
Alex tidak mengerti dengan Jessica, ada banyak kejanggalan yang terasa. Sampai dirinya sendiri tidak diinginkan masuk
Ada apa?
"Alex, kamu kenapa?" Puput membuyarkan lamunan Alex saat akan memasuki rumah.
Alex pun sejenak menghentikan langkah kakinya, kemudian menatap Puput yang menunggunya untuk berbicara.
"Jessica mana?" Lagi-lagi Puput melayangkan pertanyaan, melihat menantunya tidak juga turun dari mobil setelah Alex.
"Jessica di rumah Kak Rara Ma, dia tidak mau pulang"
Wajah Alex yang murung tidak dapat ditutupi, kebingungan akan sikap Jessica benar-benar menyimpan pertanyaan besar.
"Kamu ribut sama Jessica? Kamu memukulnya lagi? Atau memakinya?" Puput merasa tekanan darahnya mendadak naik, pikiran-pikiran buruk pun kian menjadi-jadi.
Jessica tidak akan pergi jika tidak disakiti, jika saja itu benar maka Puput orang pertama yang dihadapi oleh Alex.
Belum lagi Jessica sedang mengandung cucu keduanya.
"Nggak Ma, aku juga tidak tahu kenapa dia begini."
"Kamu yakin?" Tanya Puput penuh intimidasi.
"Mungkin dia ingin menginap di rumah itu karena memang itu rumah mendiang kedua orang tuanya, mungkin dia sedang rindu dan mungkin juga bawaan janinnya," terang Alex.
Sebenarnya Alex juga bingung, sehingga menyimpulkan dengan sendirinya. Padahal hati bimbang, bertanya-tanya tanpa hentinya.
"Iya sih, asal jangan kamu kasar sama dia. Dia cuma punya Kakaknya dan kita. itu saja!" Puput pun segera pergi, menuju kamar untuk beristirahat.
Alex pun melanjutkan langkah kakinya menunju kamar, terasa sepi kamar tersebut tanpa Jessica.
Biasanya ada penyemangat saat lelahnya, Jessica seketika tersenyum membuatnya terasa lebih baik.
Alex pun berjalan menuju laci, mencari sesuatu yang mungkin menunjukkan tentang penyebab keanehan istrinya tersebut. Sayangnya tidak menemukan apa-apa, bahkan sudah membuka semua tempat yang menurutnya sebagai tempat penyimpanan.
Alex pun duduk pasrah, dan meyakini tidak ada yang disembunyikan oleh Jessica.
Mungkin itu murni faktor kehamilan saja, ditambah Alex yang terlalu berlebihan dalam menanggapi.
Alex pun menuju lemari, mengambil sebuah handuk untuk digunakan selesai mandi.
Tetapi, ada benda yang terjatuh. Beberapa kertas, hingga Alex pun berjongkok dan melihatnya.
Sebuah hasil USG beberapa hari yang lalu, Alex pun terdiam sejenak.
Kemudian membuka selembar kertas yang berada dalam amplop putih.
Seakan dunianya runtuh begitu saja, Alex kembali melihat gambar USG ditangannya.
__ADS_1
Keadaan Jessica jelas tidak baik-baik saja dan rahasia tersebut disembunyikan sendiri.
Air mata Alex menitih begitu saja, sulit dipercaya atas apa yang diketahuinya.
Sampai akhirnya suara ponselnya berdering, Alex pun menerimanya.
Mendengar suara seseorang menjerit memanggil Jessica.
"Halo!" Alex mencoba untuk berbicara, tetapi mendadak panggilan pun terputus.
Dengan melompati sofa Alex pun segera menyambar kunci mobilnya, kemudian segera menunju kediaman Kakak iparnya Rara.
Tidak tahu entah berapa kecepatan laju mobilnya, tetapi Alex sampai dengan begitu cepat.
Masuk ke dalam rumah tanpa ijin, dan segera menuju kamar.
Pintu yang terbuka memperlihatkan Jessica yang terkapar di lantai, Rara berteriak sambil menangis melihat keadaan Adiknya.
"Jessica bangun!" Seru Alex yang kini mendekati Jessica.
Rara pun baru sadar kehadiran Alex, sedikit dirinya merasa bersyukur. Paling tidak Adiknya bisa langsung ditolong.
"Alex, Jessica seperti tidak bernapas," Rara gemetaran menahan rasa ketakutan.
Alex pun memeriksa Jessica, walaupun sebenarnya dirinya tidak fokus.
Jika menangani pasien lainnya Alex bisa tenang, namun jika menyangkut istri tentu pikiran menjadi bercabang dua.
Alex pun melihat tangan Jessica, kemudian menatap botol infus yang terbuang begitu saja di lantai.
Artinya dari tadi Jessica diinfus di sana, kenapa menyembunyikan segalanya.
Alex merasa suami yang tak berguna, untuk mendapatkan kepercayaan dari istrinya pun tidak bisa.
Sampai di rumah sakit Jessica pun sadar, membuka matanya menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Jessica, kamu sadar," Rara seketika memeluk Jessica, mata Adiknya yang sudah terbuka membuat perasaan lebih tenang.
"Kak, aku dimana?"
"Di rumah sakit," Alex pun menimpali.
Jessica pun mulai menyadari kehadiran Alex, ah sudahlah.
Tidak perlu berbicara ataupun bertanya, Alex pasti sudah mengetahuinya.
Lama keduanya diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Alex yang tidak berani terlalu banyak berbicara dan Jessica yang takut Alex memilih untuk mengangkat janinnya.
__ADS_1
Sungguh keduanya berada dalam keadaan yang yang begitu menyulitkan.
"Kenapa kamu tidak mengatakan ini dari awal?" Alex pun memberanikan diri bertanya, berharap Jessica mau menjawab.
"Aku pernah ingin mengatakannya, tapi kamu terlebih dahulu berbicara soal anak. Meminta anak lagi, aku tidak tega mengatakan itu semua. Itu hanya menghancurkan perasaan mu," jawab Jessica dengan suara lemahnya.
Alex mengusap air matanya, sulit dimengerti tapi Alex merasa dialah penyebabnya.
"Apa itu alasan kenapa kamu meminum pil KB?" tanya Alex.
Jessica pun mengangguk lemah.
"Aku meminumnya sampai waktunya aku mengatakan keadaan ku, tapi semua sudah terlanjur."
"Andai saja aku tidak mengganti pil itu!" Alex pun meninju dinding, merasa kesal pada apa yang sudah dilakukan.
"Alex," Jessica pun mendudukkan tubuhnya yang lemah.
"Aku tidak apa-apa, aku bisa melahirkan anak ini dengan selamat. Saat hamil untuk Cahaya lebih sakit dari ini dan aku tetap baik-baik saja," kata Jessica meyakinkan agar Alex tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku memang suami yang gagal!"
"Ini bukan salah mu, aku yang memang sudah begini."
"Aku tidak bisa kehilangan mu, keputusan terbaik adalah mengangkat janin itu. Kita sudah punya Cahaya, itu sudah lebih dari cukup. Aku minta maaf sudah meminta anak lagi dari mu," tutur Alex dengan nada bicara pelan agar Jessica mau mengerti.
"Aku nggak mau, dia sudah tumbuh di rahim ku. Artinya dia berhak hidup, kenapa harus merampas hak nya?"
"Aku takut kehilangan mu."
"Aku pun tidak mau kehilangan anak ku!" ujar Jessica dengan kerasnya. Alex hanya mampu menarik napas, entah apa yang harus dilakukan saat ini.
Jessica masih dengan kerasnya pendirian, tanpa bisa dicegah.
Sedangkan dirinya pun merasa menjadi suami yang tidak berguna sama sekali.
Alex pun mendekati Jessica, berharap Jessica mau untuk menerima keputusannya.
"Aku mohon Jessica," Alex menyisir rambut Jessica, berharap saat ini menuruti keinginannya.
Jessica menggeleng.
"Aku nggak mau," Jessica memeluk Alex dengan eratnya, masih dengan kerasnya.
"Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku pasti akan baik-baik saja, aku sudah pernah melewati semua ini. Aku mohon percaya pada ku, aku mohon."
Alex lemah saat Jessica memohon padanya, kenapa kini Alex begitu lemah dan tidak bisa lagi berkata-kata.
__ADS_1
Sungguh hanya memeluknya saja bisa meruntuhkan segala sesuatunya.
"Kali ini saja kamu mengabulkan keinginan ku, lagi pula aku ingin merasakan menjadi seorang istri yang semestinya. Aku juga ingin merasakan kamu ada saat aku hamil begini, tolong kasihanilah aku Alex, aku ingin merasakan semua yang dirasakan wanita bersuami diluar sana," papar Jessica penuh permohonan.