangan tanya itu lagi!


__ADS_3

Tau seperti apa perasaan Alex saat ini?


Sakit!


Pernyataan Jessica benar-benar membuatnya hampir tak bisa bernapas, sesulit itulah selama ini menjalani kehidupan ini. Sampai diposisi seperti ini pun harus memohon kepada seorang suami.


Tangan Alex sampai terasa kaku saat akan memeluk Jessica, rasanya begitu berat setelah apa yang didengarnya.


"Keadaannya yang tidak memungkinkan, aku akan tetap mencintaimu, menyayangimu, dalam keadaan apapun. Sekalipun kamu hanya memberikan satu anak untuk ku, Cahaya sudah lebih dari segalanya," ucap Alex.


Jessica menggeleng, bertahan dalam keputusan yang memang sangat menyulitkan.


"Katanya kama cinta, aku cuma minta mempertahankan anak ini. Tapi kamu tidak mau"


"Ini bukan cuma, Jessica, ini masalah serius!"


"Aku nggak mau."


Alex tidak mampu lagi berkata-kata, semua yang dikatakan tidak ada yang bisa membuat Jessica berhenti untuk tetap melanjutkan segalanya. Keputusan yang teramat sulit untuk dipilih.


"Kecil kemungkinan janin itu bisa tetap bertahan Jessica, bahkan bisa berdampak pada mu!"


"Aku nggak mau."


##########


Waktu terus berlalu, Jessica tetap bertahan dengan keputusan. Mempertahankan janinnya adalah pilihan, sekalipun dengan resiko yang tinggi.


Alex pun terpaksa mengikuti, sekalipun hati terasa sakit tiada terkira.


Hari ini Jessica dibawa pulang, Puput pun menyambut kepulangan menantunya dengan bahagia. Memasak banyak makanan, merayakan kepulangan Jessica.


Tapi taukah apa yang sebenarnya mereka rasakan?


Takut!


Ketakutan yang luar biasa seakan menusuk dada. Saat pikiran-pikiran buruk seakan menjadi bayang-bayang masa sakit yang tiba-tiba datang.


Bagaimana jika ternyata Jessica merenggang nyawa?


Bagaimana dengan Alex?


Lalu, bagaimana dengan Cahaya?


Bagaimana?


Cahaya adalah korban yang paling tersakiti, terluka dan kehilangan sosok Ibu.


Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sangat membingungkan diri.


"Sekarang kamu duduk dulu, Mama sudah masak banyak ini," Puput membantu Jessica untuk duduk di kursi meja makan, mengambilkan beberapa nasi dan lauk juga.


"Ayo dicicipi."


Jessica mengangguk sambil menatap banyak makanan di meja makan, tidak ada rasa ingin menikmati makanan tersebut.

__ADS_1


Hanya saja Jessica berusaha menjaga perasaan Puput yang sudah bersusah payah memasak untuk nya.


Sungguh terharu rasanya, Ibu mertua seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Alex!" Puput pun melihat putranya seperti sedang berada dalam dunianya yang lain, untuk menatap makanan saja tidak.


Hanya tubuhnya yang duduk di sini, sedang pikirannya berkeliaran entah kemana.


Mungkin ke langit ketujuh.


"Daddy kenapa?" Cahaya bertanya dengan wajah polosnya, bocah itupun melihat wajah Alex yang murung.


Alex mengelus kepala Cahaya, tersenyum pada putrinya itu.


Sesaat kemudian Alex pun bangkit dari duduknya, memilih untuk menyendiri tanpa ingin diganggu.


"Daddy lagi sariawan ya Mom?"


"Kok sariawan?"


"Kok nggak ngomong?"


Jessica pun hanya menghela nafas panjang, kemudian menyusul Alex yang kini berada di taman belakang.


"Mommy sama Daddy sama-sama sariawan ya Oma, makanya irit bicara?"


"Kamu makan ya," Puput pun menambahkan ayam goreng ke piring Cahaya, agar cucunya kembali fokus pada makanan nya.


Jessica melihat Alex hanya menatap lurus ke depan, pikirannya sepertinya masih saja pada kehamilan nya.


Bukankah seharusnya itu tidak perlu, mungkin hanya sekedar pelebur keheningan sore hari ini.


Alex pun memeluk Jessica, mendekap hangat tanpa ingin melepaskan lagi.


"Mommy, Daddy!" Cahaya pun menyusul kedua orang tuanya


"Anak Mom"


"Pelukan nggak ngajak-ngajak!" Cahaya pun kesal dan mengerucutkan bibirnya.


Alex mengangkat Cahaya, kemudian bergerak memutar seakan membuat putrinya tengah melayang.


Cahaya merentangkan kedua tangannya, bersorak gembira dengan wajah riangnya. Melupakan kemarahannya barusan dengan begitu saja.


"Dad!" Seru Cahaya kegirangan.


Jessica pun tersenyum, tidak kalah merasa bahagia melihat kebahagiaan putrinya.


"Mom, istirahat dulu ya," Jessica pun segera menuju kamar, dirinya yang merasa lelah rasanya ingin istirahat memulihkan tenaga yang hilang.


Belum juga jauh Alex sudah menyusulnya.


"Cahaya, dimana?"


"Katanya mau lanjutin makan," terang Alex.

__ADS_1


Kemudian mengangkat tubuh Jessica dengan segera.


"Aku bisa jalan sendiri," Jessica melingkarkan tangannya pada tengkuk Alex, tidak banyak membantah.


Pikiran Alex sudah cukup berat dengan janinnya, Jessica tidak ingin menambahkannya lagi.


Sampai akhirnya Jessica pun diturunkan di atas ranjang, pun Alex belum juga pergi.


Memilih memeluk Jessica tanpa ingin meninggalkan sendiri.


Alex benar-benar takut bila keadaan Jessica tiba-tiba memburuk.


"Kamu nggak kerja?"


"Aku ambil cuti selama satu tahun."


Jessica terkejut mendengarnya, untuk apa selama itu.


"Cuti? Kenapa?"


"Ini sudah keputusan ku, aku ingin menjaga mu selama 24 jam!" Tegas Alex tanpa ingin dibantah.


Jessica tidak berani bertanya lagi, apa lagi meminta Alex segera bekerja, takut malah Alex tersinggung.


Jessica pun ingin membuat Alex merasa nyaman, memeluk dengan erat saat berbaring di atas ranjang.


"Kamu kok, nangis?" Tanya Jessica melihat Alex.


"Dasar cengeng!" ucap Jessica lagi.


Alex mencium kening Jessica dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Alex"


"Em?"


"Kalau misalnya nanti aku bisa lahiran dan sehat, kamu bakalan kasih kado nggak buat aku?"


"Memangnya kamu mau apa?"


"Nggak ada sih, cuma kalau aku nggak ada lagi, kamu bakal menikah lagi atau tidak?"


Alex pun merasa kehilangan moodnya, padahal baru saja lebih baik.


Segera Alex bangkit, tapi Jessica menahan lengannya.


"Aku salah tanya ya? Maaf," tutur Jessica penuh rasa bersalah.


"Sekarang tidur, jangan banyak bicara!"


"Pengen dipeluk kamu."


Setelah sejenak terdiam, Alex pun mengangguk setuju, tidak tega melihat wajah Jessica yang begitu mengharapkan.


"Jangan tanya itu lagi!"

__ADS_1


"Iya, janji."


__ADS_2