
"Kamu lihat ini?" Mata Ninda langsung melebar melihat tas branded keluaran terbaru milik Vanya.
"Ya ampun Vanya, kamu ngabisin 1 M cuma buat beli tas?" Ninda benar-benar tidak tahu seperti apa cara berpikir seorang Vanya.
Tetapi menurutnya uang sebanyak itu bisa untuk membangun rumah bahkan mungkin seharga dengan rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Itupun sudah dengan tanahnya sekaligus sedangkan Vanya hanya menggunakan untuk satu buah benda kecil.
"Aku rasa ini tidak wajar, lebih-lebih jika bisa untuk masuk ke dalamnya. Lah ini? Cuma berapa centimeter Vanya?"
Lagi-lagi Ninda menarik napas panjang sembari tangannya berusaha mengukur seberapa besar tas branded milik Vanya yang lagi-lagi tidak masuk akal baginya.
"Namanya membahagiakan diri sendiri."
Lihat saja wajah Vanya terlihat santai tanpa rasa beban sedikit pun. Sedangkan Ninda sudah hampir tidak bisa bernapas melihatnya saja.
"Orang kaya emang beda kalau orang seperti kami ini sudah bisa beli rumah Vanya!" Terang Ninda lagi.
Dirinya bingung seperti apa cara menjelaskan pada Vanya betapa berharganya bagi mereka uang sebanyak itu
Tapi mau bagaimana lagi pada dasarnya Vanya sudah terbiasa dengan kemewahan. Jadi, uang sebanyak itu tidak ada yang salah untuk membeli benda kecil saja.
"Siapa bilang kamu orang biasa, kamu itukan Oma aku," celetuk Vanya.
Ninda sejenak terdiam kemudian tertawa terbahak-bahak mengetahui maksud ucapan Vanya.
"Ahahahhaha," Tawa Ninda semakin menggelegar saja dan sulit untuk menghentikannya.
"Semoga aja suatu saat aku bisa sekaya Oma kamu, suatu hari nanti," tambah Ninda dengan penuh harap.
"Eh, tapi aku juga punya sesuatu buat kamu!"
"Apa?"
Ninda di buat hampir tidak bisa bernapas karena Vanya membelikannya tas seharga Rp 100.000.000.00
"Vanya? Kamu serius ini buat aku?"
"Iya, kamu nggak suka?!!"
"Suka, cuma harganya mahal banget ini bisa buat biaya hidup aku beberapa tahun"
"Udah, nggak usah pikirkan harga. Kan ini juga pakai uang Om Riki."
"Dasar kamu! Jodoh baru tahu!"
"Amit-amit!"
"Aku serius!"
__ADS_1
"CK, tidur yuk!"
#############
Pagi hari nya Vanya begitu bersemangat karena dirinya akan memakai tas baru miliknya yang seharga 1 M itu.
Dress berwarna hitam melekat indah di tubuhnya, bersiap-siap untuk pergi bekerja sesuai dengan keinginan Riki yang akan menjadikan dirinya sebagai seorang Asisten dadakan.
Tidak masalah waktu yang tersisa hanyalah sembilan hari lagi, setelah itu Vanya akan kembali ke rumah kedua orang tuanya menjalani hidup seperti semula.
Vanya pun begitu menikmati saat-saat ini yang hanya tersisa dalam hitungan hari.
"Ninda, aku berangkat ya!" Seru Vanya.
Sedangkan Ninda masih saja terlelap karena dirinya hari ini hanya di rumah saja.
Baru juga Vanya keluar dari rumah tapi sudah melihat seseorang yang menunggunya di teras.
Siapa lagi kalau bukan Rangga, tatapan mata Vanya begitu tajam. Menunjukan kebencian yang begitu luar biasa, tanpa ingin perduli Vanya pun memilih untuk segera pergi. Muak sekali untuk melihat wajah Rangga, apa lagi untuk berbicara. Benar-benar menjengkelkan.
Namun, siapa sangka ternyata Rangga menahan langkah kakinya dengan cara memegang lengannya.
"Vanya, aku ingin menjelaskan sesuatu pada mu," Rangga berharap Vanya mau mendengarkan penjelasannya, sebab Rangga sadar bahwa Vanya adalah wanita yang benar-benar sempurna di matanya.
Sementara Vanya tidak ingin perduli sama sekali, memilih untuk menghempaskan tangan Rangga. Namun, tidak bisa sebab Rangga memegang dengan eratnya.
"Rangga sakit!"
Tak berselang lama Riki pun datang, seketika Vanya meminta bantuan kepada duda lapuk itu.
Tatapan tajam mata Riki tertuju pada tangan Rangga yang memegang erat tangan Vanya, tanpa bicara sama sekalipun sudah membuat Rangga melepas tangan Vanya.
"Ish! Sakit banget sih!" Vanya pun melihat pergelangan tangannya yang memerah karena ulah Rangga.
"Vanya, dengarkan aku."
"Nggak! Ngomong aja sama pacar aku!" Kata Vanya dengan suara keras. Membuat Riki terkejut mendengarnya, hingga hati Riki begitu bahagia atas pengakuan Vanya barusan.
Kurang ajar!
Hari Riki mendadak menjadi aneh dan ingin terbang dengan tingginya.
Inikah yang di namakan dengan jatuh cinta? Riki seperti anak baru gede saja saat ini. Meskipun demikian tak ada yang menyadari senyum samar itu.
"Kakanda, katakan sesuatu padanya," Vanya pun memeluk lengan Riki dan ingin mendengarkan sebuah kata yang membuat Rangga menjauh dari dirinya tanpa terkecuali.
Kakanda?
__ADS_1
Aneh dan unik membuat Riki semakin gila saja. Vanya memang sangatlah berbeda dari gadis lainnya.
"Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menemui Vanya karena kami akan menikah!" Papar Riki.
"Apa?" Malah kali ini Vanya yang shock mendengarnya tetapi sesaat kemudian Vanya pun mengangguk.
Namun, percayalah itu hanya karena merasa sedang ikut dalam permainan Riki, apa lagi saat Riki menggerakkan alisnya. Jadi, Vanya pikir itu hanya sebuah tipuan saja untuk mengelabui Rangga.
Meskipun tipuan juga sebenarnya Vanya sangat tidak menyukainya, tetapi bagaimana lagi. Riki terlanjur berkata demikian dari pada cekcok terjadi dan membuat Rangga tidak percaya lebih baik diam saja dan mengikuti setiap perkataan Riki. Tetapi percayalah setelah itu akan ada perang yang terjadi di antara keduanya.
"Menikah? Kamu semudah itu melupakan aku?" Rangga pun tak percaya saat ternyata Vanya begitu mudahnya melupakan dirinya.
Hati Rangga sungguh terluka, awalnya berpikir kesempatan kedua memang ada.
Namun apa? Tidak sama sekali.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" Bahkan ingin sekali Vanya mencongkel kedua bola mata Rangga, kemudian menjadikannya sebagai pajangan.
Sebab apa yang di lakukan oleh Rangga sungguh sangat keterlaluan. Menyakitkan hati bukanlah hal mudah di mengerti oleh seorang Vanya.
"Ayo, Kakanda ku. Adinda sudah ingin pergi karena tidak ingin melihat batu bata ini!" Pinta Vanya sambil terus memeluk lengan Riki semakin eratnya.
Ya ampun, bocah kurang ajar itu tidak menyadari sama sekali bahwa Riki semakin tidak ingin melepas dirinya. Semakin bertingkah laku konyol, maka semakin membuat duda lapuk di sampingnya jatuh cinta di buatnya.
"Vanya!" Rangga pun berseru memanggil nama Vanya, sayangnya tak di pedulikan sama sekali.
Vanya pun segera masuk ke dalam mobil milik Riki hingga mobil pun melaju dengan Riki sendiri yang mengemudikannya.
Tetapi malah tiba-tiba Vanya mengetuk kepala Riki.
"Apa kau gila?" Riki membalasnya dengan mengetuk kepala Vanya juga, sebab ada apa dengan wanita aneh itu.
Apa kesalahannya sehingga berbuat tak sopan.
"Om! Kenapa barusan bilang sama Rangga kita mau nikah? Enak aja kita mau nikah meskipun cuma bohong, aku tetep nggak suka ya!" Vanya yang geram pun akhirnya mengeluarkan segala kekesalannya, dari pada di pendam dan malah Riki lagi-lagi melakukan hal yang sama nantinya tentunya akan lebih membuatnya marah.
"Dasar bocah tengil, sudah di tolong tidak tahu diri! Kau mau dia terus datang untuk menemui mu?"
Riki pun melayangkan tatapan tajam membuat Vanya pun meneguk saliva dan menggelengkan kepalanya.
"Jawab!"
"Nggak Om!"
"Bagus!"
Vanya pun memanyunkan bibirnya, kemudian melihat ke depan tanpa ingin melanjutkan pembahasan mereka yang cukup konyol.
__ADS_1
Benar-benar sepanjang perjalanan menuju kantor keduanya hanya diam saja, tepatnya hanya bibir Vanya yang diam. Sebab suara musik dangdut tetap saja menggelegar.
Riki hanya diam saja, membiarkan apapun yang ingin di lakukan oleh Vanya. Percuma saja melarang, sebab hanyalah sia-sia saja.