Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mimpi buruk yang sangat mengerikan...


__ADS_3

"Kau harus merawat ku, sampai aku sembuh dan jika aku di kantor kau harus menemani Mama ku di rumah, kau setuju?"


Tanpa banyak pertimbangan Vanya pun mengangguk setuju, asalkan tidak melakukan hal yang negatif tentunya itu lebih baik.


"Mau Om, aku mau."


"Hapus air mata mu!"


Vanya pun mengusap air matanya dengan kemejanya.


Riki merasa sikap Vanya benar-benar seperti anak-anak, bagaimana bisa bocah itu berpikir untuk coba-coba bersenang-senang di club malam.


"Lap pakai ini!" Riki pun memberikan sapu tangan miliknya.


Vanya menerimanya kemudian mengusap air matanya, bukan hanya air mata saja. Melainkan juga membuang ingus dengan suara kerasnya.


Riki malah merasa jijik karena apa yang dilakukan oleh Vanya.


"Makasih Om," Vanya pun mengembalikan sapu tangan milik Riki setelah digunakannya.


Lagi-lagi Riki terperangah melihat apa yang dilakukan oleh Vanya.


Namun hanya bisa meneguk saliva dengan memegang sapu tangan miliknya yang baru saja digunakan oleh Vanya.


"Cuci dulu! Setelah itu baru kembalikan!"


Vanya pun kembali menerima sapu tangan milik Riki, kemudian mengangguk.


Ada apa dengan mata wanita ini? Kenapa aku tak bisa menghinanya' Riki pun membatin.


"ikut aku!" segera menuju pintu keluar.


Tetapi Vanya masih saja berdiri dalam bingung ditempatnya.


"Hey, ada apa? Kau mau aku lepaskan perawan mu di sini?" Tanya Riki penuh kemarahan.


Membuat Vanya mengeleng kemudian segera berlari menuju pintu dan juga keluar dari apartemen tersebut.

__ADS_1


Riki terus saja berjalan, sedangkan Vanya mengikuti dari belakang.


Langkah kakinya yang kecil membuatnya harus berjalan cepat untuk menyusul Riki.


Sesaat kemudian keduanya pun menuju kediaman Riki. Membawa Vanya pada Sela.


"Riki, kamu membawa siapa?" Sela yang sedang berada di teras tersenyum saat melihat putranya membawa seorang wanita.


Sela berharap wanita tersebut adalah calon istri Riki, sebab Sela sudah sangat ingin menimang cucu.


"Ma, dia..." Riki pun terdiam sejenak sambil mengingat siapa nama wanita tersebut, padahal sudah beberapa kali wanita itu menyebutkan namanya.


Benar-benar tidak mengingatnya, apa lagi mereka belum berkenalan sama sekali.


"Vanya, Tante," Vanya langsung mengulurkan tangannya pada Sela.


Membuat hati Sela terasa dingin, jarang sekali menemukan wanita sopan seperti Vanya.


Begitu juga dengan Riki yang terkejut melihat kesopanan Vanya.


"Ma, dia akan bekerja di sini. Selama satu bulan ke depan untuk pertanggung jawaban dan akan menemani Mama di rumah ini," jelas Riki mengutarakan tujuannya.


"Bekerja?" Pupus sudah harapan Sela yang menginginkan hal lainnya, padahal sudah berharap banyak pada wanita asing di hadapannya.


"Mama, butuh teman saat di rumah. Itu yang aku dengar."


"Riki, maksud Mama..."


"Aku sudah berusaha untuk tetap membahagiakan Mama, tolong hargai aku!"


Sela pun terdiam, tak ingin memperpanjang masalah.


Hingga dirinya pun mengangguk menuruti apa yang dikatakan oleh anaknya, lagi pula dirinya memang membutuhkan seorang teman.


"Om, aku nggak bisa nginep ya. Soalnya nanti Ibu nyariin," kata Vanya dengan suara yang hati-hati.


Riki pun menarik lengan Vanya, membawanya menjauh dari Sela yang tampak penasaran pada apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya.

__ADS_1


"Ingat, jangan pernah sekali-kali mencoba untuk melarikan diri! Atau kau akan aku penjarakan!" Ancam Riki sambil terus mencengkram erat tangan Vanya.


Wajahnya begitu tegang dipenuhi kemarahan.


"Iya, Om. Janji, aku nggak akan lari dari tanggung jawab, sakit Om," mata Vanya berkaca-kaca menahan sakit pada tangannya.


Membuat Riki pun perlahan melepaskan, setelah merasa yakin bahwa Vanya benar-benar tidak kemana-mana.


"Bagus!"


Vanya pun memegang pergelangan tangannya yang memerah, rasa nyerinya masih saja terasa.


"Vanya, Riki, kalian kenapa?" Tanya Sela dari kejauhan yang dari tadi tampak penasaran.


Riki pun memilih diam tanpa menjawab, namun saat itu Sela baru menyadari kepala Riki yang diperban.


Ini akibat penasaran pada wanita yang dibawa oleh Riki, hingga membuatnya tidak melihat jelas keadaan anaknya tersebut.


"Kepala kamu kenapa di perban?"


Tetapi Riki tidak menjawab sama sekali, melainkan hanya melayangkan tatapan tajam pada Vanya.


"Riki?" Sela masih menunggu jawaban Anaknya tersebut.


"Seseorang yang seharusnya masuk penjara!" Jawab Riki sambil menatap wajah Vanya dengan tajamnya.


Glek!


Vanya pun hanya bisa diam saat tahu Riki sedang mengatakan bahwa dirinyalah orang itu.


Sesaat kemudian Riki pun memasuki ruang kerjanya, tak ingin lebih lama berada di sana.


Vanya hanya diam di tempatnya, tak tahu harus melakukan pekerjaan yang dimaksud oleh Riki.


Tetapi paling tidak saat ini dirinya merasa lebih baik karena Riki tak merenggut keperawanannya.


Bayangkan saja jika sampai keperawanan hilang karena ulahnya sendiri? Tidak, itu adalah mimpi buruk yang sangat mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2